Janur dari Pangandaran Tembus Pasar Bali

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Kamis, 29 Okt 2026 00:05 WIB
Perajin janur di Pangandaran yang sedang membereskan pesanannya. (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)
Pangandaran -

Memasuki musim penghujan, sejumlah perajin janur kelapa di Pangandaran mulai tersenyum lebar. Pasalnya, pasokan barang tersebut mulai bagus kualitasnya.

Meski tidak ada musim yang jelas, para perajin beranggapan kualitas janur kelapa saat musim penghujan lebih bagus. Setidaknya, empat ribu batang janur setiap pekannya dikirim dari Kabupaten Pangandaran ke Banyuwangi, Jawa Timur, untuk dijadikan bahan ritual yang disalurkan ke Bali.

Seorang pengepul kelapa dan janur di Dusun Nanggewer, Desa Bojongsari, Kecamatan Padaherang, Kasman (48), mengatakan usaha pengiriman janur ke luar daerah sudah berjalan lebih dari lima tahun. Awalnya, permintaan janur hanya sekitar 100 batang untuk kebutuhan sesajen dan ritual keagamaan. Seiring berjalannya waktu, permintaan meningkat hingga ribuan batang dalam sekali pengiriman.

"Awalnya sedikit-sedikit, paling 100 batang dijual ke Jawa Timur. Buat sesajen, ritual. Katanya, ibadahnya setiap hari harus pakai janur," kata Kasman, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, di Bali janur kelapa laku keras untuk kepentingan membuat canang sari dan ceper sebagai wadah persembahan dalam berbagai ritual. "Biasanya pakai untuk ritual keagamaan," ucapnya.

Janur yang dikumpulkan Kasman berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Pamarican, Kabupaten Ciamis, wilayah Pangandaran, dan sekitarnya. Di tempat pengepulan, janur dipilah berdasarkan ukuran dan kualitas sebelum dikirim kepada pembeli.

"Janur kualitas terbaik dijual hingga Rp 11.000 per batang, sedangkan kelas B dibanderol Rp 6.000 dan kelas C yang masih berwarna hijau dijual Rp 5.000 per batang," katanya.

Namun, pasokan janur kini menghadapi kendala akibat kemarau. Kasman mengatakan, jumlah setoran dari pemasok mengalami penurunan signifikan.

"Banyak pengaruhnya. Biasanya ada yang ngirim 1.000, sekarang paling 200," ucap Kasman.

Penurunan pasokan juga dirasakan petani di wilayah Padaherang yang biasa mengambil kelapa dan janur untuk dijual. Seperti Juli (53), yang kini memilih menghentikan sementara aktivitas itu karena bahan baku semakin sulit diperoleh dan kualitasnya menurun.

"Sekarang lagi libur ambil kelapa dan janur, soalnya enggak ada. Kemarau ini jadi jelek-jelek, jadi enggak ambil. Saya fokus nyari rumput buat kambing," ujarnya.




(orb/orb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork