Cirebon Bangun 5 Sumur Artesis Hadapi Kemarau 2026

Devteo Mahardika - detikJabar
Kamis, 07 Mei 2026 19:30 WIB
Ilustrasi kekeringan. Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Cirebon -

Di tengah cuaca yang masih kerap diguyur hujan, Pemerintah Kabupaten Cirebon mulai bersiap menghadapi ancaman yang datang perlahan setiap tahun yakni ancaman kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon bergerak lebih awal dengan memperkuat sumber air di sejumlah wilayah rawan kekeringan.

Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan tidak akan berlangsung ekstrem. Namun, perubahan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat pemerintah daerah memilih untuk tidak lengah. Berdasarkan prakiraan BMKG, periode kering diperkirakan berlangsung selama tiga hingga empat bulan, mulai Juni hingga September.

Di sejumlah daerah selatan dan timur Kabupaten Cirebon, keberadaan sumur artesis kini menjadi harapan baru bagi warga saat musim kemarau datang. Lima titik sumur dalam yang dibangun melalui kerja sama antara BPBD Kabupaten Cirebon dan Pusterad telah mulai beroperasi dan dimanfaatkan masyarakat.

Sekretaris Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Samsul Huda mengatakan pembangunan sumur artesis dilakukan sebagai langkah antisipasi agar masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.

"Lima titik yang bagus untuk sumur artesis itu berada di Desa Cupang dan Desa Walahar, Kecamatan Gempol. Kemudian di wilayah timur ada di Desa Greged, Desa Kamarang, Kecamatan Greged, serta Desa Beber, Kecamatan Beber," ujar Samsul, Kamis (7/5/2026).

Sumur-sumur tersebut dibangun di kawasan yang dinilai memiliki cadangan air tanah cukup baik. Kehadirannya mulai dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari saat debit air permukaan mulai menurun.

Menurut Samsul, pembangunan sumur artesis perlahan mulai mengurangi wilayah terdampak kekeringan yang selama ini menjadi persoalan rutin setiap musim kemarau. Wilayah selatan, barat, hingga sebagian utara Kabupaten Cirebon kini mulai memiliki cadangan sumber air alternatif.

Meski begitu, tantangan belum sepenuhnya selesai. Pemerintah daerah masih berupaya menambah lima titik sumur baru, terutama untuk wilayah utara Kabupaten Cirebon seperti Jamblang, Pamengkang, Banjarwangunan, dan sekitarnya. Kawasan tersebut selama ini dikenal rentan mengalami krisis air bersih.

Namun kondisi geografis menjadi hambatan tersendiri. Struktur tanah di wilayah utara yang didominasi pasir membuat sumber air tanah sulit ditemukan.

"Kalau di jalur utara, sumber airnya sulit ditemukan. Seperti di Dawuan, wilayahnya sering banjir tetapi tidak memiliki sumber air dalam karena struktur tanahnya pasir," katanya.

Ironisnya, beberapa wilayah yang kerap dilanda banjir justru kesulitan mendapatkan cadangan air bersih saat kemarau tiba. Kondisi ini membuat pemerintah harus menyiapkan strategi berbeda.

Untuk daerah yang sulit dijangkau sumber air tanah, distribusi air bersih melalui mobil tangki masih menjadi andalan. Pemerintah daerah juga menggandeng PDAM untuk memastikan pasokan air tetap tersedia bagi masyarakat.

Hingga saat ini, BPBD memastikan stok air bersih di Kabupaten Cirebon masih dalam kondisi aman. Pemerintah pun terus memantau perkembangan cuaca yang dinilai semakin dinamis akibat perubahan iklim global.

Meski hujan masih turun di beberapa wilayah, kondisi saat ini disebut sebagai masa pancaroba. Pergeseran musim yang tidak menentu membuat pola kekeringan sulit diprediksi seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Kabupaten Cirebon memang diperkirakan memasuki musim kering, tetapi masih ada hujan. Cuaca ekstrem juga dipengaruhi banyak faktor," ujarnya.

Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan tidak masuk kategori ekstrem tinggi.




(sud/sud)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork