Cerita di Balik Kue Cimplo, Kudapan Khas Warga Indramayu

Cerita di Balik Kue Cimplo, Kudapan Khas Warga Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Kamis, 13 Agu 2026 10:00 WIB
Cimplo makanan serupa apem yang diguyur gula kinca
Cimplo makanan serupa apem yang diguyur gula kinca (Foto: Burhannudin)
Indramayu -

Bagi masyarakat Indramayu, cimplo bukan sekadar kudapan untuk mengganjal lapar. Makanan yang bentuknya menyerupai apem ini memiliki kisah yang lekat dengan datangnya bulan Safar. Biasanya, cimplo disajikan dengan guyuran kinca gula merah yang menyatu dengan parutan kelapa, lalu dibagikan kepada orang-orang di sekitar.

Di balik kebiasaan tersebut tersimpan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagian masyarakat mengenal tradisi berbagi cimplo sebagai sedekah yang dilakukan pada bulan Safar, sekaligus menjadi bentuk ikhtiar dan doa agar terhindar dari berbagai marabahaya.

Hamzah (56), warga Desa Jayawinangun, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu, mengatakan cerita itu diperolehnya secara turun-temurun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut penuturan yang ia terima, Safar pada masa lalu oleh sebagian masyarakat disebut sebagai bulan Bala. Istilah tersebut merujuk pada keyakinan lama bahwa bulan Safar merupakan masa yang berkaitan dengan datangnya berbagai musibah. Karena itu, masyarakat melakukan sejumlah ikhtiar, salah satunya dengan membuat cimplo untuk kemudian dibagikan.

"Kalau cerita orang tua dulu, bulan Safar itu disebut bulan Bala. Ketika masuk bulan itu masyarakat membuat cimplo untuk disedekahkan dan dibagikan, katanya sebagai ikhtiar supaya terhindar dari bala," ujar Hamzah kepada detikJabar, Rabu (12/8/2026).

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Jamal (37), warga lainnya, menambahkan bahwa tradisi tersebut tidak berarti masyarakat menganggap cimplo mempunyai kemampuan khusus untuk menangkal musibah. Bagi mereka yang masih menjalankannya, cimplo lebih menjadi bagian dari kegiatan bersedekah yang dibarengi doa dan harapan akan keselamatan.

"Kebiasaan itu kemudian dikenal dengan sebutan 'nyimplo', misalnya: 'si A lagi nyimplo', atau 'besok saya mau nyimplo'. Cimplo yang dibuat di rumah dibagikan kepada tetangga, kerabat, maupun warga yang tinggal di sekitar," ungkapnya.

Kisah tentang cimplo juga berkelindan dengan keberadaan apem dalam tradisi masyarakat Jawa. Jamal menyebut, berdasarkan cerita yang didengarnya dari orang-orang tua, cimplo memiliki kaitan dengan makanan tersebut.

"Orang tua dulu bilang cimplo itu apem. Jadi asalnya dari apem, hanya di sini dikenal dengan sebutan cimplo. Itu cerita yang saya dengar dari orang-orang tua," ujarnya.

Cimplo makanan serupa apem yang diguyur gula kincaCimplo makanan serupa apem yang diguyur gula kinca Foto: Burhannudin

Disampaikan Jamal, apem sendiri telah lama hadir dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa. Dalam sejumlah penafsiran budaya, nama apem kerap dihubungkan dengan kata "afwan" atau "afuan" secara harfiah artinya maaf, dan secara istilah bermakna permohonan maaf dan ampunan.

Namun, pemaknaan tersebut merupakan bagian dari perkembangan tradisi dan tafsir budaya yang hidup di masyarakat, bukan satu-satunya penjelasan mengenai asal-usul apem.

Sementara itu, Suwirta (61), warga lainnya, berpendapat bahwa salah satu tradisi yang kerap dikaitkan dengan apem adalah tradisi "Yaqowiyyu" di Jatinom, Klaten, yang memiliki kaitan erat dengan sosok Ki Ageng Gribig, dan diselenggarakan pada bulan Safar juga.

Sementara di Indramayu, kata Suwirta, cimplo tumbuh dengan cerita lokalnya sendiri. Hubungannya dengan bulan Safar menjadi bagian dari pengetahuan budaya yang disampaikan secara lisan dari orang tua kepada generasi berikutnya.

"Seperti banyak kebiasaan lama lainnya, tradisi membuat cimplo pada bulan Safar kini tidak lagi dijalankan oleh seluruh masyarakat. Sebagian masih mempertahankannya, sedangkan sebagian lainnya mulai meninggalkan kebiasaan tersebut," ungkap Suwirta.

Baginya, perubahan itu merupakan bagian dari perjalanan zaman. Meski praktiknya mulai berkurang, cerita mengenai cimplo dan bulan Bala masih hidup dalam ingatan sebagian masyarakat.

"Kalau sekarang tidak semua orang masih melakukan seperti dulu, tapi cerita tentang cimplo dan bulan Bala masih ada. Orang tua dulu mengajarkan bahwa kalau bulan itu datang, kita banyak berdoa dan bersedekah," tuturnya.

Cimplo makanan serupa apem yang diguyur gula kincaCimplo makanan serupa apem yang diguyur gula kinca Foto: Burhannudin

Menurutnya, warisan tersebut tidak perlu selalu ditempatkan dalam perdebatan mengenai benar atau salah. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni memastikan generasi muda tetap mengetahui cerita yang pernah hidup di tengah masyarakat.

"Yang kita ceritakan ini sejarah dan cerita dari orang-orang tua dulu, jadi masing-masing mungkin punya cerita yang berbeda. Yang penting generasi sekarang tahu bahwa cimplo punya cerita dan tradisi yang sudah lama dikenal di masyarakat," pungkasnya.

Pada akhirnya, cimplo menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar adonan yang dimasak lalu disiram kinca. Ada sedekah, doa, kebersamaan, dan warisan tutur yang ikut menyertainya.

Di tengah tradisi yang perlahan berubah, cimplo tetap menjadi salah satu penanda ingatan budaya masyarakat Indramayu. Rasanya mungkin sederhana, tetapi kisah yang mengiringinya menyimpan jejak tentang bagaimana masyarakat masa lalu memaknai bulan Safar, dan membangun harapan melalui kebiasaan berbagi.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads