Kisah Susi, Perajin Panjat Pinang yang Raup Cuan di Momen Kemerdekaan

Serba-serbi Warga

Kisah Susi, Perajin Panjat Pinang yang Raup Cuan di Momen Kemerdekaan

Burhannudin - detikJabar
Jumat, 14 Agu 2026 11:00 WIB
Susi sedang mengikat salah satu bagian di panjat pinang.
Susi sedang mengikat salah satu bagian di panjat pinang. (Foto: Burhannudin)
Indramayu -

Bagi Susi (52), pengusaha bambu asal Desa Pamayahan, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, momen Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bukan hanya perayaan, tetapi juga kesempatan mendulang rezeki. Sejak 2010, ia rutin membuat produk panjat pinang berbahan bambu untuk memenuhi kebutuhan perlombaan khas 17 Agustus.

Usaha bambu yang dijalankan Susi sebenarnya bukan bisnis yang baru ia rintis. Sejak 1999, ia meneruskan usaha yang sebelumnya dijalankan orang tuanya. Namun, produksi panjat pinang baru dimulai setelah seorang pelanggan meminta dibuatkan perlengkapan perlombaan tersebut.

"Awalnya saya nggak ada niat jualan produk panjat pinang, tapi karena ada yang minta dibuatkan panjat pinang, makanya saya buat," ujar Susi saat ditemui lokasi pembuatan panjat pinang miliknya, Kamis (13/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahan utama yang digunakan Susi adalah bambu gombong. Ia menyediakan dua ukuran panjat pinang, yakni sepanjang 6 meter untuk anak-anak dengan harga Rp130 ribu dan sepanjang 9 meter untuk dewasa yang dibanderol Rp180 ribu.

ADVERTISEMENT

Pesanan biasanya mulai ramai memasuki pekan pertama Agustus. Meski begitu, Susi mengaku permintaan masih bisa datang setelah 17 Agustus. Pelanggannya pun tidak hanya berasal dari Desa Pamayahan dan sekitarnya, tetapi juga dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Indramayu, seperti Terisi, Jatibarang, Losarang, dan Patrol.

Untuk membuat panjat pinang, Susi mengandalkan dua pekerja yang memiliki keahlian khusus. Menurutnya, keterampilan membuat panjat pinang tidak bisa dilakukan sembarang orang. Selain dua pekerja tersebut, terdapat sekitar lima pekerja lainnya yang membantu proses usaha bambunya.

"Kalau permintaan (produksi panjat pinang) meningkat, beberapa pekerja selain dua orang itu ikut bantu-bantu dalam pembuatan panjat pinang," katanya.

Selain para pekerja, ia juga ikut serta dalam pembuatan. Saat ditemui, tampak ia sedang mengikat salah satu bagian di panjat pinang.

Bagi Susi, kemampuan mempertahankan usaha selama puluhan tahun menjadi hal yang patut disyukuri. Dari hasil usahanya, ia bahkan mampu menyekolahkan tiga anaknya. Salah satu anaknya kini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

"Alhamdulillah saya sudah bisa menyekolahkan tiga anak, yang kedua itu sekarang lagi kuliah. Disyukuri saja," ungkap Susi.

Perjalanan usaha Susi tentu tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami kerugian sekitar Rp20 juta ketika bambu yang telah dikirim untuk sebuah proyek pembangunan di sebuah daerah di Indramayu tidak dibayar karena proyek tersebut mangkrak.

"Namanya juga usaha, saya pernah rugi sekitar Rp20 jutaan," ujarnya.

Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti. Justru, produksi panjat pinang menjadi salah satu bagian usaha yang selama ini cukup menguntungkan. Ia memperkirakan, apabila omzet kotor bisa mencapai Rp1 juta per hari, dalam sebulan nilainya dapat menyentuh sekitar Rp30 juta.

Di tengah kemeriahan lomba 17 Agustus, panjat pinang buatan Susi menjadi contoh kecil bagaimana tradisi kemerdekaan dapat sekaligus menghidupkan roda ekonomi masyarakat.

Dari bambu gombong yang diolah dengan keterampilan, sebuah perlombaan tahunan berubah menjadi sumber penghasilan bagi keluarga dan sejumlah pekerja di sekitarnya.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads