Kopi, teh, dan kakao bukan sekadar komoditas perkebunan bagi Jawa Barat. Tiga produk unggulan itu kini didorong naik kelas menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu menembus pasar internasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani.
Komitmen tersebut menjadi salah satu fokus dalam gelaran West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) 2026 bertajuk The Golden Belt of Java: Coffee, Tea and Cacao for the Future.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat Nining Yuliastiani mengatakan, langkah memperluas pasar internasional mulai menunjukkan hasil. Dalam kegiatan tersebut, Jawa Barat melepas ekspor kopi ke Mesir senilai Rp4,6 miliar.
"Jadi tadi kita pelepasan ekspor ke Mesir dengan nilai total Rp4,6 miliar. Sebelumnya kita fasilitasi untuk melakukan pitching dan business matching di beberapa waktu yang lalu dengan beberapa buyer dari beberapa negara. Dan kebetulan ini sudah happening untuk melakukan kontrak dan pengiriman produk ke Mesir," ujar Nining usai membuka WIITEX di Bandung, Jumat (12/6/2026).
Nining optimistis WIITEX 2026 akan melahirkan transaksi dagang baru. Sebanyak 72 pelaku usaha yang bergerak di bidang kopi, teh, dan kakao telah dipertemukan langsung dengan pembeli dari berbagai negara setelah sebelumnya mengikuti proses pitching* dan *business matching.
"Dengan acara WIITEX ini sebenarnya kita optimis nanti akan membukukan transaksi lagi. Peserta yang ikut di acara WIITEX ini, 72 pelaku usaha yang kemudian membawa komoditas kopi, teh, kakao," jelasnya.
Tema The Golden Belt of Java dipilih karena tiga komoditas tersebut memiliki akar sejarah yang sangat kuat di tanah Jawa Barat.
Simak Video "Video: Saat Kopi Jadi Tren, Masih Adakah Masa Depan Teh Jawa Barat?"
(bba/mso)