Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus angka memicu krisis bagi industri furnitur dan kerajinan rotan nasional. Alih-alih meraup untung dari selisih kurs, para pelaku ekspor justru terancam gulung tikar akibat meroketnya harga bahan baku impor dan anjloknya permintaan global hingga 50 persen.
Pelaku ekspor furnitur rotan asal Cirebon, Vladimir Dicky Santoso mengungkapkan bahwa penguatan dolar AS berdampak negatif pada biaya operasional. Masalah utamanya terletak pada ketergantungan industri terhadap komoditas impor untuk bahan baku sintetis.
"Kita beli bahan bakunya naiknya gila-gilaan. Contoh seperti rotan sintetis yang berbasis biji plastik murni impor, sekarang harganya sudah naik 100 persen. Begitu juga dengan busa untuk cusion," ujar Vladimir saat diwawancarai, Rabu (10/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Vladimir, kenaikan biaya produksi ini diperparah oleh posisi tawar pembeli (buyer) luar negeri yang memanfaatkan situasi pelemahan rupiah untuk menekan harga jual. Akibatnya, produk furnitur sintetis Indonesia kehilangan taji di pasar internasional.
"Untuk produk sintetis, kita benar-benar sudah tidak bisa berkompetisi lagi. Sebelum rupiah melemah saja, kita sudah kalah harga dari Vietnam yang skala pabriknya lebih besar dan profesional," kata dia.
Sebagai langkah penyelamatan, Vladimir memutar haluan dengan memangkas produksi furnitur sintetis dan mengalihkan strategi ke produk berbahan rotan alami (natural). Langkah shifting ini diambil karena pasokan rotan alam domestik relatif melimpah dan tidak terdampak fluktuasi kurs secara langsung.
Meski tren pasar global mulai kembali melirik produk natural, Vladimir menyebut volume pasarnya tidak seluas furnitur sintetis outdoor, sehingga belum mampu menutup seluruh kerugian perusahaan.
Kondisi industri semakin mengkhawatirkan karena lesunya ekonomi global pasca konflik dagang geopolitik. Berdasarkan data lapangan, volume permintaan ekspor tahun ini merosot tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
"Penurunan permintaannya mencapai 50 persen. Ini efek berantai yang panjang sejak perang dagang AS, sehingga permintaan dari luar negeri sangat rendah," tuturnya.
Sektor ketenagakerjaan di tingkat akar rumput pun mulai menerima hantaman. Penurunan kapasitas produksi memaksa pelaku usaha untuk mengurangi pemanfaatan jasa perajin lokal di sekitar pabrik.
Pihak eksportir menilai sentuhan dan sabuk pengaman dari pemerintah terhadap industri kreatif berorientasi ekspor masih sangat minim. Vladimir mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret, terutama dalam menstabilkan nilai tukar rupiah di angka psikologis Rp16.000.
Pelaku usaha juga mengkhawatirkan adanya sticky price (kekakuan harga), di mana harga bahan baku di tingkat pemasok lokal tidak akan turun meskipun kurs dolar AS nantinya melandai.
"Harapan kami hanya satu, menstabilkan rupiah. Kalau rupiah bisa kembali ke kisaran Rp16.000, kami baru bisa berkompetisi harga lagi di pasar global. Selain itu, perlu ada komunikasi atau lobi antarnegara dari pemerintah dengan negara pemasok biji plastik untuk mengendalikan harga bahan baku ini," pungkasnya.
(dir/dir)
