Round-Up

Kejamnya Kakek Predator Anak di Sukabumi

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 23 Jul 2026 07:30 WIB
Ilustrasi. (Foto: Edi Wahyono/detikcom)
Sukabumi -

Pada Selasa (21/7) malam, suasana di salah satu kawasan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mendadak memanas. Warga beramai-ramai mendatangi area sekitar rumah MH (72), seorang kakek yang diduga tega mencabuli belasan anak di bawah umur. Aksi spontan warga ini terjadi setelah kedok pelaku terbongkar.

Ketua RW setempat, Hendra (52), menjelaskan bahwa kebejatan pelaku pertama kali terbongkar berkat cerita tidak sengaja dari salah satu korban saat mereka sedang mengikuti pengajian. "Pas di pengajian si anak itu teh nyeletuk, 'urang oge dikitukeun' (saya juga digituin). Akhirnya disampaikan ke orang tua," kata Hendra, Selasa (21/7) malam.

Sebelumnya, para korban memilih bungkam karena diancam oleh pelaku. Sebagai siasat, pelaku membungkam korban dengan memberi uang antara Rp2.000 sampai Rp5.000 disertai peringatan keras agar insiden tersebut dirahasiakan.

"Sebenarnya anak ini takut, sama si abah diancam 'ntong bebeja' (jangan ngomong) sambil dikasih uang. Itu pengakuan dari anak-anak, dikasih Rp5 ribu, dikasih Rp2 ribu," ujarnya.

Usai mendengar pengakuan itu, sekelompok ibu berinisiatif berkumpul guna meminta kejelasan duduk perkara. Berdasarkan pendataan awal yang dihimpun para orang tua, jumlah korban yang mulanya disangka hanya sedikit, ternyata kian bertambah.

"Tadi saya kumpulkan itu kan hanya para ibu (korban) saja, karena bapak-bapaknya ada yang lagi bekerja. Warga pabeja-beja (saling memberitahu) akhirnya berkerumun. Tadi kurang lebih di rumah ada 7 anak, ternyata berkembang karena tadi tidak datang semuanya. Dari si ibu yang korban ini dikasih catatan, ternyata ada 12 orang," jelas Hendra.

Sebagian besar korban merupakan anak perempuan di bawah umur, mulai dari usia pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), hingga menjelang sekolah menengah pertama (SMP). Berdasarkan keterangan para korban, tindakan asusila tersebut diyakini telah berlangsung sejak bulan Ramadan atau Februari 2026.

Menurut Hendra, terduga pelaku yang berumur 72 tahun ini sehari-harinya dikenal sebagai pribadi yang taat beragama dan aktif mengikuti kegiatan keagamaan. Pelaku merupakan pendatang asal Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, yang tinggal bersama anaknya di kawasan tersebut.

"Sehari-hari dia baik, suka berjemaah di masjid, ikut pengajian, aktif. Ibadahnya bagus, enggak tahu gimana, bisa seperti itu," tuturnya.

Aksi tidak senonoh itu diduga kerap dilakukan pelaku pada siang hari di sekitar area masjid, yang biasa dijadikan tempat bermain anak-anak. Pelaku sendiri sehari-hari sering nongkrong di pelataran, samping masjid, dan gardu.

"Tempat kejadiannya itu di depan masjid, seringnya, karena tempat anak-anak bermain. Halaman masjid, tapi kalau yang lainnya saya enggak tahu karena bapak ini nongkrongnya seringnya di samping masjid dan di gardu," ujar Hendra.

Meski demikian, aksi bejat ini sempat membuat warga sekitar terkejut. Pasalnya, keluarga dari anak pelaku dikenal sebagai orang baik dan dermawan di lingkungan tersebut.

Warga yang geram sempat berkumpul di area masjid untuk meminta kejelasan dari pihak keluarga pelaku. Pihak kepolisian pun sempat berada di lokasi untuk memastikan kondisi dan situasi tetap kondusif.

Di sisi lain, warga dan para orang tua korban dengan tegas menolak keberadaan pelaku di lingkungan mereka. Warga khawatir keberadaan pelaku akan memicu trauma berkepanjangan bagi anak-anak korban.

"Dari lingkungan itu keinginannya si bapak jangan tinggal di kita, karena dikhawatirkan trauma ke anak, sieun aya si abah (takut ada si abah), gitu lah bahasa anak. Menolak, karena setahu saya dia juga punya rumah, karena dia sendiri jadi sama anaknya," kata Hendra.




(wip/orb)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork