Kota Bandung genap berusia 216 tahun. Bagi sebagian warga, angka ini mungkin sekadar penanda waktu. Namun, di balik usia tersebut, tersimpan jejak sejarah panjang, terutama kisah para pendiri kota yang kini berjuluk Kota Kembang ini.
Jika ingin menelusuri jejak sejarah tersebut, Makam Para Bupati di Jalan Karang Anyar, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, adalah destinasi yang wajib dikunjungi.
detikJabar berkesempatan menyambangi kompleks makam bersejarah ini belum lama ini. Saat tiba di lokasi, suasana tenang langsung terasa. Di bawah pohon rindang, tampak Nani (60), sang juru kunci, sedang berbincang dengan pengunjung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada detikJabar, Nani menuturkan bahwa hampir separuh hidupnya didedikasikan untuk menjaga kompleks pemakaman ini. Ia tidak bekerja sendiri, melainkan dibantu oleh anak-anak dan sanak keluarganya.
"Suami orang sini, saya dari Cimahi. Saya gantikan suami karena suami sudah meninggal, meninggalnya tahun 2003 lalu. Saya dan suami di sini sejak 1992, suami dulu ama orang tuanya. Jadi ini tuh turun-temurun, dari buyut, dari kakek, bapak dari suami," kata Nani.
Ibu tiga anak ini mengungkapkan, pada momen Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216, banyak pejabat hingga warga umum yang datang berziarah. Salah satu tokoh sentral yang dimakamkan di sana adalah R.A. Wiranatakusumah III, Bupati ke-VII atau yang dikenal sebagai Dalem Karang Anyar.
Makam para Bupati Bandung (Foto: Wisma Putra/detikJabar). |
Selama menjadi juru kunci, Nani telah melewati berbagai suka dan duka. Namun, momen paling membahagiakan baginya adalah saat Lebaran tiba, karena peziarah datang silih berganti.
"Bangga ada di sini," ujarnya.
Nani mengaku bangga karena ia menjadi saksi hidup yang memahami silsilah pendiri Bandung, tokoh penting, hingga para pejuang kemerdekaan yang bersemayam di sana.
"Sekarang ibu yang tertua di sini jadi yang tahu silsilah-silsilah di sini. Turunan ini mana, turunan itu mana, kan gitu. Nggak dihafalin, tahu aja, tiap tamu datang dihafalin," tuturnya.
Ia menjelaskan, posisi makam para bupati dan keluarganya berada di dalam bangunan utama, sementara makam keturunannya terletak di area luar. Nani menambahkan, area makam para bupati sudah penuh, namun penambahan makam untuk keturunan masih dimungkinkan di bagian luar.
"Nggak bisa, walaupun bupati juga nggak bisa. Tapi kalau turunannya masih bisa di luar," ujarnya.
Nani menegaskan bahwa Makam Para Bupati terbuka untuk umum. Siapa saja yang ingin mempelajari sejarah diperbolehkan datang, asalkan tetap menjaga sopan santun.
"Asal sopan santun saja," ujarnya.
Menurut Nani, pengunjung yang datang tidak hanya dari pihak keluarga. Masyarakat umum, mulai dari pelajar SMP, SMA, hingga mahasiswa yang melakukan penelitian, kerap menyambangi tempat ini untuk menggali sejarah.
"Banyak, anak SMP, SMA, kuliah sama yang penelitian juga ada," pungkasnya.
(wip/mso)

