Beberapa Hal yang Dilakukan dalam Tradisi Memitu di Indramayu

Beberapa Hal yang Dilakukan dalam Tradisi Memitu di Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Sabtu, 16 Mei 2026 20:30 WIB
Seorang ibu menyiram anaknya (ibu hamil tujuh bulan) dengan air kembang yang sudah didoakan dalam tradisi memitu di Indramayu
Seorang ibu menyiram anaknya (ibu hamil tujuh bulan) dengan air kembang yang sudah didoakan dalam tradisi memitu di Indramayu (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Ritus atau tradisi memitu (tujuh bulanan ibu hamil) masih bertahan di tengah masyarakat Desa Leuwigede Kecamatan Widasari, dan Desa Legok Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. Tradisi yang dilakukan saat usia kandungan memasuki tujuh bulan itu bukan sekadar ritual adat, melainkan menjadi ruang mempererat silaturahmi, memperkuat spiritualitas, sekaligus ungkapan rasa syukur atas anugerah kehamilan.

Berdasarkan hasil wawancara bersama tokoh masyarakat dan ulama di desa tersebut, tradisi memitu masih dipertahankan sebagai bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat.

Sebagai masyarakat yang hidup bersosial, warga Leuwigede masih menjaga tradisi kehamilan seperti ngupati dan memitu. Tahapi, selaku ulama dan tokoh masyarakat Desa Leuwigede, menjelaskan bahwa memitu umumnya dilakukan secara meriah terutama pada kehamilan anak pertama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memitu umumnya di Leuwigede dan sekitarnya secara ramai dilakukan umumnya pada kandungan anak pertama dan dijadikan sebagai ajang ungkapan syukur dan ajang silaturahmi," ujarnya kepada detikJabar, Jumat (15/5/2026).

ADVERTISEMENT

Hal senada disampaikan Rohmani, ulama dan tokoh masyarakat Desa Legok. Menurutnya, tradisi memitu mengandung kekuatan emosional dan spiritual bagi ibu hamil serta keluarga.

"Komunikasi dan jalinan silaturahmi dalam memitu memberikan kekuatan spiritual kepada ibu dan anak dalam kandungan bahwa mereka hidup dipenuhi dengan kasih sayang keluarga. Hal tersebut tergambar dari sikap majengan (saling membantu) dalam menyukseskan prosesi memitu," katanya, di waktu yang sama.

Dalam pelaksanaannya, memitu memiliki tujuan utama sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT sekaligus memohon kesehatan, keselamatan, dan kelancaran bagi ibu hamil dan bayi dalam kandungan. Rasa syukur tersebut diwujudkan melalui doa bersama atas perjalanan kehamilan hingga usia tujuh bulan.

Selain itu, memitu juga dimaknai sebagai prosesi pembersihan diri secara spiritual agar ibu dan bayi terhindar dari hal-hal negatif. Prosesi ini dilakukan melalui beberapa tahapan yang melibatkan keluarga dan masyarakat sekitar.

Disampaikan Tahapi, masyarakat biasanya diajak membantu membuat bilik atau kerobong pemandian memitu serta menyiapkan perlengkapannya. Warga juga ikut majengan atau membantu menyiapkan sajian jamuan untuk tamu undangan.

"Tuan rumah kemudian mengundang tujuh orang ulama, ustaz, atau santri untuk memimpin rangkaian doa bersama keluarga dan masyarakat. Dalam prosesi tersebut biasanya disediakan berbagai perlengkapan serba tujuh sebagai simbol dalam tradisi memitu," ungkap Tahapi.

Tujuh pembaca Al-Qur'an memulai acara dengan penjelasan mengenai tradisi memitu, tawasul, kirim doa kepada keluarga yang telah wafat, pembacaan surat pendek dan umumnya Surat Lukman, lalu ditutup dengan doa bersama.

Usai doa, tamu undangan disuguhi hidangan nasi lengkap dengan lauk, buah-buahan, nasi tumpeng, hingga pekakak ayam. Sajian tersebut menjadi simbol rasa syukur dan berbagi kebahagiaan kepada masyarakat sekitar.

Puncak prosesi dilakukan melalui ritual siraman. Ibu hamil dimandikan menggunakan air bunga tujuh rupa yang telah didoakan oleh tujuh ulama atau santri tadi. Prosesi dilakukan bergiliran oleh suami, orang tua kandung, mertua, saudara dekat, tetangga, hingga sahabat. Ritual ini melambangkan penyucian diri secara spiritual menjelang persalinan.

Setelah siraman selesai, keluarga yang memandikan biasanya memberikan sedekah sebagai modal persalinan. Tradisi lain yang masih dijaga adalah membelah kelapa gading berukir wayang serta memecahkan kendi berisi air siraman di pertigaan atau perempatan jalan, sebagai simbol membuang segala hambatan dalam proses persalinan.

Masih dari penuturan Tahapi, rangkaian acara kemudian ditutup dengan sungkeman ibu hamil kepada orang tua, mertua, sesepuh, dan suami untuk memohon maaf sekaligus doa restu agar proses persalinan diberikan keselamatan.

Akademisi dan pengelola Perpustakaan S16 Desa Leuwigede, Ahmad Khoeri, mengatakan bahwa tradisi memitu di setiap daerah memiliki perbedaan sesuai adat dan interpretasi budaya masing-masing.

Setiap wilayah dalam prosesi memitu sangatlah beragam. Hal tersebut tergantung pada adat istiadat setempat dan interpretasi budaya yang berbeda-beda. Namun perlu disadari bersama bahwa tradisi memitu memberikan berkah dan doa bagi ibu dan bayi yang dikandung.

"Intinya gini, konsep utama memitu yaitu ungkapan rasa syukur dan doa agar sehat, selamat, dan lancar segala proses kehamilan sampai persalinan," tuturnya.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads