Denpasar memasuki periode rawan inflasi. Musababnya, puncak kemarau 2026 diprediksi berbarengan dengan musim ramai (high season) wisatawan ke Bali. Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar tengah mewaspadai kenaikan harga barang di tengah periode tersebut.
"BMKG kan mengeluarkan peringatan datang lebih awal dipicu berakhirnya La Nina di Februari 2026, wilayah Bali, Jawa, dan Nusa Tenggara alami kemarau lebih awal. Puncak kemarau Agustus bersamaan dengan high season Bali. Jadi, pola kemungkinan berulang di April-Juni dengan faktor adanya tekanan kemarau yang lebih meningkat," tutur Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Denpasar, I Putu Agus Jayadi, ketika diwawancarai detikBali, Senin (27/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jayadi menuturkan angka inflasi Kota Denpasar year-on-year per April 2025 sesuai perkembangan Indeks Harga Konsumen yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Bali tercatat sebesar 2,69%, tertinggi di Pulau Dewata. Meski terbilang masih stabil, ancaman ini perlu diperhatikan, terutama karena Denpasar ketergantungan pasokan pangan hingga dari luar Bali.
Beras untuk Denpasar dipasok dari Tabanan, Gianyar, Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Timur (Jatim). Daging sapi berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan impor. Daging ayam dan telur dari peternakan lokal Bali dan Jatim.
Kemudian, sayur dan hortikultura dari Kintamani serta Malang dan Pasuruan, Jatim. Bawang merah dari Brebes, Jateng. Gula dan minyak goreng didistribusikan melalui pasar modern dan Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog). Ikan laut dari nelayan lokal Bali dan Jatim.
Jayadi menegaskan Pemkot Denpasar tengah melakukan mitigasi dengan penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan rantai pasok dan kemitraan. Mitigasi risiko iklim juga dilakukan dengan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Komunikasi publik dan operasi pasar untuk mendongkrak ketersediaan bahan pokok juga bakal dilakukan.
"Pasar yang ada tidak hanya pasar yang di perumda. Kamu juga libatkan dorong pasar-pasar desa adat. Nanti seperti mitra kerja karena secara tidak langsung mereka memberikan value untuk pertumbuhan ekonomi di Denpasar. Contohnya Pasar Ketapian, Pasar Penatih juga," jelas Jayadi.
Jayadi menyebutkan musim kemarau ditambah high season menyebabkan rawan gangguan cuaca ekstrem, utamanya adanya prediksi kemarau normal bawah yang berpotensi menyebabkan kekeringan, terutama di Jatim. Permintaan komoditas dari wilayah lain yang serupa juga berpotensi memperketat stok.
Data minggu keempat April 2026 dari Bank Indonesia, tutur Jayadi, Denpasar sendiri alami kenaikan harga, utamanya disebabkan oleh canang sari, angkutan udara, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga hingga kue basah.
"Komponen bahan baku canang yang rentan inflasi. Canang sari tersusun dari berbagai bahan alami seperti janur (daun kelapa muda), bunga-bunga segar (kamboja, mawar, kenanga), buah-buahan, dan dupa. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya distribusi langsung memengaruhi harga bahan-bahan ini karena sebagian dipasok dari luar wilayah Denpasar," terang Jayadi.