Sesar Lembang dan beberapa sumber gempa lain di Jawa Barat menjadi ancaman di depan mata. Tak tanggung-tanggung, dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) 2025-2029 menyebut setidaknya ada 48,8 juta penduduk Jawa Barat yang bakal terdampak.
Salah satu yang selalu memicu gelombang kekhawatiran publik ialah ancaman gempa Sesar Lembang. Patahan aktif itu membentang sepanjang 29 kilometer dari ujung utaranya di daerah Cilengkrang, Kabupaten Bandung, sampai ke ujung selatan di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivitas seismik Sesar Lembang perlu diperhatikan secara serius mengingat patahan itu aktif. Berdasarkan sejarahnya, aktivitas gempa Sesar Lembang sempat menimbulkan kerusakan di Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, KBB pada tahun 2011 lalu dengan gempa bermagnitudo 3,3.
"Sesar Lembang perlu diberikan perhatian lebih karena itu adalah sesar yang aktif," kata Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) sekaligus ahli gempa ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano saat dikonfirmasi, Minggu (27/9/2026).
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB itu juga menggarisbawahi dampak yang bisa ditimbulkan guncangan Sesar Lembang. Guncangan yang dihasilkan kekuatannya bervariasi tergantung pada jarak dan wilayah.
"Semakin jauh dari garis sesarnya, guncangan akan semakin kecil. Tapi berbeda kalau di Kota Bandung, kemungkinan ada amplifikasi atau penguatan guncangan gempa akibat kondisi lokal dan batuan, dan semakin selatan semakin kecil lagi," kata Irwan.
Prediksi kekuatan guncangan yang dihasilkan juga masih berbeda-beda. Di kalangan peneliti, pembahasan soal kekuatan Sesar Lembang juga belum tuntas kajiannya.
"Saya pernah menulis paper (jurnal ilmiah) dan menyimpulkan potensinya di atas 6. Kemudian peneliti yang lain ada yang mendukung ada yang berbeda, jadi itu sebenarnya di kalangan periset pun belum tuntas," ujar Irwan.
Gunung Batu di Lembang. (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar) |
Beruntungnya, Sesar Lembang memiliki data morfologi dan data trenching (penggalian parit sempit) yang cukup komprehensif dibanding sumber gempa lain di Indonesia, terutama di wilayah timur.
"Kemudian adanya data kontinuitas GPS untuk melihat pergerakan dari sesarnya sendiri, jadi kita perlu melihat pergerakan sesarnya sendiri. Kesimpulan yang diberikan bisa jadi tidak bisa menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi dan menjadi miss informasi," ujar Irwan.
"Informasi lain yang dihasilkan dari berbagai riset yang sudah dilaksanakan yakni kekuatan guncangan gempa. Kalau di Kota Bandung kita sudah harapkan bisa sampai 0,3 g atau bahasa kami itu 0,3 percepatan gravitasi dan itu sudah menjadi dasar peta gempa indonesia yang dibuat pusat studi gempa nasional dan publikasi resmi yang kemudian diakui banyak instansi karena yang membuatnya itu bersama termasuk kami dari ITB bekerjasama dengan BMKG, Badan Geologi dan BRIN," kata Irwan.
Meski wilayah pemukiman di Bandung Raya sudah terlanjur padat, Irwan mengingatkan pentingnya evaluasi dan penerapan standar kelayakan infrastruktur rumah tahan gempa untuk meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa dan kerusakan parah.
"Masyarakat dan pemerintah harus memiliki pemahaman mendasar hingga tingkat lanjut tentang apa yang harus dilakukan apabila bencana terjadi," ujar Irwan.
(orb/orb)

