Industri Tekstil Nasional Punya Peluang Bersaing di Pasar Global

Industri Tekstil Nasional Punya Peluang Bersaing di Pasar Global

Rifat Alhamidi - detikJabar
Kamis, 11 Jun 2026 20:34 WIB
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza (baju biru) saat berkunjung ke pabrik tekstik di Bandung.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza (baju biru) saat berkunjung ke pabrik tekstik di Bandung. (Foto: Istimewa)
Bandung -

Di tengah berbagai tantangan yang membayangi industri tekstil nasional, mulai dari derasnya arus impor murah hingga ketidakpastian ekonomi global, pemerintah menegaskan bahwa sektor ini masih memiliki masa depan yang cerah.

Optimisme itu disampaikan langsung Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, saat mengunjungi pabrik tekstil milik PT Gajah Angkasa Perkasa di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bandung, Kamis (11/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sela kunjungannya, Faisol melihat langsung aktivitas produksi yang masih berjalan dan menilai kondisi tersebut menjadi bukti bahwa industri tekstil Indonesia tetap bertahan serta memiliki peluang untuk terus berkembang di pasar internasional.

"Kalau melihat langsung aktivitas industri seperti di Gajah Group ini, kita bisa melihat bahwa produksi tetap berjalan, permintaan tetap ada, dan aktivitas ekonomi riil masih berlangsung dengan baik," katanya saat kunjungan di PT Gajah Angkasa Perkara, Kamis (11/6/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Faisol, pandangan yang menyebut industri tekstil Indonesia sebagai sunset industry atau industri yang sedang menuju kemunduran tidak sepenuhnya tepat. Ia menilai fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat meskipun dunia sedang menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi global.

"Kalau melihat langsung aktivitas industri seperti di Gajah Group ini, kita bisa melihat bahwa produksi tetap berjalan, permintaan tetap ada, dan aktivitas ekonomi riil masih berlangsung dengan baik," ujarnya.

Ia menjelaskan, gejolak yang banyak terlihat belakangan ini lebih banyak terjadi di sektor pasar modal dan keuangan yang rentan terhadap sentimen maupun spekulasi. Sementara sektor manufaktur, termasuk tekstil, dinilai masih menunjukkan daya tahan yang baik.

Lebih jauh, Faisol menegaskan bahwa kualitas produk tekstil Indonesia mampu bersaing dengan produk dari negara-negara produsen tekstil dunia. Selain memenuhi standar internasional, produk tekstil dalam negeri juga dinilai kompetitif dari sisi harga.

"Kualitasnya bagus, standarnya terpenuhi, dan dari sisi harga juga mampu bersaing. Karena itu tidak tepat jika ada yang mengatakan industri tekstil Indonesia kalah saing," tegasnya.

Meski demikian, ia mengakui masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait maraknya impor ilegal dan masuknya produk tekstil murah dari luar negeri yang selama ini dikeluhkan para pelaku industri.

"Kami terus mencari formulasi terbaik agar industri tekstil nasional semakin kompetitif dan mampu melakukan ekspansi usaha," ujar Faisol.

Sementara itu, Direktur Gajah Group, Dedi Zein, menekankan pentingnya keberlangsungan industri tekstil karena sektor ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Saat ini, perusahaan yang dipimpinnya telah mempekerjakan lebih dari 3.000 orang.

"Kami berharap mendapat bimbingan dan dukungan pemerintah agar semakin memiliki daya saing di pasar internasional dan bisa terus menambah lapangan pekerjaan," kata Dedi.

Hal senada disampaikan Direktur Tekstil Gajah Angkasa Perkasa, Jimmy Gunardi. Menurutnya, perusahaan terus melakukan inovasi guna meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk.

Salah satu pengembangan yang kini menjadi fokus adalah produksi seragam militer berteknologi tinggi yang dilengkapi berbagai fitur khusus, seperti anti-inframerah, tahan api, tahan air, serta menggunakan material elastis untuk meningkatkan kenyamanan pengguna.

"Kami memiliki kebanggaan tersendiri apabila suatu hari nanti seragam tentara negara lain diproduksi di Bandung dan menggunakan produk kami," pungkasnya.




(ral/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads