Merawat dan Menua dalam Sunyi di Panti Kasih Ibu Indramayu

Merawat dan Menua dalam Sunyi di Panti Kasih Ibu Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Jumat, 22 Mei 2026 07:00 WIB
Sartono dan istrinya membaringkan tubuh Tarma yang tidak berdaya lantaran stroke.
Sartono dan istrinya membaringkan tubuh Tarma yang tidak berdaya lantaran stroke. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Pagi baru saja merekah di pesisir Balongan, Indramayu. Angin laut berembus pelan melewati halaman sederhana Panti Sosial Tresna Werdha 'Kasih Ibu'. Di ruang depan bangunan itu, beberapa lansia duduk berdampingan. Sebagian menatap kosong ke arah jalan, sebagian lainnya bercakap lirih, seolah sedang mengingat masa lalu yang perlahan memudar.

Di tempat inilah, puluhan orang lanjut usia (lansia) menghabiskan sisa hidup mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak banyak yang tahu keberadaan panti tersebut. Letaknya tersembunyi di Desa Balongan, jauh dari hiruk-pikuk kota. Namun di balik bangunannya yang sederhana, tersimpan kisah tentang kesepian, pengabdian, dan kasih sayang yang tidak selalu lahir dari hubungan darah.

Beberapa penghuni datang dalam keadaan sakit dan telantar. Ada yang mengalami depresi karena terus mengingat anak-anaknya. Ada pula yang sudah bertahun-tahun terbaring akibat stroke, ia adalah Tarma, lansia dari Desa Kebulen, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

ADVERTISEMENT

"Pagi dimandikan, dijemur kalau cuaca panas, lalu disuapi makan. Mereka sudah tidak bisa apa-apa, jadi kami yang mengurus semuanya," tutur Sartono, salah seorang relawan panti, menceritakan aktivitasnya mengurus Tarma, Kamis (21/5/2026) pagi.

Di tengah keterbatasan itu, Sartono dan istrinya, Ernawati, menjadi relawan yang setia merawat para penghuni panti. Mereka bukan tenaga medis profesional. Namun keduanya menjalani pekerjaan itu dengan kesabaran yang jarang ditemukan.

Bagi Sartono, para lansia di panti bukan sekadar penghuni. "Saya anggap mereka seperti orang tua saya sendiri. Bagaimanapun harus tetap diurus," katanya pelan.

Sementara Ernawati hampir mengerjakan semuanya: memasak, mencuci, memandikan penghuni, hingga membersihkan ruangan. Rutinitas itu dilakukan setiap hari tanpa banyak keluhan.

Di antara para penghuni, ada sosok Mayang, perempuan yang disebut sebagai penghuni paling lama di panti itu. Ia tidak dapat berbicara maupun berjalan. Sejak kecil dititipkan di sana, keluarganya tak pernah kembali datang. Kini usianya diperkirakan lebih dari 20 tahun.

Mayang hanya bisa terbaring diam. Ernawati menceritakan nasib Mayang yang malang. "Dulu sempat dicari keluarganya. Tapi rumahnya sudah dijual dan tidak ada kabar lagi," ungkapnya.

Kisah lain datang dari Eka Taruna, seorang tunanetra asal Majalengka. Meski kehilangan penglihatan selama tujuh tahun terakhir, lelaki berusia 63 tahun itu masih berusaha berguna bagi orang lain. Ia membantu memijat penghuni lain sambil sesekali mengenang masa mudanya sebagai komandan hansip.

"Saya dulunya komandan hansip waktu zamannya Pak (Presiden RI) Harto," kenangnya.

Di sela percakapan, Eka bernyanyi dengan suara lantang. Lagu-lagu lawas yang dinyanyikannya membuat suasana panti terasa hangat, meski sesaat.

Ketua Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Ibu, Satirno, menceritakan bahwa panti ini berdiri sejak tahun 1971. Awalnya bangunan itu hanya berupa bilik kayu sederhana dengan pagar rapuh.

Ketika Satirno mulai mengelolanya pada awal tahun 2000-an, kondisinya sangat memprihatinkan.

"Hati kami terketuk," katanya mengenang.

Dengan modal sekitar tiga juta rupiah, ia mulai membangun ulang panti sedikit demi sedikit. Perjalanan mereka tidak mudah. Pembangunan sempat terhenti karena kekurangan biaya. Mereka bahkan harus bolak-balik mengajukan bantuan ke Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, dan beberapa pihak swasta.

Hingga akhirnya bantuan dari seseorang yang berasal dari Jepang, yang sengaja datang dan membantu pembangunan panti.

Bantuan datang silih berganti, terutama dari pemerintah. Namun hingga kini, perjuangan mereka belum selesai.

Sebagai panti swasta, operasional sehari-hari sangat bergantung pada donatur. Kebutuhan terbesar datang dari biaya popok dewasa, makanan, obat-obatan, dan perawatan penghuni yang sebagian besar sudah tidak mandiri.

"Dua hari saja biaya pampers bisa sampai Rp 150 ribu," ujar Satirno.

Meski begitu, ia mengaku tetap bertahan karena merasa memiliki ikatan batin dengan para lansia di tempat tersebut. "Orang tua saya sudah tidak ada. Jadi, di sini saya merasa masih bersama orang tua," katanya.

Di tempat sederhana itu, kasih sayang hadir dalam bentuk yang paling sunyi: menyuapi orang yang tak lagi mampu menggenggam sendok, memandikan tubuh renta, dan menemani mereka yang perlahan dilupakan keluarganya sendiri.

Panti Sosial Tresna Werdha 'Kasih Ibu' mungkin bukan bangunan megah. Namun di sana, kemanusiaan tetap hidup, dirawat oleh Satirno serta dua orang relawan, Sartono dan Ernawati yang memilih untuk tidak menutup mata terhadap mereka yang menua dalam kesendirian.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads