Berkah Kemarau, Embung Wanakaya Kering Jadi Ladang Cuan

Serba-serbi Warga

Berkah Kemarau, Embung Wanakaya Kering Jadi Ladang Cuan

Ony Syahroni - detikJabar
Sabtu, 29 Agu 2026 16:33 WIB
Alim (mengenakan topi hijau), pedagang minuman di sekitar Embung Wanakaya, Kabupaten Cirebon
Alim (mengenakan topi hijau), pedagang minuman di sekitar Embung Wanakaya, Kabupaten Cirebon (Foto: Ony Syahroni/detikJabar).
Cirebon -

Biasanya, musim kemarau identik dengan debu dan kekeringan yang menyulitkan. Namun, bagi Alim, seorang pedagang minuman di sekitar Embung Wanakaya, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, kondisi ini justru menjadi ladang rezeki yang tak terduga.

Fenomena unik terjadi di Embung Wanakaya. Alih-alih ditinggalkan karena airnya surut, embung yang mengering ini justru diserbu warga. Dasar embung yang kini berubah menjadi hamparan rumput hijau nan luas mendadak jadi spot favorit warga untuk bersantai, bermain, hingga berswafoto.

Kondisi "salah musim" ini membawa berkah tersendiri bagi Alim. Ia mengaku dagangannya jauh lebih laris manis sejak embung mengering dan berubah fungsi menjadi lapangan hijau dadakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak main-main, Alim menyebut pendapatannya melonjak hingga dua kali lipat dibanding saat embung masih terisi air. Jika biasanya ia hanya mengantongi Rp80 ribu per hari, kini pundi-pundinya bisa menembus angka Rp150 ribu.

ADVERTISEMENT

"Kalau lagi ada airnya tuh ya kadang Rp80 ribu. Kalau ramai kayak gini tuh kadang lebih, Rp150 ribuan lah dapet," kata Alim saat ditemui di lapak dagangannya, Baru-baru ini.

Lima tahun sudah Alim menggantungkan hidup dengan berjualan di kawasan ini. Berdasarkan pengamatannya, jumlah pembeli memang sangat bergantung pada "wajah" embung. Ironisnya, saat air melimpah, pengunjung justru tak sebanyak saat ini.

Menurut Alim, suasana di dasar embung yang kini menyerupai lapangan rumput memberikan daya tarik tersendiri bagi warga. Mereka datang untuk sekadar duduk-duduk menikmati angin sore atau mengajak anak-anak bermain di area yang luas tersebut.

Pengunjung yang datang pun kian beragam, mulai dari rombongan ibu-ibu hingga anak-anak kecil. Puncaknya terjadi saat matahari mulai condong ke barat atau waktu asar tiba.

"Nah, kalau lagi kering, ibu-ibu sama anak-anak banyak yang datang ke sini. Apalagi kalau sore," tutur Alim.

Ramainya pengunjung otomatis membuat stok minuman Alim cepat ludes. Mayoritas warga yang menghabiskan waktu di tengah embung yang kering pasti mencari kesegaran dari dagangannya.

Bagi Alim, kemarau tahun ini bukanlah musibah, melainkan kesempatan emas untuk menambah penghasilan keluarga. Ia merasa sangat bersyukur dengan anomali yang terjadi di desanya tersebut.

"Ya alhamdulillah. Iya nambah," kata Alim saat ditanya soal pendapatannya.

Pantauan di lokasi, Alim tidak sendirian. Sejumlah pedagang kaki lima lainnya juga tampak mengadu nasib di sekitar Embung Wanakaya. Mereka menjajakan aneka camilan dan minuman dingin, memanfaatkan momentum ramainya warga.

Sebagai informasi, Embung Wanakaya yang terletak di Desa Wanakaya ini memang mengalami kekeringan total akibat musim kemarau panjang. Namun, perubahan drastis ini justru menciptakan pemandangan yang estetik.

Dasar embung yang biasanya tersembunyi di balik air, kini tertutup sempurna oleh rerumputan hijau yang tumbuh merata. Pemandangan ini kian memanjakan mata saat memasuki waktu senja.

Menjelang sore, pantulan cahaya matahari berwarna keemasan menyapu hamparan rumput di dasar embung. Suasana syahdu inilah yang membuat warga betah berlama-lama, sekaligus memutar roda ekonomi para pedagang kecil seperti Alim.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads