Berdayakan 200 Warga, Niki Sulap Gulma Jadi Produk Ekspor

Berdayakan 200 Warga, Niki Sulap Gulma Jadi Produk Ekspor

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Rabu, 09 Sep 2026 06:31 WIB
Niki yang sedang merajut dan menjajakan kerajinannya di salah satu pameran pesawat Pangandaran
Niki yang sedang merajut dan menjajakan kerajinannya di salah satu pameran pesawat Pangandaran (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar).
Pangandaran -

Suasana pantai siang itu terasa cukup sejuk di bawah rindangnya pepohonan saat gelaran pameran pesawat terbang di Beach Strip Pangandaran. Di sana, deretan pelaku UMKM tampak antusias menjajakan karya mereka, mulai dari aneka kuliner hingga kerajinan tangan yang unik.

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas jual beli, seorang perempuan muda tampak asyik memainkan jemarinya. Ia begitu terampil mengolah dua utas benda menyerupai tali berwarna cokelat. Saat didekati, rupanya ia tengah menganyam rumput ilalang yang telah diolah sedemikian rupa menjadi tali.

Kerajinan itu dikenal dengan nama anyaman hatta. Bahan bakunya berasal dari tumbuhan yang hidup di belantara hutan pedalaman wilayah Pangandaran dan Priangan Timur. Untuk mendapatkan rumput tersebut, para perajin harus menembus area hutan yang jauh dari permukiman penduduk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Niki Triyani (20), perempuan muda di balik anyaman itu, melempar senyum ramah. Mengenakan kerudung hitam dipadu rompi (vest) cokelat dan kacamata krem, ia terlihat sangat cekatan memainkan hatta. Dengan penuh ketelitian, ia merajai helaian hatta menjadi sebuah gelang yang rapi.

Gelang tersebut rupanya menjadi produk yang paling diburu pengunjung selama pameran. "Ini namanya gelang hatta, ini sedang prose anyam buat dijual langsung, sekalian tadi ada yang request ukurannya," kata Niki kepada detikJabar, belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Karya tangan Niki ternyata tidak terbatas pada gelang. Ia telah memproduksi beragam suvenir berbahan hatta, mulai dari tas hingga wadah fungsional lainnya. "Kalo jenisnya banyak untuk kerajinan hatta itu beragam dari mulai tas, topi, wadah tempat menyimpan air minum hingga vot bunga," ucapnya.

Siapa sangka, helaian hatta yang dipegang Niki berasal dari rumput liar di hutan yang sulit didapatkan. Niki bahkan mengungkapkan bahwa tumbuhan hatta ini tidak bisa dibudidayakan secara sengaja.

"Ngambil bahan hata ini tidak mudah karena harus ke hutan, adanya di sekitar Langkaplancar, Cimerak dan sekitar rumah juga ada cuman agak jauh ngambilnya," ucap Niki.

Demi menjaga ketersediaan bahan baku, Niki bersama timnya harus berburu hingga ke tiga kabupaten tetangga, yakni Ciamis, Banjar, dan Tasikmalaya. "Pokoknya ambil bahanya itu dari wilayah priangan timur yang masih banyak hutan ke Tasik, Ciamis dan Banjar," katanya.

Meski statusnya hanya rumput hutan, di tangan perajin kreatif, tumbuhan ini menjelma menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Gulma tersebut disulap menjadi gelang, tas, topi, hiasan bunga, hingga keranjang pakaian.

Niki merupakan generasi penerus Perajin Hatta Mitra Saluyu (PHMS). Sebagai anak pertama, ia memikul tanggung jawab untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis orang tuanya.

Usaha kerajinan hatta ini sejatinya telah eksis sejak tahun 1999. Namun, pada masa awal, mereka hanya berperan sebagai pengepul atau pemasok bahan baku. Seiring waktu, mereka mulai berinovasi dengan menciptakan produk kriya sendiri.

"Kalo mulai fokus ke buat barang kerajinan itu sejak tahun 2012-2013," ucapnya.

Ia menyebutkan bahwa produk unggulan yang paling diminati saat ini adalah gelang dan tas. Kedua produk tersebut menjadi etalase utama yang merepresentasikan kualitas usaha hatta miliknya.

Serap Ratusan Tenaga Kerja Lokal

Tinggal di kawasan wisata memacu Niki untuk memutar otak agar produknya semakin dikenal luas. Ia pun menggandeng sejumlah mitra layanan wisata untuk menjadikan rumah kerajinannya sebagai destinasi wisata edukasi bagi para pelancong.

"Untuk kenalkan produk berbagai cara kami lakukan, salah satunya menggandeng provider wisata. Alhamdulillah sekarang banyak yang berkunjung kesini untuk pelatihan dan membeli produk sebagai oleh-oleh," kata Niki.

Seiring meningkatnya permintaan, usaha kerajinan hatta ini membutuhkan dukungan tenaga kerja yang tidak sedikit. Niki pun memberdayakan tetangga hingga kerabatnya untuk membantu proses produksi dan pencarian bahan baku.

Saat ini, Niki telah mempekerjakan lebih dari 200 orang yang tersebar di tiga kabupaten, baik untuk mencari bahan baku di hutan maupun proses produksi. "Alhamdulillah saat ini udah ratusan pegawai sekitar 200 lebih. Mereka juga termasuk yang mencari rumputnya ke hutan," kata dia.

Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja lokal sangat terbantu oleh keberadaan usaha rumput hatta ini.

Niki mengaku bersyukur bisa membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. "Alhamdulillah banyak yang pekerjakan termasuk tetangga tidak memandang usia," katanya.

Sebagai informasi, angka penyerapan tenaga kerja sektor ekonomi kreatif di Jawa Barat merupakan yang tertinggi secara nasional. Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat pernah menyentuh angka Rp1.500 triliun pada akhir tahun 2024 dari sektor ekonomi kreatif (Ekraf).

Melansir data Katadata pada Senin (7/9/2026), pada tahun 2024 jumlah tenaga kerja nasional dari sektor Ekraf mencapai 26,4 juta atau setara 18,30%. Angka ini meningkat pada tahun 2026 menjadi 27,4 juta atau 18,70% dari total serapan tenaga kerja nasional, dengan Jawa Barat sebagai kontributor terbesar.

Tiga provinsi utama penyerap tenaga kerja Ekonomi Kreatif adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dengan total sumbangsih mencapai 57,8% secara nasional.

Data Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenkraf) juga menunjukkan tren positif, di mana industri kreatif berhasil menyerap 26,48 juta tenaga kerja atau setara 18,30% dari total angkatan kerja.

Secara spesifik, Jawa Barat mengukuhkan posisinya sebagai penyumbang terbesar dengan 6,24 juta pekerja di sektor Ekraf. Ini merupakan capaian tertinggi di tingkat nasional, mengungguli Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dari Belantara Hutan ke Pasar Internasional

Meski berbahan dasar tumbuhan liar, kualitas kerajinan hatta ini telah diakui di kancah internasional. Produk besutan Mitra Saluyu ini bahkan sudah merambah pasar Eropa.

Melalui sistem kerja sama dengan pihak ketiga, produk kerajinan hatta milik Niki telah diekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Swiss, Italia, hingga Vietnam. Hal ini membuktikan kekayaan alam lokal mampu bersaing di level global.

Dalam satu kali pengiriman, Niki mampu mengirimkan puluhan tas rajutan hatta dengan nilai mencapai jutaan rupiah per buahnya. Usaha ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Niki menjelaskan bahwa harga produk yang ditawarkan sangat variatif dan terjangkau, mulai dari Rp10.000 untuk aksesori gelang. Sedangkan untuk produk besar seperti keranjang pakaian (laundry basket), harga disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kerumitan pembuatannya.

Keberadaan UMKM Kerajinan Hatta Niki tidak sekadar mengejar profit, tetapi juga menjadi pilar ekonomi bagi warga lokal.

"Bahan baku rumput Hatta ini tumbuhan liar di hutan yang tidak bisa dibudidayakan. Kami mengambilnya dari tiga kabupaten, yakni Ciamis, Tasikmalaya, dan Pangandaran. Penghasilan para pencari dan pengrajin bahan baku bisa mencapai Rp500 ribu per hari, bahkan bisa lebih dari Rp1 juta untuk sekali pengiriman borongan," jelasnya.

Dari ketekunannya tersebut, bisnis keluarga ini mampu meraup omzet lebih dari Rp100 juta per bulan, yang berasal dari penjualan produk jadi serta pengiriman bahan baku.

"Kami juga suplai hatta untuk pengrajin di wilayah Lombok dan Bali. Alhamdulillah jadi pemasok pengrajin disana," kata dia.

Penjualan Online Memperluas Jangkauan

Niki mengungkapkan bahwa jangkauan pasarnya semakin luas berkat pemanfaatan platform digital. Transformasi ke pasar daring membuat kerajinan hatta miliknya dikenal hingga ke pelosok daerah.

"Jadi kalo untuk belinya produk aja itu banyak ke berbagai daerah. Namun untuk bahan baku kita kirimnya ke Bali dan Lombok. Semuanya tahu berkat buka penjualan online," kata Niki.

Ia merasakan manfaat besar dari perdagangan daring yang mempertemukannya dengan banyak pembeli potensial (buyer). "Kan kalo ekspor atau kirim keluar ada pihak ketiga mereka biasanya bayar dimuka," katanya.

Pada awalnya, Niki sempat kesulitan meyakinkan orang tuanya yang masih gagap teknologi (gaptek). Mereka sempat ragu dengan transaksi digital karena tidak bertatap muka langsung dengan pembeli. "Kalo orang tua kan khawatir aja, jadi takutnya jahat. Setelah saya yakinkan alhamdulillah mau dan menuruti," ucapnya.

Kini, penjualan secara online terus menunjukkan tren positif. "Sekarang kalo dibandingkan sebetulnya masing banyakan yang offline, cuman online itu terus meningkat," katanya.

Melanglang Buana dari Pameran ke Pameran

Kesuksesan kerajinan hatta ini tidak lepas dari upaya membangun kepercayaan pasar. Berbagai ajang pameran besar telah membawa produk asal Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran ini melanglang buana hingga ke ibu kota.

"Pertama berkat bantuan pemerintah kami juga diajak pameran kriya di beberapa daerah. Waktu keluar kota di Jakarta banyak yang suka, kemudian di Bandung. Hingga suatu saat kami diajak ke Lombok," kata Niki.

Keikutsertaan dalam pameran membuahkan banyak pesanan berulang (repeat order). "Setelah beberapakali pameran banyak yang repeat order karena suka produknya," kata dia.

Dampaknya, rumput hutan yang dulunya dianggap hama oleh pemilik perkebunan kini justru menjadi komoditas yang dicari. Bahkan, banyak pemilik lahan yang meminta agar rumput tersebut dibersihkan dari lahan mereka.

"Banyak juga pemilik kebun ataupun tanah yang minta untuk diambilkan daun hattanya sehingga bagi kami itu adalah peluang. Karena mereka pun tidak dibayar," katanya.

Dukungan Bank Indonesia

Dalam perjalanannya, Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu pendukung utama. Niki mengakui bahwa keterlibatan BI dalam setiap pameran selalu memberikan dampak positif bagi usahanya. "Karena kalo event yang bekerjasama dan dibuat BI pasti ramai," kata dia.

"Seperti ketika saat ini diikutkan pameran UMKM di pameran Pesawat Pangandaran. Ramai abis kerajinan gelang dan souvenir kecilnya," ucapnya.

Perkembangan pesat UMKM ini juga didorong oleh pembinaan dari BI, mulai dari fasilitasi promosi, digitalisasi pembayaran melalui QRIS, hingga pendampingan di stan pameran.

"Bantuan dari Bank Indonesia sangat terasa, terutama dalam hal perluasan pemasaran, kesempatan mengikutsertakan kami di pameran-pameran besar, serta penerapan sistem pembayaran QRIS yang memudahkan transaksi digital dan mencegah peredaran uang palsu," kata Niki.

Selain dukungan pemasaran, Niki juga mendapatkan edukasi mengenai literasi keuangan. "Tahu QRIS juga dari BI, mendeteksi uang palsu hingga inklusi keuangan," ucapnya.

Workshop Menganyam Hatta

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran dan ingin merasakan pengalaman menganyam, mereka dapat mengunjungi galeri hatta yang berlokasi di kawasan wisata alam Citumang.

"Selain produk jadi, kami juga siapkan lokasi untuk workshop pelatihan menganyam secara langsung," ucap Niki.

Para pengunjung akan diajarkan teknik dasar menganyam hingga mampu menghasilkan karya sendiri. "Jadi nanti bisa langsung dibawa pulang," katanya.

Transaksi Lebih Mudah dengan QRIS

Niki mengenang masa-masa awal pameran di mana ia sering kesulitan menyiapkan uang kembalian. Namun, sejak mengadopsi sistem pembayaran digital, segalanya menjadi lebih praktis. "Karena sekarang hampir 80% pelanggan kami mau datang ke lokasi ataupun online via QRIS, tanpa kembalian jadi simpel," ucapnya.

Tren penggunaan QRIS di wilayah Priangan Timur memang menunjukkan lonjakan signifikan pada awal tahun 2026. BI Tasikmalaya mencatat kenaikan transaksi hingga 579 persen, dengan jumlah merchant mencapai 5.000 lokasi.

Secara nasional, Jawa Barat mengukuhkan posisinya sebagai motor utama ekosistem digital di Indonesia.

Jumlah merchant QRIS di Jawa Barat telah menembus angka 8,28 juta, atau berkontribusi sebesar 21,73% dari total *merchant nasional. Dominasi ini menegaskan peran vital Tanah Pasundan dalam mempercepat inklusi keuangan digital.

Sinergi Kebijakan dan Penguatan Perlindungan Konsumen

Keberhasilan jutaan merchant QRIS di Jawa Barat merupakan buah dari kolaborasi yang solid. Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan pelaku industri untuk memperluas digitalisasi, yang dibarengi dengan sosialisasi perlindungan konsumen secara berkelanjutan, meliputi:

Edukasi QRIS: Menjamin keamanan dan kenyamanan dalam setiap transaksi digital.

Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah: Memperkuat kedaulatan dan kecintaan terhadap mata uang negara.

Perlindungan Konsumen (PeKA): Memberikan edukasi mengenai hak-hak konsumen kepada masyarakat luas.

Komitmen Pemprov Jabar Dorong UMKM Go Digital

Adopsi masif QRIS oleh pelaku usaha sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.

Sesuai regulasi daerah terkait Penumbuhan Iklim Usaha (Bab VIII), Pemprov Jabar aktif menciptakan ekosistem kondusif bagi Koperasi dan UMKM melalui sembilan aspek strategis, mulai dari pendanaan, sarana prasarana, hingga dukungan kelembagaan.

Penguatan ini dipertegas dalam Pengembangan Koperasi dan UMKM (Bab IX), di mana Pemprov Jabar memfasilitasi transformasi pelaku usaha lokal melalui empat pilar utama:

Produksi dan Pengolahan: Meningkatkan standar mutu dan daya saing produk lokal.

Pemasaran: Memperluas akses pasar melalui ekosistem digital.

Sumber Daya Manusia: Meningkatkan literasi keuangan dan kapabilitas digital para pelaku usaha.

Desain dan Teknologi: Mendorong efisiensi operasional melalui adopsi teknologi pembayaran masa kini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Kumpul Bersama Rakyat, Menteri UMKM Ajak Perkuat Solidaritas dan Satukan Semangat Kemerdekaan"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads