Desa Karangsari yang terletak di Kecamatan Darma merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Kuningan dengan potensi komoditas kopi yang signifikan. Dalam satu siklus panen, perkebunan kopi di desa ini mampu menghasilkan puluhan ton biji kopi untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun mancanegara, dengan omzet mencapai puluhan juta hingga miliaran rupiah.
Aen (58), salah seorang petani kopi setempat, mengungkapkan bahwa profesi ini telah ditekuni secara turun-turun dalam keluarganya. Berada di wilayah dataran tinggi, Desa Karangsari tercatat telah menjadi lahan perkebunan kopi sejak era Hindia Belanda.
Menurut Aen, kondisi kesejahteraan petani kopi saat ini jauh lebih baik dibandingkan masa lalu. Stabilitas harga serta tingginya permintaan pasar memastikan hasil panen dari Desa Karangsari selalu terserap habis oleh para pembeli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya menjadi petani kopi mungkin sejak saya kecil, sudah 40 tahun jadi petani karena orang tua sudah menanam kopi. Ada dua jenis kopi, ada Arabika dan Robusta. Keduanya sangat cocok karena ini ada ketinggian MDPL-nya 1.100. Kalau dibandingkan dulu enak sekarang, pasarnya bagus, kan kedai kopi makin banyak. Terus kualitasnya juga lebih bagus, apalagi yang Arabika, sebelum panen malah sudah ada yang pesen dulu," tutur Aen.
Kopi yang dikelola oleh Aen umumnya dipanen satu kali dalam setahun. Dari hasil usahanya, ia mampu memproduksi sekitar 7 kuintal biji kopi dengan nilai omzet mencapai puluhan juta rupiah. Di masa mendatang, Aen berharap Kabupaten Kuningan memiliki galeri kopi khusus sebagai pusat pemasaran produk unggulan.
"Kalau saya itu ada 100 bata atau 1.400 meter persegi. Hanya 250 pohon atau 300 paling banyak pohon. Itu hanya bisa menghasilkan cherry ya atau buah biji kopinya sekitar 7 kuintal. Harganya dipasaran sekarang lagi Rp 15.000 perkilo untuk petik merah. Untuk omzetnya itu yah bisa Rp 10 juta sih dapat. Ke depan, harapannya semoga Kuningan punya galeri kopi yang isinya produk kopi Kuningan unggulan, " tutur Aen.
Senada dengan Aen, petani lainnya, Budianto (50), menegaskan besarnya potensi agribisnis kopi di Desa Karangsari. Budianto mengelola lahan seluas 10 hektare yang mampu menghasilkan puluhan ton biji kopi dengan nilai ekonomi mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah per musim panen.
"Saya punya luas lahan 10 hektare. Kemarin tercatat saat panen ada sekitar 56 ton.Sekarang di tahun 2026 ini, harganya sudah Rp15.000 sampai Rp20.000 per kilo. Omzetnya kalau dihitung-hitung bisa ratusan juta sampai Rp1,5 miliar sekali musim panen," tutur Budianto.
Kopi Karangsari Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar |
Selain membudidayakan varietas Arabika dan Robusta, Budianto juga mengembangkan kopi jenis Excelsa serta Liberika. Karakteristik lahan yang berada di ketinggian tertentu dinilai sangat mendukung pertumbuhan kedua varietas tersebut.
"Ketinggian lahan kita di sini mulai dari 800-an mdpl sampai ke puncaknya itu di 1.100-an mdpl. Selain Robusta dan Arabika. Kita juga mulai coba tanam Excelsa sama Liberika dengan luas sekitar 100 bata. Untuk Liberika memang masih sedikit, karena masih endemik, nggak kayak Robusta yang bisa ratusan ton," tutur Budianto.
Sementara itu, Sekretaris Desa Karangsari, Dede Rokanda, menjelaskan bahwa terdapat puluhan hektare lahan kopi yang tersebar di wilayahnya. Lahan tersebut dikelola oleh puluhan petani dengan total produksi sekitar 150 ton kopi. Secara akumulatif, hasil panen tersebut mampu menggerakkan roda ekonomi hingga miliaran rupiah.
"Paling kalau ditotal 10 hektaran Arabika. Kalau yang Robusta 30 hektar ada. Untuk petaninya yang masuk sekarang di koperasi itu ada 28 anggota. Untuk panen bisa ratusan ton, tinggal di kali saja. Sekarang kan harganya Rp12.000 sampai Rp17.000. Perputaran uangnya bisa miliaran sekali panen. Pendapatannya itu buat masyarakatnya, para petani dan anggota koperasinya," tutur Dede.
Dede menambahkan, khusus untuk varietas Arabika, permintaan pasar melonjak tajam setelah berpartisipasi dalam ajang World of Coffee. Tingginya minat pasar tersebut bahkan melampaui kapasitas produksi yang mampu disediakan oleh para petani di Desa Karangsari saat ini.
"Alhamdulillah untuk kopi nggak ada kesulitan penjualan, bahan rebutan kayak setelah terlibat di Jakarta Coffee Week, setelahnya acara kita langsung dapat 35 ton permintaan. Tapi kita masih belum sanggup, lahannya masih terbatas. Untuk expor juga skalanya masih kecil kecilan," pungkas Dede.
(dir/dir)












































