Desa Karangsari yang terletak di Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, merupakan salah satu daerah penghasil kopi unggulan di Jawa Barat. Mengingat lokasinya yang berada di dataran tinggi, pengunjung yang ingin menuju Kedai Kopi Merta Karangsari harus melintasi jalur menanjak yang cukup menantang adrenalin.
Di sepanjang perjalanan, mata pengunjung akan dimanjakan dengan hamparan perkebunan kopi dan sayuran yang luas. Udara sejuk khas pegunungan menyelimuti rute menuju lokasi. Setelah melewati objek wisata Bumi Perkemahan Pasir Batang, tampak sebuah kedai kopi yang berdiri kokoh di tengah keasrian perbukitan.
Siang itu, di tengah aktivitas para petani yang sedang melaksanakan panen raya, sejumlah pemuda tampak sibuk menyiapkan pesanan kopi. Di hadapan mereka, tersedia mesin pengolah kopi, susu, gula, serta biji kopi berkualitas yang dipasok langsung oleh petani lokal Desa Karangsari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kopi Karangsari Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib |
Setelah menunggu beberapa saat, secangkir kopi Arabika khas Karangsari siap disajikan. Aroma kuat segera menyeruak saat menyesap kopi tersebut. Dengan karakteristik warna hitam pekat, kopi Arabika Karangsari menawarkan cita rasa pahit yang khas dan autentik, terlebih jika dinikmati sembari memandang panorama perbukitan Pasir Batang yang hijau.
Selain kopi Arabika, detikJabar juga berkesempatan mencicipi kopi susu Robusta Karangsari. Berbeda dengan varian Arabika, kopi susu Robusta ini disajikan dingin dengan tambahan es batu. Perpaduan antara manisnya susu dan karakteristik pahit kopi Robusta menciptakan sensasi rasa yang seimbang di lidah.
Di balik kelezatan kopi Karangsari, terdapat dedikasi dan perjuangan warga dalam mengolah komoditas tersebut hingga siap dikonsumsi. Pengelola Kopi Merta Karangsari, Omas, menjelaskan bahwa setelah dirawat oleh para petani selama berbulan-bulan lalu dipetik dari pohon, kopi Arabika harus melalui serangkaian tahapan pengolahan yang presisi.
Tahap pertama dimulai dengan pemilihan buah kopi yang telah matang (petik merah) untuk dikupas. Selanjutnya, biji kopi direndam dalam air selama puluhan jam, dicuci bersih, kemudian dijemur hingga kering. Menurut Omas, proses ini krusial untuk menghilangkan lendir sekaligus memperkuat profil rasa kopi Arabika.
"Pertama kan kita petik merah untuk ceri kopinya, terus dikupas, di-pulper lah. Setelah itu direndam selama kurang lebih 32 jam-an. Lalu dicuci ampasnya hingga kesat. Nah setelah itu baru dijemur sampai kering. Tujuannya agar getahnya dan lendir-lendirnya nggak nempel. Terus keduanya kan untuk cita rasanya agar lebih asam nikmat gitu," tutur Omas. Rabu (22/4/2026).
"Untuk robusta prosesnya lebih natural. Setelah di petik kita lakukan perambangan di air. Biji-biji yang dimasukkan ke bak penampungan. Nanti biji yang kurang bagus itu akan mengapung lalu kita ambil. Nah yang tenggelam kita cuci hingga bersih, ditiriskan, dijemur langsung," tambah Omas.
Kopi Karangsari Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib |
Omas memaparkan bahwa dalam seluruh proses pengolahan tersebut, pihaknya memberdayakan puluhan warga lokal yang terdiri dari petani, pengolah, hingga tenaga pengemasan. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
"Kalau di Merta Kopi sendiri itu ada sekitar 20 orang yang terlibat. Petani kopi ada 10, ibu ibu pengolah kopi ada 6 sama sisanya paling pengurus untuk pengemasan dan pemasarannya. Bahkan untuk proses pemetikan kita melibatkan masyarakat. Contoh kemarin waktu ada acara panen bersama Bupati juga kita kan memberdayakan masyarakat setempat untuk pemetikan cherry kopi," tutur Omas.
Merta Kopi sebelumnya dikenal dengan nama Destana Kopi yang didirikan pada masa pandemi COVID-19. Pada saat itu, mereka mulai mendalami potensi kopi Arabika di Karangsari. Seiring perkembangannya, pada tahun 2025, Destana Kopi resmi bertransformasi menjadi Merta Kopi.
"Dulunya namanya Destana Kopi. Jadi bertransformasi berhubung nama Destana kan nama lembaga kebencanaan yakni Desa Tangguh Bencana (Destana). Akhirnya bertransformasi ke Merta Coffee. Merta Kopi artinya keberkahan dalam kehidupan. Jadi siapa sih yang nggak ingin hidupnya berkah, banyak keberkahan, rezeki melimpah. Ya kita rintis, kita bertransformasi dari Destana ke Merta alhamdulillah banyak perubahan," tutur Omas.
Dalam kurun waktu satu tahun, Merta Kopi mampu memproduksi hingga 10 ton buah kopi. Setelah diolah menjadi green bean (biji kopi mentah), produk tersebut dipasarkan dengan harga Rp150.000 per kilogram. Omas menyebutkan, volume penjualan tertinggi mencapai 9 kuintal biji kopi dengan omzet menyentuh angka ratusan juta rupiah. Selain biji kopi, mereka juga memproduksi kopi dalam kemasan botol.
"Paling banyak yang pernah kita jual itu 9 kuintal. Omzet dikisaran kemarin itu hampir Rp 150 juta di tahun 2024-2025. Soalnya kan kalau kopi nggak habis di tahun itu. Paling banyak itu dijual ke sekitar Kuningan kayak Indramayu, Cirebon. Per botol itu kebetulan ada dua varian, ada yang 200 ml dan 250 ml. Kalau kita jual ke reseller itu di angka yang 200 ml itu 12.500, kalau yang 250 ml itu kita jual 16.000. Untuk botol kita baru produksi di bawah 1.000 botol, karena baru berjalan 4 bulanan," tutur Omas.
Kopi Karangsari Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib |
Meskipun permintaan pasar terus meningkat, Merta Kopi masih menghadapi kendala dalam memenuhi seluruh pesanan akibat keterbatasan modal. Lewat Kedai Merta Kopi yang didirikan, Omas berharap ke depannya unit usaha ini dapat terus berkembang lebih pesat dan menjadi motor ekonomi desa.
"Untuk permintaan yang sudah-sudah, kita satu kedai saja minimalnya itu 3 ton, kita nggak sanggup. Paling kita di angka kuintal. Soalnya untuk kita mendapatkan ceri dari petani saja kita bersaing masalah harga. Jadi kendala utamanya di permodalan. Jadi kita sesuaikan dengan kemampuan permodalan. Untuk kedai juga ini baru, masih perlu pengembangan menyesuaikan sama kunjungan wisatawan juga," pungkas Omas.
(tya/tya)



