Ekspansi Kopi Karangsari Kuningan Terhambat Lahan

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Senin, 20 Apr 2026 20:30 WIB
Kopi Karangsari Kuningan (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Meski memiliki potensi besar, para petani kopi di Desa Karangsari, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, masih menghadapi sejumlah hambatan yang mengganjal perkembangan produksi. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan lahan, yang membuat petani kesulitan memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Sekretaris Desa Karangsari, Dede Rokanda, menjelaskan bahwa ketersediaan lahan menjadi isu krusial. Ia menyebut, lahan di wilayahnya tidak hanya digunakan untuk perkebunan kopi, tetapi juga untuk komoditas hortikultura yang sejak lama menjadi tulang punggung ekonomi warga.

Kondisi ini membuat para petani kopi berada dalam dilema. Di satu sisi, permintaan kopi terus meningkat, namun di sisi lain, perluasan lahan berisiko mengganggu pasokan sayuran yang sudah mengakar secara turun-temurun.

"Kendala lahan, memang kita bertabrakan sama petani lokal yang hortikultura terutama karena sayuran komoditi turun-temurun dari zaman dulu dan nggak bisa dihilangkan juga. Apalagi itu pemasok utama untuk Kuningan, Cirebon, Indramayu, sampai Jakarta. Ada sawi, kol, tomat, bawang daun. Untuk lahan kopi sulit bertambah, karena takut ada perubahan di pemasok sayuran di pasar nanti," tutur Dede.

Akibat keterbatasan tersebut, petani kopi di Karangsari belum mampu mengoptimalkan peluang pasar, termasuk untuk memenuhi permintaan dalam skala besar maupun ekspor.

Untuk mengatasi persoalan ini, Dede berharap adanya dukungan dari pihak Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), khususnya melalui pembukaan zona tradisional yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk budidaya kopi secara legal dan berkelanjutan.

"Dari Kopi Karangsari saya punya satu harapan yang sampai sekarang belum terlaksana. Harapannya di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Kalau zona tradisional sudah dibuka, perjanjian kerja sama antara petani hutan sama Taman Nasional sudah jadi, baru kita ada keleluasaan untuk meningkatkan produksi. Karena selama ini, permintaan ada cuman masih belum bisa memenuhi, ekspor juga skalanya masih kecil kecilan," tutur Dede.

Keluhan serupa disampaikan Budianto, salah seorang petani kopi Karangsari. Ia mengaku kerap menolak permintaan dalam jumlah besar karena keterbatasan produksi. Bahkan, peluang ekspor pun belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.

"Pemasaran sebenarnya tidak ada kendala, justru kita kekurangan stok. Pernah ada permintaan dari Portugal minta 1.000 ton per tahun, tapi kita belum berani sanggupi karena lahan kita belum cukup produksinya. Inginnya ada pendampingan lebih dari dinas terkait. Edukasi ke petani juga penting, karena masih banyak yang pakai sistem 'paron' (bagi hasil tradisional) dan belum paham cara memilah jenis kopi yang benar. Padahal secara rasa, kopi kita ini lebih seimbang, tidak terlalu asam seperti kopi Gayo," tutur Budianto.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Kuningan, Dian, menyatakan bahwa pemerintah daerah akan melakukan sejumlah langkah strategis untuk mendorong peningkatan produksi sekaligus kualitas kopi. Salah satunya melalui intensifikasi pertanian dengan penerapan standar yang lebih terukur di setiap tahapan budidaya.

"Kita intensifikasi dulu. Bagaimana proses mulai dari bibit, pengolahan, penanaman, dan perawatan itu betul-betul ada standarnya, ada parameternya, sehingga di samping meningkatkan kualitas, juga meningkatkan kuantitas produksinya meningkat dari waktu ke waktu," tutur Dian.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Kuningan juga berencana menggandeng pihak swasta untuk memperkuat ekosistem industri kopi. Kerja sama ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani.

"Kita juga menggandeng dari pihak ketiga, pihak swasta yang expert, sehingga meningkatkan kualitas kopi itu sendiri termasuk juga meningkatkan kuantitas. Harga juga jadi terjamin artinya kita jaga harga kopi juga supaya tidak fluktuatif. Nah kita perlu di sini juga menggandeng dari pihak swasta, pihak ketiga supaya memberikan jaminan offtaker supaya petani betul-betul fokus saja untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas," tutur Dian.

Dengan berbagai upaya tersebut, Dian optimistis kopi asal Kuningan, khususnya dari Karangsari, mampu bersaing di pasar global. Ia menilai kualitas kopi daerah tersebut telah terbukti mampu menembus seleksi ketat di tingkat internasional.

"Saya optimis kopi yang berasal dari Kuningan ini bisa menembus pasaran internasional karena kualitasnya cukup baik dan sudah terbukti dua tahun berturut-turut kita lolos terus ke kurasi. Dan ini kan kurasi kopi tingkat internasional sangat ketat, artinya kualitas kopi Kuningan khususnya dari Karangsari ini cukup bagus," pungkas Dian.



Simak Video "Video Misteri Ratusan Ikan "Jelmaan Prajurit Prabu Siliwangi" Mati Mendadak!"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork