Pagi di Desa Tegalurung, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, mungkin tampak seperti pagi-pagi biasa. Kicauan burung-burung dalam sangkar yang ada di teras rumah warga, saling bersahutan mengiringi anak-anak yang bergegas menuju sekolahnya masing-masing. Kendaraan berlalu-lalang, bersamaan dengan aktivitas warga yang perlahan menggeliat.
Namun di antara rutinitas itu, ada perjuangan yang tidak selalu terlihat. Di depan MI (Madrasah Ibtidaiyah) Muhammadiyah Tegalurung, sebuah gerobak menjadi saksi bagaimana seorang lelaki bernama Mukmin berusaha mempertahankan hidupnya. Gerobak itu bukan sekadar tempat berdagang asongan. Baginya, gerobak adalah simbol kemandirian. Di dalam gerobak itu, terdapat perjuangan yang harus ia menangkan setiap hari.
Selain 'bertengger' di depan MI Muhammadiyah Tegalurung dari pagi hingga siang, sorenya ia berjualan di depan RA (Raudhatul Athfal) Hasan Bisri, Desa Tegalurung, Kecamatan Balongan. Di dua lembaga pendidikan swasta tersebut, anak-anak berkumpul, dan Mukmin menggantungkan harapannya di situ.
Kalau orang lain melihat sebuah motor roda tiga dengan gerobak berwarna hijau dan tulisan "WARUNG RODA KELILING PAK MUKMIN-06", yang mereka lihat hanyalah sebuah warung kecil. Tapi bagi Mukmin, ini adalah segalanya.
Rangkanya berbahan besi siku yang dilas mati, cat hijau memberi kesan kokoh. Atap dan penutup dagangannya terbuat dari aluminium, penutup itu ketika dibuka menjadi kanopi untuk berteduh dari panas terik matahari di Indramayu; daerah yang terkenal memiliki 'matahari kembar' atau 'dua matahari' mungkin karena saking panasnya. Sementara itu, etalase kaca yang bening di gerobaknya menahan debu jalanan agar dagangannya tetap bersih.
Di dalam gerobak kokoh tersebut, ia membawa harapan-harapan bagi kehidupannya: puluhan botol teh kemasan, air mineral, dan mi instan di rak bawah, rentengan kopi dan serbuk es tergantung rapi di tengah, dus-dus snack di atas, dan di bagian kompor bawahnya ada panci yang masih mengepul. Dari panci itulah menarik perhatian para pembeli.
Gerobak ini memberi napas panjang. Dibawa menggunakan motor roda tiga, Mukmin tidak perlu lagi menggendong barang dagangannya dan berjalan menggunakan kruk di jalanan yang tidak selalu mulus. Ia tinggal starter sepeda motornya, tarik gas, dan ia bisa berangkat menuju sekolah. Dengan begitu, ia bisa sejajar dengan pedagang lain.
Hari itu, Selasa (6/10/2026), ia sedang merapikan plastik hitam-putih di etalasenya. Tangannya yang cekatan menata dagangan. Tas selempangnya menyimpan pundi-pundi rupiah -uang receh dua ribuan hingga lima ribuan, dan uang pecahan besar dari pembeli- yang ia kumpulkan satu per satu. Di sampingnya ada boks merah tempat es batu, dan segelas kopi yang mungkin belum sempat ia minum karena sibuk melayani.
Gerobak bantuan dari Bazma RU VI Balongan ini bukan bantuan cuma-cuma. Ini adalah kepercayaan. Kepercayaan bahwa seorang difabel pun bisa menjadi kepala keluarga yang sejahtera, bukan dengan mengemis, tapi dengan berdagang. Setiap bunyi 'ngeng' dari motor roda tiga ini adalah bunyi kehidupan yang terus berjalan baginya.
Selama roda di motornya masih berputar, selama panci itu masih mengepul, dan selama dagangannya yang masih penuh terlihat dari kaca etalase, maka Mukmin masih punya cara untuk pulang ke rumah dengan percaya diri, dengan kepala yang tegak.
Bagi Mukmin, gerobak ini adalah cara Tuhan memberinya izin untuk tetap hidup bermartabat. Untuk sampai di titik ini, bagaimana semuanya berawal?
Awal Perjalanan
Mukmin, 58 tahun, merupakan seorang difabel asal Blok Kibuyut Gaplok, Desa Tegalurung. Sejak kecil ia menderita Polio (Poliomielitis). Kedua kakinya sangat lemah serta tidak berkembang sebagaimana mestinya, dan hingga kini harus menggunakan alat bantu untuk berjalan.
Keterbatasan fisik tidak pernah membuatnya memilih menyerah. Setiap hari, ia tetap berjualan secara asongan sejak 1986, tepatnya satu tahun setelah ia lulus dari SMEA (pendidikan setara SLTA).
Sejak awal, ia meniagakan dagangannya dengan berjalan kaki menggunakan tongkat atau kruk. Dengan langkah tertatih, ia berjalan menuju pusat keramaian di sekitar tempat tinggalnya, termasuk di depan sekolah dasar.
Memasuki tahun 2000, ia menggunakan gerobak yang telah dimodifikasi beroda tiga -hasil jerih payahnya mengumpulkan rupiah selama puluhan tahun- hal itu memudahkannya dalam berjualan, setidaknya tenaga yang dihabiskan tidak sebanyak sebelumnya.
Waktu terus berjalan dan gerobak yang selama ini digunakan kondisinya mulai rusak. Berbagai kesulitan datang lagi; dari laju roda yang melambat hingga bahan materialnya yang terbuat dari kayu mulai rapuh.
"Kayunya kalau dilihat dari dekat sudah tidak cokelat, sudah berwarna abu-abu kehitaman. Di bagian bawah, dekat roda, kayunya sudah lapuk termakan rayap dan hujan. Kalau ditekan pakai jempol, kayunya empuk, meninggalkan bekas. Bau tanah lembap sudah menyatu dengan kayunya," tutur Mukmin kepada detikJabar, Selasa (6/10/2026).
Selain itu, paku-pakunya sudah karatan. Banyak yang sudah tidak menggigit kayu lagi, sehingga diganti dengan kawat bendrat yang dililit berkali-kali. Di sudut kiri, sambungannya sudah renggang, menganga sekitar dua jari.
Dua rodanya sudah gundul. Benjol di satu sisi. Juga tampaknya ada sedikit masalah di tromol atau as roda, sehingga jalannya tidak lagi lurus tapi 'geal-geol'. Pedagang di sebelahnya sampai hafal, kalau dengar suara roda yang berdecit panjang itu, berarti suara gerobak Mukmin.
"Kalau ada suara roda, pasti itu gerobaknya Pak Mukmin, kata teman saya yang jualannya di sebelah saya. Dia sampai paham karena memang saya cukup lama berjualan dengan kondisi gerobak yang kayak gitu," ungkap Mukmin menjelaskan kondisi gerobaknya saat itu.
Di sela aktivitas berdagang, Mukmin juga membuat kerajinan sederhana yang dikerjakannya dengan ketekunan, yakni sapu ijuk, sapu lidi, dan kipas tradisional khas Indramayu yang dikenal masyarakat sebagai 'ilir'. Bagi Mukmin, hal itu bukan sekadar soal mendapatkan uang, melainkan cara ia menjaga harga diri.
"Alhamdulillah, meskipun saya kalau jalan menggunakan alat bantu, tapi tetap saya jalani dengan bersyukur. Bahkan ada yang menganggap saya seperti orang yang minta-minta (pengemis), padahal saya tidak mau minta-minta, saya tetap nggak mau dikasih. Karena saya pengen nyari duit dengan cara berdagang, bukan meminta," ujarnya.
Kalimat itu sederhana. Namun dari sana terlihat jelas bagaimana seorang lelaki dengan keterbatasan fisik memilih berdiri di atas kakinya sendiri, dengan cara yang ia mampu.