Kisah Penarik Perahu di Cimanuk Indramayu, Layani Warga Tanpa Kata

Kisah Penarik Perahu di Cimanuk Indramayu, Layani Warga Tanpa Kata

Burhannudin - detikJabar
Senin, 03 Agu 2026 10:00 WIB
Tarno, sang kernet perahu tambangan di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatibarang, Indramayu.
Tarno, sang kernet perahu tambangan di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatibarang, Indramayu. Foto: Burhannudin
Indramayu -

Di tengah gempuran layanan transportasi berbasis aplikasi yang menawarkan kecepatan dan kemudahan, masih ada moda transportasi sederhana yang tetap menjadi andalan masyarakat. Bukan sepeda motor, bukan pula mobil. Melainkan sebuah perahu tambangan yang bergerak perlahan melintasi Sungai Cimanuk, ditarik dengan tenaga manusia menggunakan seutas tambang baja.

Di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, perahu tambangan itu bukan sekadar alat penyeberangan. Ia adalah penghubung kehidupan. Di balik perahu sederhana tersebut berdiri sosok lelaki renta bernama Tarno, yang selama hampir dua dekade mengabdikan dirinya untuk memastikan warga dapat menyeberang sungai dengan aman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usianya sekitar 70 tahun. Tubuhnya yang masih kekar tampak kontras dengan wajah yang dipenuhi garis-garis usia. Sehari-hari ia bekerja hanya mengenakan celana kolor dan topi hijau. Ia juga merupakan penyandang tuna wicara. Namun, keterbatasan itu tidak pernah menghalanginya menjalankan profesi yang menuntut tenaga, ketelatenan, dan kesabaran.

Setiap hari, Tarno berdiri di atas perahunya, menarik tambang besi yang membentang di atas sungai. Gerakannya berulang tanpa henti. Dari pagi hingga malam, bahkan hingga 24 jam jika dibutuhkan, ia mengantar warga dari satu tepi ke tepi lainnya.

ADVERTISEMENT

Pelanggannya datang dari berbagai kalangan. Pegawai yang hendak bekerja, pelajar yang akan berangkat ke sekolah, pedagang yang membawa dagangan, ibu rumah tangga, hingga warga yang memiliki berbagai keperluan sehari-hari. Bagi mereka, keberadaan perahu tambangan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.

"Sangat bermanfaat. Ongkosnya cuma Rp2.000," ujar Dirja (39), salah seorang penumpang saat ditanya mengenai jasa perahu tambangan tersebut.

Dengan tarif yang sangat terjangkau, warga dapat memangkas waktu perjalanan dibanding harus memutar melalui jalur darat. Perahu kecil itu menjadi jalur tercepat yang menghubungkan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di kedua sisi sungai.

Rutinitas Tarno dimulai dari rumah. Sebelum berangkat bekerja, istrinya, Raminah, selalu menyiapkan sarapan. Dari rumah sederhana itu, ia berangkat menuju sungai, tempat yang telah menjadi ruang pengabdiannya selama hampir 20 tahun.

"Dia sudah sekitar 20 tahunan jadi kernet perahu tambangan," ujar Asep, kernet lainnya, teman Tarno.

Dalam sehari, Tarno bisa menyeberangkan penumpang hingga ratusan kali. Pendapatannya rata-rata mencapai Rp200 ribu per hari. Namun, separuh dari jumlah tersebut harus disetorkan kepada pemilik perahu dan dibagi dengan temannya. Sisanya menjadi penghasilan yang dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Meski demikian, pekerjaan itu tidak selalu mudah. Ketika air sungai pasang atau surut, Tarno harus memperbaiki atau menyesuaikan jembatan kayu yang menghubungkan perahu dengan daratan. Kondisi cuaca dan perubahan permukaan air menjadi tantangan yang harus dihadapi hampir setiap hari.

Karena tidak dapat berbicara secara verbal, komunikasi Tarno berlangsung melalui bahasa isyarat. Putrinya, Murni, kerap membantu menerjemahkan apa yang ingin disampaikan ayahnya kepada orang lain.

"Saya temani bapak hampir setiap hari, itu bantu bapak buat ngomong sama orang," kata Murni saat ditemui di lokasi, Minggu (2/8/2026).

Namun, bagi para pelanggan setianya, bahasa ternyata bukanlah penghalang. Hubungan yang terjalin selama bertahun-tahun membuat mereka saling memahami tanpa banyak kata.

Keramahan Tarno bahkan tampak ketika seseorang hendak memberikan uang lebih sebagai bentuk penghargaan. Ia justru beberapa kali menolak pemberian tersebut. Sikap sederhana itu menunjukkan bahwa baginya, pekerjaan ini bukan semata soal mencari nafkah, tetapi juga tentang melayani masyarakat.

Di era ketika hampir semua orang mengandalkan teknologi digital untuk bepergian, kisah Tarno menjadi pengingat bahwa masih ada transportasi tradisional yang bertahan karena benar-benar dibutuhkan.

Tidak ada aplikasi yang memanggil perahu tambangan. Tidak ada sistem pemesanan daring. Yang ada hanyalah kepercayaan warga kepada seorang lelaki yang setia berdiri di tepi sungai, menarik tambang demi mengantar mereka sampai tujuan.

Tarno mungkin tidak dikenal luas. Namanya tidak muncul dalam daftar tokoh berpengaruh. Namun, bagi masyarakat Jatisawit, ia adalah bagian dari denyut kehidupan desa. Setiap tarikan tambang yang dilakukannya bukan sekadar menggerakkan perahu, melainkan juga menjaga agar aktivitas masyarakat tetap berjalan.

"Pak Tarno memang tipe pekerja keras, dan tenaganya kayak enggak habis-habis padahal sudah 70-an usianya," pungkas Asep.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads