Kemacetan yang selama ini menjadi persoalan utama di Bandung Raya mulai dijawab pemerintah dengan pembangunan sistem transportasi massal berbasis Bus Rapid Transit (BRT). Tak sekadar menambah armada bus, proyek ini akan membangun jaringan transportasi modern lengkap dengan jalur khusus, ratusan halte, depo, hingga sistem transportasi pintar yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Komitmen tersebut ditandai dengan dimulainya pembangunan infrastruktur Indonesia Mass Transit Project (MASTRAN) sekaligus penandatanganan kerja sama Public Service Obligation (PSO) antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah kabupaten/kota di kawasan Bandung Raya di Terminal Leuwipanjang, Rabu (22/7/2026).
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Aan Suhanan mengatakan, pembangunan BRT Cekungan Bandung merupakan bagian dari upaya menghadirkan transportasi publik yang modern, terintegrasi, aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
"Kegiatan groundbreaking Indonesia Mass Transit Project atau MASTRAN ditandai dengan dimulainya pembangunan infrastruktur Bus Rapid Transit atau BRT Cekungan Bandung sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam menghadirkan sistem transportasi umum massal yang modern, terintegrasi, aman, handal, ramah lingkungan, dan berkelanjutan," kata Aan.
Menurutnya, penandatanganan kerja sama PSO menjadi fondasi penting agar layanan BRT dapat berjalan secara berkelanjutan setelah mulai beroperasi.
"Pada kesempatan ini juga dilaksanakan penandatanganan kerja sama Public Service Obligation atau PSO antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan pemerintah kota/kabupaten di kawasan Cekungan Bandung. Hal ini sebagai landasan penyelenggaraan layanan BRT yang berkelanjutan," ujarnya.
Investasi Rp1,3 Triliun, Bangun Jalur Khusus hingga 753 Halte
Dalam proyek tersebut, pemerintah akan membangun enam depo BRT, 719 halte off-corridor, 34 halte on-corridor, jalur khusus sepanjang 21 kilometer, serta satu sistem Intelligent Transport System (ITS) yang mengintegrasikan operasional angkutan di seluruh Bandung Raya.
Aan menjelaskan, pembangunan BRT Cekungan Bandung merupakan bagian dari proyek nasional MASTRAN yang didukung pembiayaan Pemerintah Indonesia, World Bank, dan AFD dengan nilai pembiayaan secara keseluruhan mencapai Rp3,8 triliun dan nilai investasi Rp1,3 triliun.
"Secara keseluruhan program MASTRAN ini memiliki nilai pembiayaan sebesar 264 juta US dolar atau setara Rp3,8 triliun yang terdiri atas pinjaman modal dari World Bank sebesar 224 juta US dolar dan pinjaman dari AFD sebesar 40 juta dolar, serta didukung oleh pendanaan pendamping dari Pemerintah Indonesia," jelasnya.
"Khusus untuk pembangunan infrastruktur BRT di kawasan Cekungan Bandung, nilai investasi mencapai sekitar Rp1,3 triliun yang dialokasikan untuk pembangunan jalur dan halte pada koridor utama, stasiun off-corridor tahap 1 dan tahap 2, depo BRT, sistem Intelligent Transport System, serta berbagai pekerjaan pendukung lainnya," lanjutnya.
Saat ini, konstruksi halte off-corridor tahap pertama, Depo Cicaheum, Depo Leuwipanjang, hingga jalur utama BRT telah berjalan. Tahap berikutnya akan dilanjutkan dengan pembangunan halte ikonik di Tegalega, Alun-alun Bandung, Stasiun Hall, Kiara Artha Park, serta depo di Cimenyan, Padalarang, Soreang, dan Majalaya.
Jika seluruh proyek rampung, layanan BRT ditargetkan memiliki waktu tunggu maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan 15 menit pada jam normal.
"Melalui pembangunan infrastruktur dan penerapan ITS, layanan BRT Cekungan Bandung ditargetkan beroperasi dengan headway maksimal 7 menit pada saat jam sibuk dan 15 menit pada saat jam tidak sibuk, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan angkutan umum yang lebih pasti, cepat, nyaman, dan dapat diandalkan," kata Aan.
Ditargetkan Mulai Beroperasi Tahun 2027
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi berharap pembangunan dapat berjalan sesuai jadwal sehingga masyarakat Bandung Raya segera menikmati layanan transportasi massal tersebut dengan target beroperasi di tahun 2027 mendatang.
"Harapannya bahwa pembangunan ini dapat semakin memudahkan masyarakat, khususnya masyarakat Bandung Raya dalam melakukan mobilitas perjalanannya. Sehingga diharapkan ke depan Bandung akan menjadi kota metropolitan yang memiliki public transportation yang lebih baik, dan juga dengan keterjangkauan oleh masyarakat yang akan menggunakan fasilitas public transportation ini," ujar Dudy.
"Saya rasa mohon doa restunya agar pembangunan BRT ini dapat segera terselesaikan sesuai dengan jangka waktu yang sudah diberikan, dan harapannya pada tahun 2027 BRT ini dapat beroperasi untuk melayani masyarakat Bandung Raya," tambahnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut, pembangunan BRT menjadi kabar baik bagi seluruh masyarakat di kawasan Bandung Raya, termasuk Kabupaten Sumedang. Ia berharap proses pembangunan berlangsung lancar sehingga manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat.
"Ini adalah kegembiraan bagi masyarakat Bandung Raya, termasuk di dalamnya ada Sumedang. Kita berharap pembangunannya berjalan aman, lancar, tidak ada gangguan, dan bisa melahirkan kualitas pembangunan yang bermutu tinggi, serta cepat digunakan bagi warga masyarakat di sekitar Bandung Raya," ujar Dedi.
Menurutnya, BRT bukan hanya melayani warga Kota Bandung, tetapi seluruh masyarakat yang beraktivitas di kawasan metropolitan Bandung Raya.
"Dan layanannya bukan hanya masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya, tetapi ini layanan untuk semua warga yang berada di wilayah Bandung Raya. Bisa jadi mereka tinggal, mereka bepergian, atau mereka berkunjung. Artinya, transportasi itu terbuka untuk semua kalangan," pungkasnya.
(bba/sud)