Deru mesin kendaraan dan keriuhan pejalan kaki di jantung Kota Bandung seolah menjadi detak nadi yang tak pernah berhenti di kawasan Banceuy. Hanya sepelemparan batu dari hiruk-pikuk Alun-alun, terselip sebuah lorong waktu yang seakan memaksa siapa pun untuk sejenak menahan napas.
Di balik kepungan rumah toko dan bangunan komersial yang berdiri rapat, terdapat sebuah ruang sempit berjeruji besi. Di sinilah kesunyian bertahta, menjaga sisa-sisa memori tentang lahirnya gagasan besar sebuah bangsa. Situs Sel Penjara Banceuy, sebuah kurungan yang dahulu memang berhasil membelenggu raga Ir. Soekarno, namun gagal memenjarakan pemikirannya yang melintasi zaman.
Terasing di Rumah Sendiri
Keberadaan situs bersejarah ini kian hari kian terhimpit oleh deretan beton modern. Bagi mereka yang melintas dengan terburu-buru, keberadaannya sering kali luput dari pandangan.
Seolah-olah, titik nol sejarah panjang kemerdekaan Republik Indonesia ini sedang terasing di rumahnya sendiri. Kondisi letaknya yang tersembunyi tak jarang membuat para pelancong, terutama yang datang dari luar kota, harus mengerutkan dahi karena kesulitan menemukan jejak Sang Proklamator.
Realita ini dirasakan betul oleh Yudi (29), sosok yang mendedikasikan hari-harinya untuk menjaga Situs Sel Penjara Banceuy. Ia mengisahkan bagaimana bangunan bersejarah ini seolah 'tenggelam' oleh pembangunan di sekelilingnya.
"Kalau untuk bangunan ini memang terhimpit ya. Yang lebih terlihat itu menara pengawasnya yang di pinggir jalan. Kalau dalamnya mah, orang-orang atau pengunjung yang ke sini gak kelihatan," tutur Yudi belum lama ini.
Akibat posisi yang tertutup ruko dari jalan utama, banyak calon pengunjung yang ragu untuk melangkah masuk, mengira area tersebut tertutup bagi publik. Yudi bercerita, tak sedikit wisatawan yang harus berputar arah dan mencari celah lewat pintu belakang demi bisa menapakkan kaki di sel bersejarah tersebut.
Sebagai penjaga estafet sejarah, Yudi menyimpan harapan besar agar tata letak situs ini bisa kembali mendapatkan perhatian.
"Penginnya mah ini tuh lebih terbuka kembalilah, jadi jangan sampai terhimpit seperti ini. Biar pengunjung dari luar kota itu langsung masuk dan tahu, 'Oh iya, ini penjaranya bekas Pak Soekarno'," ucapnya.
Menyusutnya Jejak Sejarah
Jika ditarik ke belakang, Penjara Banceuy dulunya bukanlah sekadar ruang sempit. Yudi menjelaskan bahwa di era kolonial, kompleks penjara ini berdiri megah di atas lahan seluas satu hektare. Kala itu, area tahanan dipisahkan menjadi dua kategori yaitu tahanan kriminal umum atau patek, dan tahanan politik.
Kengerian masa lalu itu masih terasa saat melihat desain sel yang pernah ditempati Soekarno. "Nah, yang lebih ngerinya itu untuk tahanan politik pas Soekarno masuk, didesainnya seperti peti mayat tanpa ventilasi udara," tutur Yudi.
Wajah kawasan ini berubah total sejak awal 1983. Pemerintah kala itu memutuskan untuk memindahkan kompleks Penjara Banceuy ke Jalan Soekarno-Hatta di kawasan Mekarwangi. Lahan bekas penjara pun beralih fungsi menjadi pusat pertokoan yang mulai menjamur sejak 1986.
Pembangunan masif inilah yang perlahan menggerus area penjara, hingga kini hanya menyisakan satu sel asli milik Bung Karno dan sebuah menara pengawas yang berdiri kaku di tepi jalan, dibatasi rantai sebagai penanda cagar budaya.
(dir/dir)