Garis pantai utara Karawang sepanjang 84 kilometer bukan sekedar angka. Sepanjang wilayah itu merupakan tempat tinggal dan tempat mencari pencaharian bagi ribuan warga.
Namun, seiring dengan memburuknya iklim global. Garis pantai tersebut terancam terkikis sedikit demi sedikit, abrasi membuat lahan Karawang seolah-olah habis dilahap oleh Laut Jawa.
"Pantura Karawang punya potensi besar di bidang bahari. Tapi di sisi lain, kita juga dihadapkan pada tantangan seperti abrasi, kerusakan mangrove, hingga dampak perubahan iklim," kata Bupati Karawang Aep Syaepuloh dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bupati menyadari harus bergerak cepat. Pihaknya pun kemudian membuat langkah dengan melakukan penanaman mangrove, hingga pengajuan usulan pembangunan tanggul laut atau sea wall.
Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum dan Penantaan Ruang Kabupaten Karawang pada 2020 lalu, sedikitnya 23,23 kilometer garis pantai di Karawang memiliki kondisi abrasi yang buruk. Kemudian 40,8 kilometer lainnya memiliki kondisi abrasi yang sedang, dan 17,9 kilometer memiliki kondisi abrasi yang baik.
Sementara itu, pembangunan tanggul diprioritaskan untuk wilayah-wilayah kritis yang kerap terdampak, seperti Desa Sedari, Cemarajaya, hingga Pusakajaya Utara.
Desa Cemarajaya, Apakah Jadi 'Atlantis' ?
Jalan penghubung antar Kecamatan di Desa Sedari, Kabupaten Karawang tergerus abrasi Foto: Irvan Maulana/detikJabar |
Kaur Umum Desa Cemarajaya Pendi Aryanto mengatakan, abrasi parah terjadi sejak tahun 2007 silam. Menurutnya, tanah yang dulunya perkampungan di Desa Cemarajaya tergerus ombak dan tenggelam.
"Abrasi parah terjadi sejak tahun 2007, tanah Cemarajaya itu sudah mulai tergerus abrasi," kata Pendi.
Ia mengungkap ada beberapa dusun yang tenggelam di Cemarajaya, alhasil ratusan warga yang terdampak harus direlokasi ke tempat yang lebih aman. Warung-warung di Pantai Pisangan yang biasanya ramai dikunjungi oleh penduduk pun kini tak tersisa.
"Selain rumah, ada lebih dari 100 warung yang sudah habis, karena mengingat awal tahun 2003 Pantai Pisangan di Cemarajaya ini sempat jadi tempat wisata yang cukup besar di Karawang," ujar dia.
Pendi menuturkan, abrasi tak hanya menggerus perumahan warga dan nelayan setempat. Namun juga tempat pemakaman umum (TPU) mulsim, tanah lapangan yang dijadikan warga untuk bermain bola di bibir pantai hingga sumur keramat yang konon peninggalan wali.
detikJabar menangkap fenomena abrasi ini dengan melihat perubahan morfologi di bibir Pantai Pisangan melalui citra satelit yang ditampilkan Living Atlas. Redaksi menjadikan Masjid Nurul Jannah 2 yang letaknya dua kilometer di barat laut Kantor Desa Cemarajaya sebagai patokan.
Sebab, Masjid Nurul Jannah 2 kini berada di sebuah tanjung yang menjorok ke lautan pada citra satelit tahun 2022. Jika dilihat lebih dekat, pembatas masjid dan laut hanya berupa tanggul dengan selisih ketinggian beberapa meter saja dari muka air.
Sedangkan pada citra satelit tahun 2014 atau 8 tahun silam, Masjid Nurul Jannah 2 belum terbangun, tetapi dapat dipastikan bahwa di samping kiri dan kanan lahan yang dijadikan masih masih berderet bangunan-bangunan dan masih ada pasir di bibir pantai.
Tak hanya di sekitar Masjid Nurul Jannah 2 (yang ditandai lingkaran warna merah di gambar), bibir pantai yang bersinggungan langsung dengan Laut Jawa juga tampak terkikis perlahan oleh ombak. Puing-puing bekas bangunan juga terlihat dan menambah kesan peninggalan 'Atlantis' di Karawang.
Pantai Sedari ini bila dihitung dengan perhitungan jarak di Google Maps sekitar 10 kilometer dari Pantai Pisangan yang menjadi memunculkan cerita 'Atlantis' dari Karawang. Tentu saja ancaman abrasi ini tak hanya terjadi Karawang, tetapi juga di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa Barat yang berdampingan dengan Laut Jawa seperti Bekasi, Subang, Cirebon, dan Indramayu.
Hal serupa juga terlihat di pantai Pusakajaya Utara. Abrasi terlihat melihat tambak yang tersisa.
Wacana Pembangunan Giant Sea Wall
Pemerintah bakal membangun Giant Sea Wall (GSW) atau tanggul laut raksasa akan dibangun untuk membentengi pesisir Pantai Utara (Pantura) sepanjang 535 Km. GSW akan membentang melintasi lima provinsi dari Banten hingga Jawa Timur.
Secara rinci, GSW akan membentang 42,5 km di Banten, 42,8 km di Jakarta, 104 km di Jawa Barat, 274,7 km di Jawa Tengah, dan 71,6 km di Jawa Timur. GSW akan membentang di lima wilayah kota dan 25 wilayah kabupaten di lima provinsi tersebut.
Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit Herdiawan Ashaf mengatakan, GSW merupakan bagian dari strategi nasional untuk menjaga keberlanjutan peradaban pesisir Pantura Jawa.
"Yang dilindungi bukan hanya garis pantai, tetapi peradaban ruang hidup masyarakat, pusat pertumbuhan ekonomi, serta keberlanjutan generasi mendatang. Pendekatan yang dilakukan bersifat terukur, bertahap, dan berbasis kajian ilmiah," ujar Didit dalam konferensi pers di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).
Ia menambahkan, perlindungan pesisir pantai tidak hanya sebagai pembangunan tanggul laut, melainkan sebagai sistem terintegrasi yang mengombinasikan tanggul laut (offshore dike), tanggul pantai (onshore dike), serta solusi berbasis alam (nature-based solutions) seperti penguatan ekosistem mangrove.
Wilayah Pantura Jawa menghadapi tantangan serius berupa penurunan muka tanah, kenaikan muka air laut, banjir akibat hujan, serta banjir rob. Kondisi ini berdampak pada permukiman, kawasan industri, pelabuhan, bandara, lahan pertanian, berkurangnya garis pantai dan daratan, serta infrastruktur strategis nasional.
Saat ini sekitar 17 juta penduduk berada di wilayah terdampak, sementara kawasan tersebut memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Didit menyatakan, GSW bukan satu struktur tunggal yang dibangun serentak, melainkan sistem perlindungan bertahap yang diprioritaskan berdasarkan karakteristik risiko, kondisi teknis, dan kebutuhan setiap wilayah.
Pembangunan GSW diharapkan tetap memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan nelayan. Di samping fungsi utamanya sebagai pelindung pesisir, tanggul laut juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan fasilitas strategis seperti tol, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta pembentukan danau retensi sebagai solusi penyediaan air baku.
"Perlindungan Pantura Jawa merupakan investasi jangka panjang untuk memastikan wilayah pesisir tetap menjadi ruang hidup yang aman, produktif, dan berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang," tutupnya.
(yum/yum)

