Sejarah Gempa Kuningan: Ancaman Nyata dari Patahan Kerak Bumi

Sejarah Gempa Kuningan: Ancaman Nyata dari Patahan Kerak Bumi

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Senin, 12 Okt 2026 07:00 WIB
Ilustrasi Gempa Bumi.
Ilustrasi jalan retak akibat gempa bumi. (Foto: Jens Aber/Unsplash)
Kuningan -

Lokasinya yang berada di kaki Gunung Ciremai dan keberadaan beberapa sesar atau patahan kerak bumi membuat Kabupaten Kuningan menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi terjadinya gempa tektonik. Bahkan, dalam sejarah, Kuningan sempat mengalami beberapa gempa yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan yang cukup parah.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, melalui Ahli Pertama Analis Bencana BPBD Kabupaten Kuningan, Dinda Triaprilia, memaparkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang memiliki aktivitas tektonik cukup tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi tersebut membuat beberapa wilayah di Indonesia rentan terhadap potensi gempa, salah satunya Kuningan. Menurutnya, berdasarkan data Pusat Studi Gempa (PuSGeN 2024), terdapat sejumlah sesar atau patahan kerak bumi di wilayah Kuningan dan sekitarnya.

Dinda memaparkan beberapa sesar tersebut adalah Sesar Baribis atau West Java Back Arc Thrust Fault yang merupakan sesar naik yang membentang 100 kilometer, Sesar Ciremai yang berada di lereng Gunung Ciremai, Sesar Cibingbin yang merupakan sesar lokal di Kecamatan Cibingbin, Kuningan, serta ancaman gempa vulkanik yang berasal dari aktivitas magma di Gunung Ciremai.

ADVERTISEMENT

"Kabupaten Kuningan juga memiliki potensi ancaman gempa yang perlu dikenali, di antaranya Sesar Baribis,Sesar Ciremai, Sesar Cibingbin, Sesar lokal dan Gempa vulkanik Gunung Ciremai. Berdasarkan materi PuSGeN 2024, sejumlah sesar di wilayah Kuningan dan sekitarnya memiliki potensi magnitudo maksimum yang perlu menjadi perhatian dalam upaya mitigasi," tutur Dinda, Kamis (8/10/2026).

Untuk Sesar Ciremai, sesar ini terbagi menjadi dua segmen: segmen pertama sepanjang 43 km dengan tipe patahan reverse atau naik yang berpotensi menghasilkan estimasi kekuatan maksimal gempa bumi atau magnitudo maksimum (Mmax) sebesar 6,7, serta segmen kedua sepanjang 20 km berjenis strike-slip atau geser dengan Mmax 6,6 yang jalurnya melewati Kecamatan Cigugur, Kramatmulya, dan Kuningan.

Selain itu, wilayah Kuningan juga diapit oleh sesar darat aktif lainnya seperti Sesar Karangmanggu sepanjang 20 km berjenis strike-slip atau geser (Mmax 6,1), Sesar Cisanggarung sepanjang 19 km berjenis reverse atau naik (Mmax 6,5), serta Sesar Cibingbin sepanjang 4,52 km dengan Mmax 5,8 yang jalurnya memanjang dari laut ke arah timur tenggara melewati Ciangir, Sindangjaya, dan Cipondok. Ancaman ini juga mencakup keberadaan berbagai sesar lokal di daratan yang hingga saat ini belum terpetakan seluruhnya.

Dalam catatan sejarah, beberapa sesar tersebut telah menyebabkan terjadinya beberapa gempa di wilayah Kuningan. Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gempa Kuningan pertama kali tercatat pada 25 Oktober 1875. Kala itu, meski tidak ada catatan magnitudonya, gempa tersebut menyebabkan 7 orang meninggal dunia dan 628 rumah rusak yang tersebar di wilayah Kuningan, Sumedang, dan Manonjaya.

Lalu pada 21 Maret 2003, gempa kembali terjadi di Kuningan dengan kekuatan magnitudo mencapai 4,8. Gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 10 km tersebut memicu guncangan berintensitas IV-V MMI, yang mengakibatkan kerusakan bangunan di sejumlah wilayah seperti Desa Cilimus, Caracas, Sampora, Kaliaren, Cibeureum, hingga wilayah Mandirancan dan Caracas.

Satu dekade setelahnya, tepatnya pada 13 Juli 2013, gempa dengan skala 4,7 kembali melanda Kuningan. Gempa tersebut menyebabkan genteng berjatuhan dan sejumlah rumah warga di Desa Sumurwiru, Desa Sukarapih (Kecamatan Cibeureum), Desa Bantarpanjang (Kecamatan Cibingbin), serta Salem dan Bantarkawung (Brebes) rusak.

Pada 11 Desember 2020, gempa kembali terjadi di wilayah Cibingbin dan menyebabkan empat bangunan rumah sakit serta 19 rumah rusak di Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan. Gempa dengan kekuatan magnitudo 4,2 tersebut juga menyebabkan longsor dan retakan tanah di Banjarharjo, Kabupaten Brebes.

Dua tahun setelahnya, tepatnya pada 22 Desember 2022, gempa kembali terjadi di Kuningan. Kali ini gempa melanda wilayah Desa Cijemit, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan dengan kekuatan magnitudo 3,8. Tidak ada catatan kerusakan akibat gempa tersebut.

Meski begitu, pada 25 Juli 2024, terjadi gempa dangkal berkedalaman 6 km di Kuningan dengan kekuatan 3,6. Guncangan yang mencapai skala IV MMI tersebut dirasakan cukup kuat oleh masyarakat di Kecamatan Kuningan, Ciniru, Cigugur, Kadugede, Nusaherang, dan Darma.

Bencana ini mengakibatkan kerusakan ringan pada sejumlah fasilitas publik dan pemukiman yang meliputi 34 rumah warga, 3 gedung sekolah, serta 1 tempat ibadah. Pada hari yang sama, terjadi juga dua kali gempa susulan dengan kekuatan masing-masing 4,1 dan 3,9.

Terakhir, gempa Kuningan terjadi pada 29 Mei 2026 dengan skala 2,5. Gempa tersebut hanya menyebabkan getaran yang dirasakan oleh beberapa orang dalam kondisi diam dan membuat benda-benda gantung bergoyang perlahan.

Dinda memaparkan, banyaknya riwayat gempa di Kuningan tersebut menunjukkan bahwa gempa memang memiliki dampak langsung pada kehidupan masyarakat. Meski gempa tidak dapat diprediksi, masyarakat diharapkan membangun bangunan tahan gempa, menyiapkan jalur evakuasi, memahami perlindungan diri, serta mengikuti informasi dari kanal resmi.

Masyarakat juga diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang mengatasnamakan prediksi gempa, khususnya informasi yang menyebutkan tanggal, lokasi, dan kekuatan gempa secara pasti tanpa dasar ilmiah.

"Riwayat kegempaan juga menunjukkan bahwa Kuningan dan wilayah sekitarnya pernah mengalami gempa dengan dampak terhadap bangunan maupun masyarakat.Tapi ingat potensi gempa bukan berarti prediksi. Tidak ada yang dapat memastikan secara tepat kapan, di mana, dan seberapa besar gempa akan terjadi. Karena itu, yang paling penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan, bukan menyebarkan kepanikan. Kenali resikonya. Siapkan diri. Kurangi resikonya," pungkas Dinda.

Halaman 3 dari 2
(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads