Dulu Dicibir, Kini Kopi Arabika Karangsari Kuningan Mendunia

Dulu Dicibir, Kini Kopi Arabika Karangsari Kuningan Mendunia

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Minggu, 19 Apr 2026 19:45 WIB
Penen kopi Arabika di Desa Karangsari Kuningan
Penen kopi Arabika di Desa Karangsari Kuningan. Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar
Kuningan -

Kopi arabika asal Desa Karangsari, Kecamatan Darma, kini berdiri tegak sebagai salah satu komoditas unggulan Kabupaten Kuningan. Namun, di balik harum aromanya yang telah menembus pasar internasional, tersimpan narasi masa lalu yang getir.

Kopi arabaika asal Karangsari ini dulunya dianggap sebagai produk berkualitas rendah yang dipandang sebelah mata oleh pasar. Sekretaris Desa Karangsari Dede Rokanda mengungkapkan wilayahnya memang telah dikenal sebagai kawasan perkebunan kopi sejak era Hindia Belanda. Meski demikian, fokus pengembangan varietas arabika baru dimulai secara serius dalam beberapa tahun terakhir. Dahulu, masyarakat setempat justru menganggap kopi arabika sebagai produk gagal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, karena cita rasa yang sangat pahit dan aroma yang dianggap kurang sedap, kopi arabika di desa ini sempat menyandang julukan 'kopi pahang'. Istilah tersebut merujuk pada kopi dengan rasa pahit yang mengganggu. Kondisi ini sempat memadamkan semangat para petani di Karangsari untuk membudidayakannya.

"Zaman dulu dibilang kopi kopi pahang. Artinya kopi pahit dengan rasa pahang kalau bahasa Sunda mah. Nggak enak aromanya kalau dirasa. Harganya juga saat itu masih murah cuman Rp 3.500 per kilogram," tutur Dede, Minggu (19/4/2026).

ADVERTISEMENT

Titik balik perjuangan ini muncul saat pandemi COVID-19 melanda. Sekelompok pemuda di Desa Karangsari mulai bergerak meneliti penyebab rendahnya kualitas kopi mereka. Dari hasil penelusuran tersebut, ditemukan fakta bahwa kendala utama bukan pada tanaman, melainkan pada teknik penanaman dan proses pengolahan pascapanen yang belum optimal.

"Mulai kelihatannya di 2019. Awal mulanya anak-anak muda kelompok Desa Tangguh Bencana (Destana) dulu di masa COVID, karena jenuh nggak ada kegiatan, belajar mengolah kopi. Kebetulan pas ditawarkan ke konsumen, ke kedai, cocok. Jadi hitungan dibandingkan sama daerah-daerah yang lain juga nggak kalah katanya. Konsen di 2019 terus menggencar kopi arabika sampai sekarang," tutur Dede.

Dede menjelaskan bahwa arabika adalah varietas yang menuntut ketelitian tinggi. Kopi ini idealnya ditanam pada ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), memerlukan pemangkasan batang secara rutin, hingga teknik pemetikan buah yang sangat selektif.

"Dulu nggak diproses dengan baik. Jadi petik asal-asalan, yang hijau campur, yang merah dicampur sama yang hijau, makanya rasanya pahang. Kalau yang benar dari awal penanaman, pemeliharaan, dan pemetikan sampai proses menjadi biji itu perlu waktu agak panjang dan kehati-hatian," tutur Dede.

"Dari tempat jemuran ke bawah tanah tuh harus ada jarak minimal 80 cm sampai 1 meter biar bau tanahnya nggak keluar. Terus pembuatannya juga. Kalau dulu kan dicampur petik saja. Sekarang cara metik yang merahnya saja. Setelah dipetik tuh ada jangka waktu untuk diproses, 6 jam. Sedetail itu. Setelah diproses, di-pulper pakai mesin, kita rendam 36 jam, baru dicuci bersih, baru dijemur," tambah Dede.

Kerja keras tersebut membuahkan hasil manis. Konsistensi dalam menjaga kualitas telah mendongkrak nilai ekonomi kopi Karangsari secara signifikan. Permintaan pasar kini melonjak tajam. Dalam setahun, Desa Karangsari mampu memproduksi belasan ton kopi arabika dengan perputaran uang mencapai miliaran Rupiah.

"Dulu waktu pertama ada yang nyoba nanam di sini, harga cuma Rp 3.500 per kilo dengan produksi paling 3 topi. Tapi sekarang sudah nyampe di angka Rp 17.000 sampai Rp 18.000 per kilo untuk cherry (buah kopi) dengan produksi sampai 15 ton di tahun kemarin. Setiap tahun jumlahnya terus meningkat. Perputarannya bisa mencapai Rp 1 miliar setahun dari total luas lahan arabika 10 hektare," tutur Dede.

Kini, kopi Karangsari tidak hanya dinikmati di berbagai kota di Indonesia, tetapi juga telah merambah pasar ekspor ke Turki, Inggris, hingga Belanda. Prestasi paling membanggakan adalah keberhasilan kopi ini lolos kurasi ketat dalam ajang bergengsi World of Coffee selama dua tahun berturut-turut.

"Tahun kemarin kita masuk kurasi kemarin ya, yang pelaksanaannya di Indonesia. Nah, untuk di tahun sekarang 2026 kita masuk lagi tempatnya di Thailand, di Bangkok. Nanti bulan depan berangkat tanggal 7. Itu pameran kopi terbesar di dunia, sebelum ikut, kopi kita di kurasi dulu sama banyak negara penghasil kopi," tutur Dede.

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian ini. Menurutnya, kehadiran kopi Karangsari di ajang World of Coffee menjadi bukti nyata bahwa kualitas kopi Kuningan mampu bersaing di level tertinggi. Ia berharap Kuningan semakin kokoh dalam rantai pasar kopi global.

"Ini bukan sekadar ikut pameran, tetapi penegasan bahwa kopi Kuningan siap masuk pasar dunia. Kita ingin kopi Kuningan benar-benar go internasional," tegas Dian dalam acara Sinergi Petani dan Pemerintah Daerah Menuju Kopi Kuningan Go Internasional di Kebun Kopi Blok Pasir Batang, Desa Karangsari, Minggu (19/4/2026).

Ajang World of Coffee Asia sendiri merupakan pameran kopi spesialis terbesar di Asia yang diselenggarakan oleh Specialty Coffee Association (SCA) bekerja sama dengan Exporum Inc dan Barista Association of Thailand. Perhelatan ini menjadi ruang strategis bagi para petani dan pebisnis untuk membuka akses pasar global.

Tahun 2026 menandai tahun ketiga penyelenggaraan World of Coffee Asia setelah sukses digelar di Busan (2024) dan Jakarta (2025). Pemilihan Bangkok sebagai tuan rumah didasari oleh ekosistem industri kopi Thailand yang berkembang pesat serta posisinya sebagai pusat bisnis strategis di Asia.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads