Walkot Farhan soal Pedagang Daging Sapi Mogok Berjualan

Wisma Putra - detikJabar
Senin, 18 Mei 2026 16:29 WIB
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Pedagang daging sapi di Pasar Kosambi Kota Bandung mogok berjualan. Tak hanya di pasar tersebut, berdasarkan informasi dari pengelola pasar, aksi mogok berjualan juga dilakukan pedagang daging sapi di sejumlah pasar tradisional lainnya.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan, stok daging sapi di pasaran saat ini tidak sebanyak biasanya. Selain itu, para pedagang di pasar enggan menerima harga daging sapi yang sudah disembelih atau karkas yang dinilai terlalu tinggi dari rumah pemotongan hewan (RPH).

"Nah, sekarang rumah pemotongan hewan terpaksa menerima sapi dengan harga tinggi karena dari para pengusaha yang menggemukkan sapi juga harga sudah sangat naik," kata Farhan kepada awak media di Bandung, Senin (18/6/2026).

Farhan mengungkapkan, penyebab lainnya adalah harga bibit sapi impor dari Australia, India, dan Selandia Baru yang juga ikut melonjak. Begitu pun dengan kondisi harga pakan ternak yang mengalami kenaikan.

"Nah, jadi ini memang akibat berantai yang menyebabkan pedagang itu merasa terlalu berat untuk menjual dengan harga yang diminta oleh para penyuplai daging di Kota Bandung. Nah, daging segar di Kota Bandung ini memang harus kita akui hanya 2% yang berasal dari pasar lokal ya, terutama dari Nusa Tenggara Timur dan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur," ungkapnya.

"Demikian juga para pengusaha penggemukan sapi sekarang ini juga sedang fokus untuk memastikan agar semua sapi untuk kurban itu tersedia dengan baik, ini juga bukan hal yang mudah kita ingin memastikan bahwa masyarakat akan membeli sapi untuk kurban juga tersedia dengan baik nah ini salah satu bentuk mekanisme pasar yang memang harus kita jaga dan dalam fluktuasi pasar, ini adalah hal yang wajar terjadi, tetapi tentu pemerintah tidak akan tinggal diam," tambahnya.

Farhan menjelaskan, pihaknya akan berusaha melakukan pendekatan mulai dari pihak importir, pengusaha penggemukan, pengusaha pemotongan hewan, hingga para pedagang yang ada di pasar tradisional.

"Untuk meng-cover itu semua, kita tentu saja menggunakan jalur lain, yaitu kita menggunakan jalur impor daging beku yang juga akan dibuka untuk memenuhi kebutuhan pasar melalui pasar-pasar modern. Nah jadi kebutuhan daging sapi sebetulnya sih bisa terpenuhi, cuma tinggal masalah selera masyarakat, mana yang akan berpengaruh," tuturnya.

Farhan menyebutkan, para pedagang daging sapi ini berencana mogok berjualan dari tanggal 18-19. Disinggung mengenai adanya tuntutan atau ancaman dari para pedagang, Farhan menepis hal tersebut.

"Ancaman sih enggak, mereka hanya mengajak, menghimbau yang tidak terima silahkan bergabung Asosiasi Pedagang Daging Pasar Nusantara untuk tidak berjualan di tanggal 18 dan 19 Mei tapi kami juga melakukan himbauan kontrak agar tetap dagang aja dengan barang yang stok yang ada jangan sampai kemudian pasar menjadi nol karena kalau pasar sampai nol maka nanti kita khawatir masyarakat panik," terangnya.

Sektor Kuliner Terdampak

Menurut Farhan, dengan adanya kejadian ini, sektor yang paling terdampak signifikan adalah sektor kuliner. Seperti diketahui, kenaikan nilai tukar mata uang asing atau dolar terhadap rupiah berpengaruh besar terhadap suplai daging, kedelai, hingga gandum.

"Problemnya adalah suplai daging itu mempengaruhi kualitas baso. Suplai gandum mempengaruhi mie dengan roti, dan orang Bandung makan mie dengan roti, itu nomor satu. Apalagi sekarang kita lagi dorong kuliner roti yang memang lagi meledak di mana-mana di Kota Bandung dan ketiga adalah kuliner tahu dan tempe," tutur Farhan.

Farhan menambahkan, tahu dan tempe yang beredar di pasar Kota Bandung mayoritas menggunakan kedelai impor. Jadi dalam hal ini, dampak kenaikan harga tidak hanya menyasar komoditas daging sapi semata.

"Kita sedang berusaha menekan agar distribusi lancar sehingga inflasi tidak tinggi. Ketika inflasi meledak tentu saja daya beli masyarakat akan menurun. Nah, ini lagi berusaha kita lakukan supaya tidak terjadi," pungkasnya.




(wip/orb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork