Suasana di lantai tiga Cikapundung Electronic Center (CEC) terasa bagai kapsul waktu yang magis dan menenangkan. Hiruk-pikuk Kota Bandung seolah meredup, tergantikan oleh aroma khas kayu tua dan sayup-sayup musik lawas yang berputar dari piringan hitam. Harmoni ini menciptakan kontras yang tajam dengan ingar-bingar pusat barang elektronik modern di lantai bawahnya.
Di balik syahdunya nostalgia pada Rabu (30/9/2026) ini, sebuah revolusi senyap sedang terjadi. Pasar Antik Cikapundung tak lagi sekadar menjadi arena transaksi para kolektor paruh baya yang mencari nilai sejarah. Kini, lorong-lorongnya dipenuhi oleh anak muda, fotografer, dan desainer interior yang berburu estetika. Pergeseran demografi konsumen ini memaksa para pedagang kuno memutar otak, mereduksi narasi sejarah yang berat menjadi fungsi estetika demi memuaskan selera era digital.
Labirin Estetis Pemikat Darah Muda
Tanda peresmian Pasar Antik Cikapundung oleh Ridwan Kamil Foto: Nedzar Rabbany |
Setiap jengkal sudut kios di pasar ini dipadati oleh tumpukan "harta karun" lintas zaman. Mulai dari kamera analog, kaset pita, lampu retro, hingga mesin tik era kolonial tertata rapat, membentuk labirin estetis berlatar cahaya senja yang temaram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daya tarik visual inilah yang menuntun Alfa Rizki Kurmansyah (20), seorang pemuda asal Purwokerto, melangkahkan kakinya ke pasar tersebut. Menghabiskan waktu liburannya di Bandung, ia sengaja datang untuk berburu piringan hitam.
"Sebenarnya saya udah keliling ke banyak tempat sih, termasuk ke Astana Anyar juga udah. Nah, tapi barang yang saya cari tuh enggak ada. Nah, saya coba ke Cikapundung siapa tahu nemu barang yang saya cari," kata Alfa. Sebagai penikmat musik, ia merasa nyaman dengan suasana Cikapundung yang tenang serta para penjual yang interaktif saat diajak berbincang.
Menyiasati Badai Ekonomi dan Tren
Perubahan wajah pengunjung ini disadari betul oleh Pak Jojo, Ketua Komunitas Pedagang Barang Antik Cikapundung yang telah berjualan selama 13 tahun. Ia bertutur bahwa kondisi ekonomi pascapandemi membuat penjualan di sektor riil menurun tajam. Namun, pergeseran segmen pasar menjadi penyelamat.
"Dulu yang datang nyari barang-barang antik itu mungkin usia 40 tahun ke atas, 50, 60. Sekarang tuh justru yang datang Gen Z, milenial. Hampir 70 persen," tutur Jojo.
Kondisi ini menuntut adaptasi. Jojo yang awalnya murni menjual barang antik bernilai tinggi, kini mulai menyediakan barang yang lebih terjangkau, seperti kaset dan aksesori seharga Rp15.000, serta kaos. Sebagian pedagang lama tetap mempertahankan identitas barang etnik, sementara pedagang baru masuk membawa napas segar lewat tren thrifting (pakaian bekas) dan barang hobi.
Demi menjaga ekosistem agar tetap hidup, komunitas ini rutin menggelar First Weekend Sale pada akhir pekan pertama setiap bulan. Mereka mengundang pedagang dari luar untuk berjualan di Cikapundung agar terjadi pertukaran pasar dan saling mempromosikan sesama UMKM.
Sinergi Lintas Generasi di Lorong Pasar
Pintu Masuk Pasar Cikapundung Foto: Nedzar Rabbany |
Kehadiran pedagang bernapas muda diwakili oleh Ratna, pemilik kios "Cuss Goods". Berawal dari kejenuhan bekerja freelance dengan jadwal rapat yang padat, pada awal tahun 2026 ia secara spontan menyewa kios yang kebetulan kosong di Cikapundung.
"Mumpung tabungan masih ada. Ini harus diputerin nih daripada tabungan cuma dipakai buat kehidupan sehari-hari," ucap Ratna menceritakan alasannya membuka toko fisik.
Kiosnya menawarkan barang preloved dengan sistem konsinyasi yang kini telah dipercaya oleh 20 orang penitip. Ratna membangun sistem pembukuan transparan menggunakan spreadsheet sehingga pemilik barang dapat memantau penjualan secara real-time. Bersama pedagang muda lainnya, Ratna juga merapikan area kiosnya menjadi tempat nongkrong yang asyik bagi anak muda, lengkap dengan suguhan live music pada sore hari.
Menanti Kehadiran Negara
Di balik geliat adaptasi para pedagang, tersimpan kekhawatiran akan masa depan fasilitas publik ikonik ini. Pengelola Gedung CEC Cikapundung, Sutarto Hadi Pranoto, berkata bahwa saat ini terdapat sekitar 600 pedagang dari lantai rubanah hingga lantai tiga, menurun dari total 900 pedagang pada masa jayanya.
Sutarto berujar, pasar ini memiliki sejarah unik. Dulu, sebelum menjabat sebagai Wali Kota, Ridwan Kamil (Kang Emil) meminjam area kosong ini untuk mengakomodasi pedagang antik dari Cihapit dan Astana Anyar dengan fasilitas gratis selama satu tahun. Sutarto menyambut baik tren Gen Z yang datang untuk thrifting, namun ia berharap ada dukungan riil dari pemerintah.
"Harapannya pemerintah ikut partisipasi. Memfasilitasi ikut mempromosikan. Wisata-wisata bisa diarahkan ke sini," ujarnya.
Hal senada diungkapkan Jojo, yang berkata bahwa dukungan pemerintah sejauh ini hanya sebatas memasukkan nama Cikapundung ke dalam portal pariwisata daring tanpa ada pembinaan organisasi secara langsung.
Bagi para pedagang, Cikapundung kini bukan lagi sekadar tempat berniaga. Tempat ini telah berevolusi menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa dari berbagai universitas seperti ITB, Unpad, hingga Monash University Australia untuk meneliti penentuan harga barang antik dan konsep daur ulang (Go Green). Seiring sayup musik yang terus mengalun, Cikapundung membuktikan bahwa sejarah tidak harus selalu kaku; ia akan terus bernapas jika masyarakatnya bersedia merangkul kebaruan.
(yum/yum)


