Tragedi Siswa PKL di Selat Makassar, Keluarga Menanti Kabar Rayhan

Tragedi Siswa PKL di Selat Makassar, Keluarga Menanti Kabar Rayhan

Devteo Mahardika - detikJabar
Rabu, 14 Okt 2026 16:33 WIB
Suasana haru di kediaman Reyhan Hermansyah
Suasana haru di kediaman Reyhan Hermansyah (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar)
Cirebon -

Isak tangis pecah di rumah keluarga Reyhan Hermansyah, siswa SMK Negeri 1 Mundu, Kabupaten Cirebon, yang hilang saat menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di perairan Selat Makassar. Sang ibu tak kuasa menahan kesedihan ketika sejumlah orang datang memberikan dukungan dan penguatan kepada keluarganya, Rabu (14/10/2026).

Dengan kepala tertunduk, ibu Reyhan berusaha menahan kesedihan di tengah doa yang dipanjatkan bersama. Namun, suasana haru tak terhindarkan ketika ia menangis dan berpelukan dengan anggota keluarga lainnya.

Di tengah ketidakpastian mengenai keberadaan putranya, kedatangan rombongan dari pihak sekolah, perusahaan kapal, pembimbing PKL, serta tim pencarian menjadi penguat bagi keluarga yang hingga kini masih menanti kabar tentang Reyhan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rombongan yang datang langsung dari Pati, Jawa Tengah, itu terlebih dahulu berkumpul di Balai Desa Japura Lor, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon. Mereka disambut Kuwu Japura Lor, Gufron bersama jajaran perangkat desa.

ADVERTISEMENT

Setelah berkumpul di balai desa, rombongan kemudian berjalan bersama menuju rumah keluarga Reyhan. Di sana, mereka menggelar doa bersama sekaligus menyerahkan santunan sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga siswa yang belum ditemukan tersebut.

Kuwu Japura Lor, Gufron mengatakan kunjungan itu melibatkan sejumlah pihak yang berkaitan dengan pendidikan Reyhan maupun penanganan pencariannya.

"Perkembangan untuk saat ini, pihak-pihak terkait dari sekolah, Basarnas, Polairud, Polres Pati, terus dari pembimbing PKL dan dari perusahaan hadir ke kami. Dan kami antar ke rumah keluarga Ananda Reyhan. Di situ kami ada kegiatan doa bersama dan memberikan santunan," ujar Gufron saat ditemui di balai desa.

Orang Tua Masih Syok Berat

Di balik doa dan dukungan yang diberikan, keluarga Reyhan masih harus menghadapi kenyataan pahit berupa ketidakpastian mengenai nasib anak mereka.

Gufron mengungkapkan, kondisi orang tua Reyhan masih sangat terpukul. Kesedihan mendalam membuat mereka belum bisa diajak berbincang panjang karena masih terus teringat dengan putra mereka yang hingga kini belum ditemukan.

"Ya, kalau keluarga, orang tua Ananda Reyhan sampai saat ini masih syok berat. Belum bisa kami ajak ngobrol, karena masih teringat selalu dengan Ananda Reyhan," jelasnya.

Suasana haru terlihat sepanjang pertemuan di rumah keluarga tersebut. Sejumlah orang duduk bersama keluarga, berusaha memberikan nasihat dan semangat agar mereka tetap kuat menghadapi situasi yang sulit ini.

Tangisan ibu Reyhan kembali pecah ketika anggota keluarga merangkul dan berusaha menenangkannya. Pelukan demi pelukan menjadi bentuk dukungan di tengah penantian yang belum berujung.

Hingga saat ini, keberadaan Reyhan masih belum diketahui. Keluarga pun berharap upaya pencarian terus dilakukan hingga ada kepastian mengenai nasib siswa tersebut.

Berharap Pencarian Tak Berhenti Setelah Tujuh Hari

Gufron mengatakan, proses pencarian Reyhan mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) selama tujuh hari. Meski demikian, pemerintah desa berharap batas waktu tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan upaya pencarian.

Menurutnya, pemerintah desa akan terus memantau perkembangan di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar pencarian tetap menjadi perhatian bersama.

"Kalau sesuai SOP itu kan tujuh hari. Tetap kami minta sebagai Pemerintah Desa terus memonitor sampai ketemu, sampai adanya berita yang baik," katanya.

Ia juga menyampaikan kekhawatiran keluarga apabila pencarian dihentikan setelah masa tujuh hari berakhir. Karena itu, keluarga berharap seluruh pihak tetap berupaya menemukan Reyhan meskipun masa pencarian sesuai SOP telah terlewati.

"Harapan pihak keluarga, setelah sesuai SOP tujuh hari, tetap pencarian terus berjalan. Jangan sampai pihak keluarga khawatir setelah SOP selesai tujuh hari, pencarian selesai," ujarnya.

Gufron menegaskan, pemerintah desa tidak akan berhenti memantau perkembangan kasus tersebut. Koordinasi dengan pihak sekolah, perusahaan kapal, dan unsur terkait lainnya akan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan terbaru.

"Dan kami pun selalu memonitor dengan pihak-pihak yang terkait, tidak berhenti sampai di sini saja," tegasnya.

Hilang Saat Membantu Menurunkan Jaring Ikan

Seperti diberitakan sebelumnya, Reyhan Hermansyah merupakan siswa SMKN 1 Mundu yang menjalani PKL di kapal penangkap ikan Putra Haji Mashudi milik H. Sarmin.

Peristiwa hilangnya Reyhan terjadi sekitar pukul 04.30 WITA saat ia membantu proses penurunan alat tangkap ikan jenis purse seine atau jaring lingkar di perairan Selat Makassar.

Kaki Reyhan diduga terlilit tali kerut yang dilengkapi pemberat hingga membuatnya terjatuh ke laut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMKN 1 Mundu, Ijat Danajat, sebelumnya menjelaskan bahwa empat kru kapal sempat berusaha memberikan pertolongan. Mereka bahkan terjun ke laut dan sempat memegang tangan Reyhan.

"Empat dari kru kapal sempat melihat dan bahkan terjun untuk membantu. Kemudian, sampai sempat melakukan proses pertolongan, tangannya Ananda Reyhan kepegang," ujar Ijat.

Namun, upaya penyelamatan tersebut tidak berhasil. Tali dan pemberat yang diduga memiliki bobot berat membuat Reyhan terlepas dari pegangan kru kapal hingga kembali jatuh ke laut.

"Hanya karena tali dan pemberatnya begitu berat, kemudian terlepas, dan akhirnya Ananda Reyhan jatuh," kata Ijat.

Saat alat tangkap ditarik kembali ke kapal, Reyhan sudah tidak terlihat. Sejak kejadian tersebut, keberadaannya belum diketahui.

Ijat menyebutkan, Reyhan telah menjalani PKL sejak April 2026 dan dijadwalkan menyelesaikan praktiknya pada 28 Oktober 2026. Artinya, ia tinggal beberapa pekan lagi menuntaskan kegiatan praktik kerja tersebut sebelum akhirnya mengalami musibah.

Kini, di rumah sederhana di Desa Japura Lor, keluarga Reyhan masih menanti kabar yang mereka harapkan. Doa dan dukungan dari berbagai pihak terus mengalir, sementara pemerintah desa berharap koordinasi dan upaya pencarian tetap berlanjut hingga keberadaan Reyhan diketahui.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads