Mengulik Sejarah Indramayu dari Masjid Agung hingga Pelabuhan Cimanuk

Mengulik Sejarah Indramayu dari Masjid Agung hingga Pelabuhan Cimanuk

Burhannudin - detikJabar
Rabu, 16 Sep 2026 08:00 WIB
Masjid Agung Indramayu.
Masjid Agung Indramayu. (Foto: Burhannudin)
Indramayu -

Di tengah hiruk pikuk Kota Mangga, berdiri sebuah bangunan yang tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan panjang sejarah Kabupaten Indramayu.

Masjid Agung Indramayu, yang hingga kini menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan, menyimpan kisah yang erat kaitannya dengan kejayaan Sungai Cimanuk pada masa lampau.

Tak banyak yang menyadari bahwa keberadaan masjid tersebut memiliki hubungan dengan perkembangan kawasan di sekitarnya. Dari aliran Sungai Cimanuk yang membentang dari Garut hingga bermuara di Indramayu, tumbuh peradaban yang membentuk wajah daerah ini selama berabad-abad.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada masa lalu, sungai bukan sekadar jalur air. Sungai menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, tempat aktivitas ekonomi berlangsung dan budaya berkembang. Cimanuk pun memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah Indramayu, hingga menjadikannya salah satu kawasan pelabuhan yang ramai pada zamannya.

ADVERTISEMENT

Jejak kejayaan itu masih dapat ditemukan hingga sekarang. Menyusuri kawasan bantaran Sungai Cimanuk, khususnya di sepanjang Jalan Siliwangi hingga Jalan Veteran, pengunjung akan menjumpai deretan bangunan tua peninggalan kolonial yang masih berdiri kokoh.

Di antara bangunan-bangunan bersejarah tersebut, Masjid Agung dan Pendopo Kabupaten Indramayu menjadi dua ikon yang tak terpisahkan.

Ketua Indramayu Historia Foundation, Nang Sadewo, mengungkapkan bahwa Masjid Agung dan Pendopo telah berdiri sejak sekitar tahun 1820. Saat itu, pendopo berfungsi sebagai kantor kademangan sekaligus pusat pemerintahan fase kedua dalam sejarah Indramayu.

Menurutnya, pusat pemerintahan pertama berada di Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, yang telah tercatat sejak 1613. Namun, setelah kedatangan Belanda pada 1620, pusat pemerintahan dipindahkan ke kawasan yang kini menjadi lokasi Pendopo Kabupaten Indramayu.

Perpindahan tersebut, kata Sadewo, tidak lepas dari peran strategis Sungai Cimanuk.

"Pada masa itu, kawasan sekitar pendopo berkembang menjadi pelabuhan penting yang melayani aktivitas bongkar muat berbagai komoditas perdagangan. Bahkan, keberadaan bandar di wilayah tersebut diperkirakan telah aktif sejak sekitar tahun 1500," katanya kepada detikJabar, Selasa (15/9/2026).

Masa keemasan Bandar Cimanuk mencapai puncaknya pada 1513. Kapal-kapal dagang dari berbagai wilayah, mulai dari Cina, Mataram hingga Batavia, disebut pernah singgah di pelabuhan tersebut.

Catatan mengenai aktivitas perdagangan itu masih dapat ditelusuri melalui naskah kuno, litografi, dan sejumlah buku berbahasa Belanda yang kini tersimpan di Leiden, Belanda.

Namun roda sejarah terus berputar. Pada 1772, konflik yang melibatkan Belanda, Kerajaan Mataram, dan Kesultanan Banten mengubah fungsi pelabuhan. Kawasan yang sebelumnya menjadi pusat perdagangan perlahan beralih menjadi jalur distribusi perlengkapan perang. Sejak saat itu, kejayaan Bandar Cimanuk mulai meredup.

Meski demikian, sisa-sisa kejayaan tersebut masih bisa ditemukan. Salah satunya adalah bangunan yang kini digunakan sebagai kantor BPR.

"Gedung peninggalan Belanda yang dibangun pada 1813 itu dahulu berfungsi sebagai kantor biro maritim kolonial," ujar Sadewo.

Walaupun pelabuhan utama telah kehilangan perannya sejak akhir abad ke-18, sejumlah pelabuhan kecil di sepanjang Cimanuk masih bertahan hingga sekitar 1940-an. Barulah pada dekade 1950-an, aktivitas perdagangan melalui Bandar Cimanuk benar-benar dihentikan karena sungai tersebut kerap memicu banjir.

Kini, ketika azan berkumandang dari Masjid Agung Indramayu dan aktivitas pemerintahan berlangsung di pendopo yang berdiri tak jauh darinya, keduanya seolah menjadi pengingat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi jantung perdagangan dan pemerintahan yang menghidupkan Indramayu pada masa silam.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads