BMKG mencatat, 118 kejadian gempa bumi menerjang wilayah Kabupaten Bandung sepanjang periode 11 Agustus hingga 17 September 2026. Tak hanya di Kabupaten Bandung, gempa juga terjadi di wilayah lainnya seperti Sukabumi, Garut, Pangandaran, hingga Tasikmalaya.
Apakah rentetan kejadian gempa tersebut merupakan aktivitas sesar aktif?
Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Edy Slameto mengatakan ada lima sesar utama yang memiliki sejarah gempa bumi merusak di Jawa Barat.
"Selain Sesar Lembang, ada Sesar Baribis di utaranya ya. Kemudian ada Sesar Tomo, Sesar Cimandiri itu juga tidak kalah terkenalnya gitu ya di Sukabumi, itu sering terjadi aktif kembali reaktivasi. Karena namanya sesar aktif itu kan kalau dipicu menimbulkan pergerakan yang mengakibatkan kerusakan tadi," kata Edy kepada detikJabar belum lama ini.
"Karena ini di darat, kan di darat kemudian relatif dangkal. Nah kalau magnitudonya besar, apalagi makin besar makin merusak gitu ya. Nah kalau yang terkenal patahannya yang ada di Jawa Barat sesarnya Cimandiri, kemudian Sesar Baribis, Sesar Tomo, Sesar Bumi Ayu. Kalau yang di Garut kan ada juga Garsela," ucap Edy menambahkan.
Secara regional, sesar aktif lainnya di Jawa Barat yakni Rajamandala, Kertasari, Kertasari-Pangalengan, Cugenang, Citarik, dan Cisadane.
Jabar Rentan Gempa
Edy mengungkapkan dibandingkan wilayah lain, Jawa Barat menjadi daerah paling rentan terhadap kejadian gempa bumi.
"Dibandingkan Jawa Tengah itu ya tentu Jawa Barat jauh lebih (rentan), jauh lebih padat populasi sesarnya. Nah Jawa Barat sendiri kenapa banyak (sesar), karena Jawa Barat ini kan memang secara struktur geologi dipengaruhi oleh banyak aspek. Secara tektonik kita, ini di selatan kita kan ada zona subduksi ya, dan itu secara tektonik kan aktif terus gitu ya," kata Edy.
"Dan itu hampir semua di Jawa lah, sepanjang Pulau Jawa, Sumatera itu kan zona subduksi, jadi kita relatif aktif. Kemudian juga secara geologi batuan di Jawa Barat ini umumnya batuan vulkanik yang relatively tidak terlalu terkonsolidasi sehingga kalau misalnya diberikan tekanan akan lebih mudah patah. Jadi perbandingannya secara relatif ya Jawa Barat lebih ramai lah," ungkapnya menambahkan.
Menanggapi rentetan kejadian gempa bumi di Kabupaten Bandung belum lama ini, Edy menjelaskan pemicunya bisa beragam, karena patahan atau sesar aktif terjadi ketika ada gaya yang bekerja.
"Yang saya sebutkan gaya tadi bisa gayanya dari aktivitas tektonik, bisa juga dari gempa vulkanik, kan macam-macam. Itu akan membuat suatu patahan itu bergerak atau bergeser. Pergerakannya bisa vertikal, bisa horizontal atau oblique (gabungan keduanya) gitu ya," katanya.
"Tapi yang pasti dia butuh gaya yang memicu dia untuk aktif. Nah kenapa di Jawa Barat banyak ya karena kita punya banyak gunung api, kita Gunung Api aja ada berapa kita? Ada Tangkuban Perahu, aktif semua kan itu kan? Ciremai, terus Gede Pangrango ya, Salak itu kan aktif semua. Jadi kalau mereka sedang batuk-batuk, aktivitas seismisitasnya tinggi itu kan menimbulkan gempa-gempa kecil yang kadang-kadang nggak kita rasa tetapi itu bisa mengaktivasi zona rekahan-rekahan tadi sehingga dia menjadi bergerak kan," jelasnya.
(wip/sud)