Di zaman ketika hubungan keluarga kerap renggang oleh kesibukan dan kepentingan hidup, kisah tentang kepedulian yang tulus terasa semakin jarang ditemukan. Banyak orang tua yang hidup sendirian di masa senja, bahkan dilupakan oleh anak-anak yang telah sukses.
Namun, di sebuah kampung sederhana di Desa Langgengsari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, ada cerita yang menghadirkan wajah lain dari kemanusiaan.
Adalah Wasdirah (57). Selama puluhan tahun, ia dan istrinya, Mulyati (49), mengabdikan hidup untuk merawat Sanudin (35), seorang pria lumpuh yang sama sekali bukan keluarganya.
"Saya kasihan. Sesama makhluk Gusti Allah, masa mau dibuang?" ujar Pak Wasdirah saat ditemui di kediamannya, Jumat (22/5/2026).
Bukan anak kandung, bukan saudara, bahkan tidak memiliki hubungan darah sedikit pun. Namun, kasih sayang yang diberikan Wasdirah melampaui ikatan keluarga.
Dari luar, rumah milik Wasdirah tampak biasa saja. Cat dindingnya kusam dan beberapa bagian terlihat termakan usia. Namun, di dalam rumah sederhana itulah kehidupan Sanudin bergantung sepenuhnya.
Sanudin, yang akrab dipanggil "Gebleh", telah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan fisik. Tubuhnya sulit digerakkan, bicaranya tak keluar, dan hampir seluruh aktivitas sehari-harinya harus dibantu.
Meski usianya telah memasuki kepala tiga, kondisi fisiknya membuat ia tetap harus dirawat layaknya balita. Di sampingnya, Wasdirah selalu hadir. Mulai dari menyuapi, membersihkan tubuh, mengganti pakaian, hingga menemaninya setiap hari.
"Saya benar-benar ngurusin ini ikhlas dari dalam hati," kata Wasdirah. Rutinitas itu dijalani tanpa sorotan dan tanpa berharap imbalan apa pun.
Cerita Sanudin bermula pada awal tahun 1991. Saat itu, seorang perempuan asal Tasikmalaya datang ke rumah keluarga Wasdirah dalam keadaan hamil. Ia disebut berniat menggugurkan kandungannya. Namun, keluarga Wasdirah, terutama Daniah, ibunda Wasdirah, merasa tidak tega membiarkan hal itu terjadi.
Perempuan tersebut akhirnya ditampung hingga melahirkan bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Sanudin.
Namun, kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Ketika Sanudin masih bayi, ibunya berpamitan membeli susu. Setelah itu, ia tidak pernah kembali.
Sejak saat itulah Sanudin tumbuh dalam asuhan keluarga Wasdirah.
Awalnya perkembangan Sanudin berjalan normal. Namun, saat usianya belum genap setahun, ia mengalami demam tinggi dan kejang-kejang setelah imunisasi polio.
Kondisinya terus menurun hingga akhirnya tidak mampu berjalan maupun berbicara.
Tak ada yang menyangka, bayi yang dulu ditinggalkan itu akan dirawat selama hampir empat dekade oleh orang-orang yang bahkan bukan keluarganya sendiri.
Bagi Wasdirah, merawat Sanudin bukan soal pengorbanan besar. Semua berawal dari rasa iba yang tumbuh menjadi tanggung jawab moral.
"Ini kan ada nyawanya. Mau diantar ke mana anak ini?" ucapnya lirih.
Wasdirah mengaku tidak pernah memikirkan untung ataupun beban. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana Sanudin tetap hidup layak dan tidak telantar.
Di tengah kondisi ekonomi yang terbatas, ia tetap berusaha memenuhi kebutuhan Sanudin sebaik mungkin.
Bahkan anak-anak kandungnya ikut membantu merawat dan memenuhi kebutuhan sehari-hari Sanudin.
"Ada yang beliin pampers, ada yang beliin baju juga. Mereka sayang sama dia," tutur Wasdirah.
Dengan kenyataan hidup itu, tidak ada penolakan, tidak ada rasa malu; yang ada justru penerimaan.
Datang dan perginya perempuan tak bertanggung jawab waktu itu tidak ingin ia jadikan beban pikiran.
Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Wasdirah bekerja sebagai tukang pijat kampung. Penghasilannya jauh dari kata besar. Namun, keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti berbagi kepedulian.
Di usianya yang tidak lagi muda, Wasdirah tetap menjalani hari-harinya dengan sabar.
Apa yang dilakukan pria sederhana ini seakan menjadi tamparan bagi banyak orang: bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan harta berlimpah.
Kadang, kemanusiaan hanya membutuhkan hati yang mau peduli.
Saat ditanya mengapa dirinya mampu menjalani semua itu selama puluhan tahun, Wasdirah hanya menjawab sederhana.
"Mungkin Gusti Allah sudah membuka hati dan pikiran saya. Saya cuma bersyukur sama Gusti Allah," katanya.
Dari sebuah rumah sederhana di Desa Langgengsari, Wasdirah mengajarkan bahwa menjadi manusia berarti mampu menjaga sesama, bahkan ketika dunia memilih untuk berpaling.
(orb/orb)