Lokasinya yang berada di kaki Gunung Ciremai dan keberadaan beberapa sesar atau patahan kerak bumi membuat Kabupaten Kuningan menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi terjadinya gempa tektonik. Bahkan, dalam sejarah, Kuningan sempat mengalami beberapa gempa yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan yang cukup parah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, melalui Ahli Pertama Analis Bencana BPBD Kabupaten Kuningan, Dinda Triaprilia, memaparkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang memiliki aktivitas tektonik cukup tinggi.
Kondisi tersebut membuat beberapa wilayah di Indonesia rentan terhadap potensi gempa, salah satunya Kuningan. Menurutnya, berdasarkan data Pusat Studi Gempa (PuSGeN 2024), terdapat sejumlah sesar atau patahan kerak bumi di wilayah Kuningan dan sekitarnya.
Dinda memaparkan beberapa sesar tersebut adalah Sesar Baribis atau West Java Back Arc Thrust Fault yang merupakan sesar naik yang membentang 100 kilometer, Sesar Ciremai yang berada di lereng Gunung Ciremai, Sesar Cibingbin yang merupakan sesar lokal di Kecamatan Cibingbin, Kuningan, serta ancaman gempa vulkanik yang berasal dari aktivitas magma di Gunung Ciremai.
"Kabupaten Kuningan juga memiliki potensi ancaman gempa yang perlu dikenali, di antaranya Sesar Baribis,Sesar Ciremai, Sesar Cibingbin, Sesar lokal dan Gempa vulkanik Gunung Ciremai. Berdasarkan materi PuSGeN 2024, sejumlah sesar di wilayah Kuningan dan sekitarnya memiliki potensi magnitudo maksimum yang perlu menjadi perhatian dalam upaya mitigasi," tutur Dinda, Kamis (8/10/2026).
Untuk Sesar Ciremai, sesar ini terbagi menjadi dua segmen: segmen pertama sepanjang 43 km dengan tipe patahan reverse atau naik yang berpotensi menghasilkan estimasi kekuatan maksimal gempa bumi atau magnitudo maksimum (Mmax) sebesar 6,7, serta segmen kedua sepanjang 20 km berjenis strike-slip atau geser dengan Mmax 6,6 yang jalurnya melewati Kecamatan Cigugur, Kramatmulya, dan Kuningan.
Selain itu, wilayah Kuningan juga diapit oleh sesar darat aktif lainnya seperti Sesar Karangmanggu sepanjang 20 km berjenis strike-slip atau geser (Mmax 6,1), Sesar Cisanggarung sepanjang 19 km berjenis reverse atau naik (Mmax 6,5), serta Sesar Cibingbin sepanjang 4,52 km dengan Mmax 5,8 yang jalurnya memanjang dari laut ke arah timur tenggara melewati Ciangir, Sindangjaya, dan Cipondok. Ancaman ini juga mencakup keberadaan berbagai sesar lokal di daratan yang hingga saat ini belum terpetakan seluruhnya.
Dalam catatan sejarah, beberapa sesar tersebut telah menyebabkan terjadinya beberapa gempa di wilayah Kuningan. Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gempa Kuningan pertama kali tercatat pada 25 Oktober 1875. Kala itu, meski tidak ada catatan magnitudonya, gempa tersebut menyebabkan 7 orang meninggal dunia dan 628 rumah rusak yang tersebar di wilayah Kuningan, Sumedang, dan Manonjaya.
(orb/orb)