Tugu Perahu Krasak: Monumen Pengingat Sejarah Sungai Cimanuk

Tugu Perahu Krasak: Monumen Pengingat Sejarah Sungai Cimanuk

Burhanudin - detikJabar
Minggu, 27 Sep 2026 08:00 WIB
Tugu Perahu di samping jembatan gantung Desa Krasak, Indramayu
Tugu Perahu di samping jembatan gantung Desa Krasak, Indramayu (Foto: Burhanudin/detikJabar).
Indramayu -

Sebuah perahu kayu tampak berdiri kokoh di tepian Sungai Cimanuk, Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

Namun, perahu itu bukan lagi digunakan warga untuk menyeberangi sungai. Ia telah berubah menjadi sebuah monumen yang mengabadikan cerita lama tentang bagaimana masyarakat Krasak dahulu berjibaku dengan derasnya aliran Cimanuk demi menghubungkan dua sisi desa.

Berada tak jauh dari jembatan gantung, Tugu Perahu menjadi penanda bahwa sebelum akses darat terbentang, perahu tambangan pernah menjadi bagian penting dari kehidupan warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Desa Krasak, Khairul Isma Arif, menuturkan pembangunan tugu tersebut sengaja dilakukan untuk menjaga memori kolektif masyarakat terhadap sejarah penyeberangan di wilayahnya.

"Dulu sebelum ada jembatan gantung, kita menggunakan tambatan perahu untuk penyeberangan. Makanya setelah jembatan dibangun pada tahun 2024, kita bikin ciri khas Tugu Perahu di situ sebagai pengingat warga tentang nilai historis Desa Krasak," ujar Arif saat ditemui di balai desa, Selasa (22/9/2026).

ADVERTISEMENT
Jembatan Gantung Krasak, IndramayuJembatan Gantung Krasak, Indramayu (Foto: Burhanudin/detikJabar).

Jauh sebelum jembatan gantung hadir, aktivitas di Sungai Cimanuk tak pernah benar-benar sepi. Perahu tambangan menjadi sarana utama warga yang hendak berpindah dari satu sisi sungai ke sisi lainnya.

Layanan penyeberangan bahkan berlangsung sepanjang hari. Bagi sebagian warga, perahu tersebut bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian dari denyut perekonomian desa.

Penggunanya pun tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar. Mahasiswa Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) turut memanfaatkan jalur tersebut untuk memperpendek perjalanan menuju kampus yang berada di Kecamatan Lohbener.

Menurut Arif, mahasiswa dari arah Sliyeg menjadi salah satu kelompok yang cukup sering menggunakan perahu tambangan sebagai jalur alternatif.

Aktivitas penyeberangan itu sekaligus menciptakan sumber pendapatan bagi pengelolanya. Kendati demikian, keberadaan perahu akhirnya harus berakhir setelah jembatan gantung dibangun dan mulai digunakan masyarakat pada 2024.

Peralihan tersebut berlangsung tanpa polemik berarti. Pasalnya, sarana penyeberangan lama merupakan bagian dari aset Pemerintah Desa Krasak, bukan kepemilikan pribadi.

"Seperangkat alat perahu itu aset desa semua. Setiap tahun pengelolanya kita lelang, sistemnya sama seperti lelang tanah titisara (bengkok) dan tanah desa. Jadi saat diganti jembatan, aman tidak ada yang protes," jelas Arif.

Berakhirnya operasional perahu tambangan bukan berarti pemerintah desa membiarkan para pengelolanya kehilangan sumber penghasilan.

Sebagai bentuk pendampingan, Pemerintah Desa Krasak memberikan kesempatan kepada mantan pengelola perahu untuk memanfaatkan lahan kosong milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung yang berada di sekitar bantaran sungai.

Pemanfaatan lahan tersebut dilakukan dengan sejumlah ketentuan, salah satunya tidak mengganggu maupun merusak tanggul sungai.

"Kita kasih lahannya, silakan yang tadinya mengelola perahu untuk menggarap di situ. Sekarang mereka pada bekerja mengurus pertanian, ada yang mengurus kebun mangga, sampai membuat bata merah di sekitaran bantaran Cimanuk," kata Arif.

Kini, kehidupan masyarakat di sekitar Sungai Cimanuk pun terasa berbeda.

Jika dahulu warga yang tinggal di seberang sungai harus menyiapkan uang untuk membayar ongkos perahu ketika hendak menuju balai desa atau mengurus administrasi, kini perjalanan tersebut dapat ditempuh melalui jembatan tanpa biaya.

Jembatan juga memberikan kepastian akses ketika kondisi sungai berubah-ubah, baik saat debit air menyusut maupun ketika alirannya meningkat.

"Dulu warga yang di seberang kalau mau mengurus dokumen penting pribadi seperti rekam KTP harus mengeluarkan uang untuk biaya perahu. Kalau sekarang tinggal menyeberang saja, mau ke kecamatan atau ke mana pun aksesnya jauh lebih enak dan gratis," tutur Arif.

Lebih dari sekadar jalur penghubung, jembatan gantung Krasak perlahan menghadirkan wajah baru bagi kawasan tepian Cimanuk.

Menjelang sore, suasana di sekitar jembatan mulai ramai. Anak-anak muda dan warga berdatangan untuk duduk santai, berbincang, atau sekadar menikmati pemandangan sungai.

Keramaian kecil itu kemudian ikut membuka peluang bagi pelaku usaha. Sejumlah UMKM mulai menjajakan dagangan di sekitar jembatan, memanfaatkan aktivitas warga yang menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat berkumpul.

Jembatan gantung Desa Krasak dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan diresmikan pada 2024. Infrastruktur tersebut menelan anggaran sekitar Rp20,7 miliar.

Bentang jembatan mencapai 180 meter, dengan bentang utama sepanjang 120 meter. Struktur atasnya menggunakan rangka rigid simetris dengan lebar jembatan sekitar 1,8 meter.

Kini, ketika warga tak lagi harus menunggu perahu untuk menyeberangi Cimanuk, sebuah tugu berbentuk perahu justru berdiri sebagai pengingat.

Ia menjadi semacam penanda perjalanan sebuah desa: dari masa ketika sungai menjadi batas yang harus ditaklukkan dengan perahu, menuju masa ketika sebuah jembatan membuat perjalanan menjadi lebih mudah.

Di tengah perubahan itu, Tugu Perahu tetap berada di tempatnya. Diam, tetapi menyimpan cerita tentang sebuah masa ketika suara dayung, riak air, dan aktivitas penyeberangan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Krasak.

Halaman 2 dari 2
(mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads