Gunung Ciremai merupakan salah satu gunung berapi di Indonesia yang sebagian wilayahnya masuk ke dalam Kabupaten Kuningan. Di balik keindahannya, Gunung Ciremai merupakan gunung api aktif yang terus menunjukkan aktivitas vulkanik.
Penelitian terbaru yang dirilis oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan bahwa gempa bumi besar pernah melanda Gunung Ciremai dan wilayah sekitarnya sekitar 20.000 tahun yang lalu. Riset tersebut menunjukkan adanya aktivitas tektonik dan vulkanik yang signifikan di wilayah Kabupaten Kuningan pada zaman Kuarter.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) sekaligus Ketua Tim Penelitian, Sonny Aribowo, memaparkan bahwa peristiwa tersebut teridentifikasi melalui metode carbon dating pada endapan tanah di Jalur Lingkar Timur Kuningan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melalui metode carbon dating pada endapan di jalur Lingkar Timur Kuningan, ditemukan fakta geologi yang unik. Fakta tersebut yaitu, endapan berumur 22.000 tahun (22 ka) berada di atas endapan berumur 20.000 tahun (20 ka)," tutur Sonny dalam keterangannya di laman resmi BRIN, dikutip Rabu (3/6/2026).
Menurut Sonny, posisi lapisan tanah tersebut mengindikasikan adanya aktivitas sesar naik (thrusting) yang terjadi setelah periode 20.000 tahun lalu. Kondisi ini menyebabkan lapisan tanah yang lebih tua terdorong ke atas lapisan yang lebih muda.
"Selain sesar naik, ditemukan juga bukti sesar normal pada endapan berumur sekitar 16.000 tahun, yang mengindikasikan adanya fase penyeimbangan sedimen setelah tekanan tektonik besar, atau kemungkinan jejak kejadian gempa bumi besar pada periode tersebut," tutur Sonny.
Sonny menjelaskan bahwa penggunaan data Light Detection and Ranging* (LiDAR) di Lingkar Timur Kuningan memungkinkan tim peneliti untuk mengamati fitur permukaan bumi tanpa terhalang vegetasi. Hasilnya menunjukkan adanya kemiringan lapisan (*tilting*) dan patahan (*faulting) yang sangat jelas pada morfologi lahan.
"Data radiokarbon dan LiDAR ini memberikan pembaruan penting terhadap kronologi erupsi Gunung Ciremai. Temuan ini menunjukkan bahwa fase deformasi tektonik di wilayah Kuningan berlangsung beriringan dengan sejarah vulkanisme gunung tersebut," kata Sonny.
Penelitian ini dinilai sangat krusial mengingat wilayah Kuningan memiliki kompleksitas geologi yang tinggi. Integrasi antara data erupsi eksplosif yang tercatat sejak 40.800 tahun lalu hingga periode sejarah, dengan data sesar aktif, menjadi hal yang sangat penting.
Data tersebut dapat diimplementasikan untuk menyusun tata ruang permukiman yang lebih aman, memperkirakan periode ulang gempa darat di jalur sesar aktif, serta meningkatkan sistem peringatan dini berbasis risiko multibahaya, baik vulkanik maupun tektonik.
Dalam penelitian tersebut, terungkap pula karakteristik material antara endapan jauh (distal*) dan endapan dekat (*proximal*) Gunung Ciremai. Berdasarkan analisis unsur jejak (*trace element*) dan diagram TAS, endapan *distal tergolong sebagai sedimen vulkanik basaltik subalkalin dengan kandungan besi tinggi dan silika rendah.
Sementara itu, endapan proksimal berdasarkan studi disertasi Wildan Hamzah menunjukkan bahwa area di dekat puncak didominasi oleh batuan andesit basaltik dengan seri magma medium-K.
Komposisi geokimia ini membantu peneliti menelusuri asal-usul material serta arah aliran erupsi purba Gunung Ciremai. Namun, hubungan antara endapan distal* dan proksimal masih memerlukan kajian lebih lanjut karena adanya perbedaan karakteristik. Di sisi lain, Sonny menyebutkan bahwa endapan *distal yang berumur sekitar 15.000 tahun menunjukkan pernah terjadi letusan pada periode tersebut.
Sementara itu, Koordinator Urusan Data, Evaluasi Pelaporan, dan Kehumasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Eska Nata Suryana, menegaskan bahwa Gunung Ciremai memang merupakan gunung api aktif.
Pihaknya baru-baru ini menerima laporan dari pendaki mengenai adanya aktivitas magma di puncak Gunung Ciremai pada Jumat pagi (28/5/2026). Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi sebelum adanya aktivitas gempa tektonik yang melanda Kuningan pada malam harinya pukul 22.37.35 WIB.
Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut terletak pada koordinat 6,88 LS dan 108,45 BT, tepatnya di darat pada jarak 11 km Barat Laut Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Gempa terjadi pada kedalaman 12 km dengan kekuatan 2,5 Skala Richter. Tidak ada kerusakan yang dilaporkan akibat gempa tersebut, dan getaran hanya dirasakan oleh sebagian kecil orang.
"Hari Jumat 29 Mei, hari setelah lebaran haji. pagi-paginya jam 7 pagi itu terjadi longsoran kecil di area magma. Hanya keluar kepulan asap sama bau belerang saja. Malamnya itu baru ada ada gempa 2,5 skala Richter di pukul 22.37.35 WIB," tutur Eska saat ditemui di kantor TNGC Kuningan.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial dan ditunjukkan oleh Eska, terlihat kondisi puncak Gunung Ciremai mengeluarkan asap serta bau belerang yang menyengat. Perekam video juga menyebutkan adanya gundukan tanah baru di dalam kawah.
"Melaporkan dari ketinggian 3.078 Mdpl kondisi kawah Gunung Ciremai sedang aktif gaes. Dan terpantau ada anak Gunung Baru di puncak Gunung Ciremai. Mudah mudahan baik-baik saja. Karena Minggu kemarin nggak ada loh. Hari ini hari Jumat tanggal 29 Mei 2026 tepat pukul 07.33 WIB kawah Ciremai ngebul dan bau belerang sangat menyengat," tutur suara dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @Muhammad Habibi366 tersebut.
Meski kedua peristiwa terjadi dalam waktu yang berdekatan, Eska belum dapat memastikan apakah aktivitas magma di Gunung Ciremai berhubungan langsung dengan gempa tektonik di Kuningan. Diperlukan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui korelasi antara aktivitas vulkanik Gunung Ciremai dan aktivitas tektonik di wilayah tersebut.
Hingga saat ini, masyarakat sekitar dan para pendaki masih diperbolehkan melakukan aktivitas di Gunung Ciremai. Status Gunung Ciremai dilaporkan masih berada pada Level 1 (Normal).
"Sepertinya iya. (Bisa berhubungan seperti penelitian) tapi kalau menyimpulkan kita nggak berani, kita mau check dulu. Kita lagi nunggu laporan dari teman-teman di lapangan. Status kesiagaan gunung aktifnya masih di level 1 normal," pungkas Eska.
Simak Video "Video: Gempa M 7,6 Guncang Bitung Sulut "
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
