Panjang Jimat Cirebon, Filosofi Kelahiran dalam Piring Pusaka

Panjang Jimat Cirebon, Filosofi Kelahiran dalam Piring Pusaka

Ony Syahroni - detikJabar
Kamis, 27 Agu 2026 12:03 WIB
Tradisi Panjang Jimat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan
Foto: Ony Syahroni
Cirebon -

Lantunan selawat menggema di Keraton Kasepuhan Cirebon, Rabu (26/8) malam. Suasana khidmat terasa saat prosesi Panjang Jimat digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pantauan detikJabar, banyak warga memadati area keraton. Mereka menunggu iring-iringan Panjang Jimat yang menjadi salah satu puncak rangkaian tradisi Maulid Nabi di Keraton Kasepuhan.

Dalam prosesi iring-iringan tersebut, rombongan perlahan bergerak dari Bangsal Panembahan menuju Langgar Agung dengan membawa berbagai perlengkapan pusaka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iring-iringan acara Panjang Jimat dimulai dari Bangsal Panembahan menuju ke Langgar Agung," kata Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat saat ditemui di Keraton Kasepuhan.

Dalam iring-iringan itu, keluarga keraton dan para pengiring mengenakan pakaian adat khas keraton. Sementara sebagian lainnya, ada pula yang menggunakan gamis putih.

ADVERTISEMENT

Sejumlah perlengkapan turut dibawa menuju Langgar Agung. Di antaranya nasi jimat, lauk-pauk, ikan bekasem, hingga buah-buahan. Beragam hidangan itu dibawa bersama dengan piring-piring pusaka.

Selain makanan, dalam iring-iringan tersebut terdapat pula air mawar serta minuman tradisional banyu serbat yang dibawa dengan penuh takzim.

Menurut Goemelar, perlengkapan yang dibawa bukan sekadar pelengkap prosesi. Susunan perlengkapan dalam Panjang Jimat memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan proses kelahiran manusia.

"Sebetulnya tadi itu menyimbolkan kelahiran anak manusia," ujarnya.

Dia mencontohkan kembang goyang yang dimaknai sebagai ari-ari. Kemudian air mawar menjadi simbol air ketuban, sedangkan banyu serbat menggambarkan darah setelah proses kelahiran atau darah nifas.

"Contoh, ada kembang goyang itu menggambarkan ari-ari, air mawar itu seperti air ketuban, dan banyu serbat itu seperti darah setelah melahirkan," tuturnya.

Berbagai perlengkapan dengan makna mendalam tersebut kemudian dibawa bersama rombongan dalam prosesi iring-iringan menuju Langgar Agung.

Sesampainya di Langgar Agung, rangkaian Panjang Jimat dilanjutkan. Warga dan perwakilan Sultan Sepuh mengikuti prosesi tersebut dengan khusyuk.

Pembacaan kitab Al-Barzanji dan selawat kemudian dilakukan. Lantunan selawat kembali terdengar dari Langgar Agung sebagai bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

"Di sana para warga atau yang mewakili Sultan Sepuh berdoa bersama, membaca kitab Al-Barzanji, dan bersalawat," kata Goemelar.

Goemelar mengatakan, momen tersebut memang dikhususkan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan memperbanyak selawat.

"Kita momennya itu memperingati kelahiran Nabi Muhammad, jadi kita banyak bersalawat kepada Nabi," ujarnya.

Panjang Jimat menjadi puncak rangkaian tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan. Tradisi ini digelar setiap tahun sebagai bagian dari pelestarian nilai religi dan budaya di lingkungan keraton.



(tya/tya)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads