My tee five bucks my jeans 1000 won. Lirik lagu yang dipopulerkan oleh CORTIS terasa bagai ajakan untuk membeli pakaian bekas atau akrab disebut thrift yang umumnya hanya menghabiskan sedikit isi dompet. Kegiatan thrifting memang mulai digandrungi oleh sebagian besar generasi Z untuk menambah koleksi pakaian di lemari.
Kota Bandung sejak lama memang sudah dikenal sebagai surga pakaian sehingga tak sulit untuk mencari tempat thrifting dengan harga miring. Pasar Cimol Gedebage merupakan salah satu lokasi thrifting di Kota Bandung yang terkenal menawarkan berbagai jenis mode fesyen terjangkau. Pengunjung dapat menyusuri setiap sudut pasar dan akan disapa oleh teriakan pedagang yang mengajak mereka untuk berbelanja di tokonya.
Salah satunya adalah Ucup yang tengah mempromosikan dagangannya siang itu. Ucup merupakan salah satu pedagang pakaian thrift yang telah berjualan sejak 2021. Bermacam-macam pakaian dijejerkan di tokonya, seperti kemeja blouse, kaos lengan pendek, hingga kaos lengan panjang. Harganya jual yang ia tawarkan pun relatif murah, mulai dari Rp10.000 hingga Rp 35.000 disesuaikan dengan kualitas barang yang tersedia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ucup mengonfirmasi bahwa belakangan ini pelanggannya didominasi oleh kalangan generasi Z. Berdasarkan pantauannya, dalam sehari ia bisa menemukan lebih dari 10 gen Z yang berburu thrift di tokonya. Ia bahkan mengetahui selera pelanggannya. Salah satu busana yang digemari oleh gen Z adalah crop top.
"Tapi sebenarnya tergantung juga sih sesuai maunya mereka aja. Sedapatnya mereka juga belanjanya. Kadang ada yang dapat banyak, tapi ada juga yang cuma suka beli satu-dua potong aja," jelas Ucup saat diwawancarai Kamis (1/10/2026).
Selain harga miring, menurut Ucup salah satu alasan mengapa dagangannya kian digemari oleh gen Z adalah besarnya peluang pelanggan untuk berkreasi mencocokan pakaian satu dengan lainnya sesuai dengan selera masing-masing.
Hal tersebut dikonfirmasi oleh Christina asal Sumatra Barat, pelanggan yang tengah melakukan wisata thrifting di Pasar Cimol Gedebage. Menurutnya, belanja pakaian bekas memberikan kebebasan berpadu padan tanpa perlu merasa buru-buru.
"Lebih enak aja sih, kan kalau di mall agak enggak enak sama waitersnya. Kalau di sini kita mix and match penjual bakal nungguin kita," ucap Christina.
Jam terbang yang sudah matang membuat Christina memiliki banyak pengalaman dalam hal thrifting. Ia bercerita baru saja menemukan pakaian branded dengan harga miring, yaitu sekitar Rp35.000. Walau begitu, tak jarang pula Christina menyesal atas barang yang dibeli karena rupanya tidak cocok apabila dipadukan dengan koleksi pakaian miliknya di lemari.
Pengalaman serupa juga datang dari tiga mahasiswi generasi Z, yakni Lesta, Gadis, dan Leticia yang dijumpai saat tengah mengorek-orek dagangan milik Ucup. Menurut mereka, selain terjangkau pakaian thrift dapat digunakan berkali-kali dengan paduan yang berbeda. Leticia bahkan bercerita sering membeli pakaian thrift untuk tampil di acara tertentu.
Selain di pasar, mereka juga gemar berburu pakaian bekas melalui platform media sosial layaknya TikTok. Walau menawarkan kisaran harga yang serupa, berbelanja thrift secara daring perlu dilakukan secara hati-hati sebab pembeli tidak dapat langsung mengecek kondisi barang.
"Kalau di TikTok tuh kadang deskripsinya warna putih tapi yang dateng malah krem. Terus pernah juga nanya bajunya nge-crop gak? Kata penjualnya enggak, paling nge-boxy gitu. Taunya pas dateng malah crop banget. Enggak sesuai ekspektasi," ucap Gadis.
Demam thrifting di kalangan generasi Z rupanya tidak selalu mendatangkan keuntungan bagi penjual. Ucup bercerita walau banyak pelanggan yang berdatangan, pemasukannya tidak sebanding dengan beberapa tahun lalu ketika ia pertama berjualan.
"Tantangan jualan thrift ya kalo lagi sepi kayak gini. Namanya jual barang ya thrift gini ada risiko gak laku juga," ujar Ucup.
(yum/yum)
