Tak semua perjalanan menuju kursi kepemimpinan dimulai dari panggung politik. Bagi Caryono, jalan itu justru berawal dari balik gerobak bakso, berpindah-pindah tempat berjualan, hingga akhirnya kembali dipercaya warga untuk memimpin Desa Tempel Kulon, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu.
Caryono kini mengemban amanah sebagai Kepala Desa (Kuwu) Tempel Kulon periode 2026-2034. Namun, jabatan tersebut bukanlah pengalaman pertamanya. Bertahun-tahun sebelumnya, ia pernah memimpin desa yang sama pada periode 2012-2017.
Kisahnya untuk kembali ke kursi kuwu pun tidak berlangsung mulus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Pilkades periode 2018-2025, Caryono sebenarnya kembali mencalonkan diri. Sayangnya, ia harus menerima kekalahan dengan selisih yang amat tipis. Hanya tiga suara yang memisahkan dirinya dengan calon pemenang.
Setelah itu, kehidupan Caryono kembali seperti semula. Ia menekuni usaha berjualan bakso untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Saya dagang di Cirebon itu sebenarnya sebentar, sekitar dua tahun, dari 2018 sampai 2019. Karena harga sewa terus naik, kemudian terbentur pandemi covid, akhirnya pindah ke Janggleng," ujar Caryono saat ditemui di Balai Desa Tempel Kulon, Kamis (13/8/2026).
Wilayah Janggleng, Desa Jatimulya, Kecamatan Terisi, menjadi tempat Caryono melanjutkan usahanya. Kendati mencari nafkah di tempat lain, rumah dan keluarganya tetap berada di Tempel Kulon.
Bagi Caryono, menjadi pedagang bakso bukan sekadar pekerjaan setelah kalah dalam kontestasi politik. Profesi itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, sekaligus mengajarkannya untuk menghadapi berbagai persoalan dengan cara sederhana.
Menjelang Pilkades serentak pada Desember 2025, Caryono mengaku tidak pernah merencanakan untuk kembali bertarung.
Bukan karena kehilangan keinginan untuk mengabdi, melainkan karena ia sadar bahwa kontestasi kepala desa membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Saat itu, kurang dari dua bulan sebelum pendaftaran dibuka, Caryono masih sibuk berjualan bakso. Ia bahkan sudah menganggap kiprahnya di pemerintahan desa sebagai masa lalu.
"Sebenarnya awalnya saya tidak mau maju. Bukan kapok, tetapi terbentur biaya. Saya waktu itu masih jualan. Tapi kemudian perwakilan masyarakat dari setiap blok datang dan meminta saya maju lagi," tuturnya.
Permintaan warga tersebut ternyata bukan sekadar dorongan moral.
Sejumlah warga berinisiatif mengumpulkan uang secara bersama-sama untuk membantu biaya pencalonan Caryono. Mereka bahkan menyatakan siap menanggung risiko apabila uang yang diberikan tidak kembali karena Caryono kalah dalam pemilihan.
Dukungan itu membuat Caryono berubah pikiran.
Dengan bekal hasil urunan masyarakat, ia akhirnya mendaftarkan diri sebagai calon kuwu. Total terdapat tiga kandidat yang bertarung dalam Pilkades Tempel Kulon 2025.
Kampanye yang dijalankan Caryono pun jauh dari kesan mewah. Ia bersama timnya lebih banyak mendatangi warga, berbincang, mendengarkan keluhan, dan menyerap harapan masyarakat.
Tidak ada janji-janji besar. Tidak pula mengandalkan praktik politik uang.
Hasilnya justru di luar dugaan.
Pada hari pemungutan suara, Caryono meraih kemenangan dengan selisih sekitar 250 suara dari dua pesaingnya yang memiliki pengalaman sebagai mantan pegawai Kementerian Agama dan mantan pegawai KUA.
"Alhamdulillah. Padahal saya cuma tukang bakso biasa dan tidak punya modal. Awalnya juga tidak ada niat maju. Karena warga yang meminta, akhirnya saya bismillah saja," katanya.
Bagi Caryono, kemenangan itu bukan sekadar keberhasilan pribadi. Ia melihatnya sebagai cermin bahwa masyarakat Tempel Kulon telah semakin dewasa dalam menentukan pilihan politik.
Menurutnya, warga memilih berdasarkan rekam jejak dan hati nurani, bukan karena iming-iming materi.
Ia menduga, kepercayaan tersebut tidak lepas dari pengalamannya ketika memimpin desa pada periode sebelumnya.
"Mungkin ketika saya menjadi kuwu periode pertama, kerja saya dirasakan masyarakat. Setelah satu periode tidak menjabat, ketika ada pencalonan lagi, mereka masih memberikan kepercayaan kepada saya," ujarnya.
Setelah resmi dilantik, Caryono tidak ingin terlalu lama beradaptasi.
Kepercayaan yang diberikan masyarakat ingin ia jawab dengan pekerjaan nyata. Pembenahan tata kelola desa, transparansi aset, hingga pembangunan infrastruktur menjadi sejumlah perhatian yang langsung dikerjakan.
Karena sebagian besar masyarakat Tempel Kulon bekerja sebagai petani, akses menuju lahan pertanian menjadi salah satu prioritas.
Pemerintah Desa Tempel Kulon juga membangun jalan beton sepanjang 427 meter dengan lebar 2,5 meter yang menghubungkan kawasan pemakaman Buyut Jatem dan Buyut Kajongan.
Sebelum dibangun, jalan tersebut kerap sulit dilewati ketika musim penghujan tiba.
"Kalau musim hujan tadinya becek. Orang yang mau silaturahmi ke makam juga kesulitan lewat. Alhamdulillah bulan April kami bangun dan sekarang jalannya sudah rata," jelas Caryono.
Perbaikan tidak berhenti di jalan desa. Halaman masjid turut direnovasi, disusul sejumlah pembangunan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Namun bagi Caryono, membangun desa tidak melulu soal beton, jalan, dan bangunan.
Tradisi masyarakat juga dianggap sebagai bagian penting dari identitas Tempel Kulon. Karena itu, pemerintah desa tetap memberikan ruang bagi kegiatan adat dan kebudayaan, mulai dari Sedekah Bumi, Mapag Tamba, Mapag Sri, hingga Unjung-unjungan yang biasanya turut dimeriahkan pertunjukan wayang.
Berbagai kegiatan tersebut tetap diupayakan berjalan meski pemerintah tengah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran.
Salah satu sumber pembiayaan desa berasal dari Pendapatan Asli Desa (PADes), termasuk hasil lelang tahunan tanah titisara.
Caryono juga membawa satu gagasan yang menjadi program unggulannya: kuwu turun langsung mendatangi masyarakat.
Melalui program tersebut, ia ingin mengetahui persoalan warga dari jarak dekat. Aspirasi yang diperoleh kemudian diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan pemerintahan desa.
Baginya, seorang kepala desa tidak cukup hanya menunggu laporan di balik meja.
Semakin sering bertemu masyarakat, semakin banyak persoalan yang bisa diketahui secara langsung.
Dalam menjalankan berbagai agenda pemerintahan desa, Caryono juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda.
Pemuda, menurutnya, bukan sekadar kelompok yang perlu dilibatkan ketika ada kegiatan. Mereka merupakan salah satu kekuatan utama yang dapat menggerakkan kehidupan desa.
Karena itu, berbagai kegiatan Pemdes Tempel Kulon diupayakan melibatkan anak-anak muda dan memberi mereka ruang untuk berkreasi.
"Makanya setiap kegiatan kami juga selalu melibatkan pemuda," katanya.
Perjalanan Caryono akhirnya menjadi cerita tentang sebuah lingkaran yang seolah kembali ke titik awal.
Pernah memimpin desa, kalah hanya dengan tiga suara, kembali berjualan bakso, lalu nyaris tidak berniat terjun lagi ke dunia politik desa. Namun, suara masyarakat membuatnya kembali melangkah.
Dari gerobak bakso, Caryono kembali ke balai desa.
Bukan dengan modal kampanye besar, melainkan dengan kepercayaan yang dikumpulkan dari warga. Dan kini, setelah kembali mengenakan atribut sebagai kuwu, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa kepercayaan tersebut memang layak diberikan kepadanya.
Sebab pada akhirnya, jabatan mungkin diperoleh melalui pemilihan. Tetapi kepercayaan masyarakat hanya bisa dipertahankan melalui kerja nyata.
(yum/yum)
