Sebuah perahu kayu tampak berdiri kokoh di tepian Sungai Cimanuk, Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.
Namun, perahu itu bukan lagi digunakan warga untuk menyeberangi sungai. Ia telah berubah menjadi sebuah monumen yang mengabadikan cerita lama tentang bagaimana masyarakat Krasak dahulu berjibaku dengan derasnya aliran Cimanuk demi menghubungkan dua sisi desa.
Berada tak jauh dari jembatan gantung, Tugu Perahu menjadi penanda bahwa sebelum akses darat terbentang, perahu tambangan pernah menjadi bagian penting dari kehidupan warga.
Kepala Desa Krasak, Khairul Isma Arif, menuturkan pembangunan tugu tersebut sengaja dilakukan untuk menjaga memori kolektif masyarakat terhadap sejarah penyeberangan di wilayahnya.
"Dulu sebelum ada jembatan gantung, kita menggunakan tambatan perahu untuk penyeberangan. Makanya setelah jembatan dibangun pada tahun 2024, kita bikin ciri khas Tugu Perahu di situ sebagai pengingat warga tentang nilai historis Desa Krasak," ujar Arif saat ditemui di balai desa, Selasa (22/9/2026).
Jauh sebelum jembatan gantung hadir, aktivitas di Sungai Cimanuk tak pernah benar-benar sepi. Perahu tambangan menjadi sarana utama warga yang hendak berpindah dari satu sisi sungai ke sisi lainnya.
Layanan penyeberangan bahkan berlangsung sepanjang hari. Bagi sebagian warga, perahu tersebut bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian dari denyut perekonomian desa.
Penggunanya pun tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar. Mahasiswa Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) turut memanfaatkan jalur tersebut untuk memperpendek perjalanan menuju kampus yang berada di Kecamatan Lohbener.
Menurut Arif, mahasiswa dari arah Sliyeg menjadi salah satu kelompok yang cukup sering menggunakan perahu tambangan sebagai jalur alternatif.
Aktivitas penyeberangan itu sekaligus menciptakan sumber pendapatan bagi pengelolanya. Kendati demikian, keberadaan perahu akhirnya harus berakhir setelah jembatan gantung dibangun dan mulai digunakan masyarakat pada 2024.
(mso/mso)