Jejak Pahit-Manis Kopi Priangan: Dari VOC hingga Mendunia

Jejak Pahit-Manis Kopi Priangan: Dari VOC hingga Mendunia

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Sabtu, 26 Sep 2026 10:00 WIB
Kopi hitam. Ilustrasi
Kopi hitam. (Foto: Getty Images/iStockphoto/stefanilouise)
Bandung -

Berbicara tentang kopi, Kota Bandung rupanya memiliki sejarah yang cukup dalam mengenai biji-bijian ini. Dikenal sebagai Kopi Priangan atau Java Preanger, kopi yang hadir di tanah Sunda ini rupanya menjadi salah satu kopi tertua dan paling bersejarah di Indonesia.

Selain pernah merajai pasar dunia pada abad ke-18, saking terkenalnya, masyarakat Eropa pada saat itu menyematkan istilah 'A Cup of Java' sebagai bentuk penggambaran secangkir kopi hitam yang sangat nikmat.

Lantas, sejauh mana perkembangan kopi tanah Sunda dari masa ke masa? Simak artikel ini hingga selesai karena nantinya detikers akan mulai memahami perkembangan Kopi Priangan dalam merambah ke kancah dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Titik Awal Kedatangan di Nusantara

Pada awal kedatangannya di tahun 1696-1699, sejarah kopi di Nusantara dimulai ketika Wali Kota Amsterdam, Nicholas Witsen, meminta komandan pasukan Belanda di Malabar bernama Adrian van Ommen untuk membawa bibit kopi Arabika ke Batavia pada tahun 1696.

Setibanya di Batavia, penanaman awal bibit kopi mulai dilakukan, letaknya di daerah Kedawung/Pondok Kopi. Sayangnya, pada percobaan pertama itu hasilnya gagal total, penyebabnya tidak lain karena bencana banjir dan gempa bumi.

ADVERTISEMENT

Tidak berhenti di sana, upaya uji coba kedua mulai digencarkan, tepatnya pada tahun 1699, VOC kembali membawa bibit baru. Menyadari bahwa kopi Arabika membutuhkan suhu dingin dan dataran tinggi, mereka mulai menggeser budidaya tersebut ke wilayah pegunungan sekitar Jawa Barat, dan pada saat itu wilayah yang dipilih adalah Cianjur.

Berselang cukup lama, sekitar tahun 1707 penanaman uji coba kedua mulai terlihat hasilnya. Hasil yang memuaskan di tanah subur Priangan ini rupanya menimbulkan sistem baru bernama Sistem Preangerstelsel atau dalam bahasa Indonesia adalah Sistem Parahyangan.

Mulai Hadirnya Sistem Tanam Paksa

Sebelum akhirnya diberlakukannya Sistem Preangerstelsel, pada tahun 1711, VOC sempat mencoba mulai mewajibkan para bupati lokal untuk menanam dan menyetor kopi. Hasilnya, Bupati Cianjur yang saat itu Raden Aria Wira Tanu III, menjadi bupati pertama yang mengirimkan hasil panen kopi Priangan dalam jumlah besar langsung ke Belanda.

Berkat keberhasilan ini, munculah Sistem Preangerstelsel, sebuah sistem di mana rakyat Priangan dipaksa menanam kopi dan menyerahkannya kepada VOC melalui perantara bupati atau penguasa lokal.

Sistem ini tentunya sangat menguntungkan bagi Belanda, hingga membuat VOC menjadi produsen kopi terpenting di dunia, menjadikan kopi sebagai komoditas ekspor paling menguntungkan dari Jawa hingga pertengahan abad ke-19.

Tidak sampai di situ, kebijakan tanam paksa ini rupanya diikuti oleh wilayah lainnya, hingga akhirnya diberlakukan pada wilayah yang lebih luas dengan komoditas tanam yang lebih beragam.

Masa Keemasan Kopi Priangan di Kancah Dunia

Hanya dalam kurun waktu sekitar 20 tahun, kopi Priangan mencatat pertumbuhan ekspor yang sangat masif. Hal ini dibuktikan dengan beberapa aksi, yang tertinggi itu hingga mampu menumbangkan dominasi global.

Mulanya pasar kopi dunia dikuasai oleh Mocha alias Yaman, namun pada tahun 1726, kopi Priangan secara resmi menguasai pasar Amsterdam dan Eropa. Tidak sampai di situ, monopoli global pun ikut menjadi permainannya, tepatnya pada tahun 1730-an, volume kopi yang diangkut dari Priangan bisa mencapai 4-6 juta ton per tahun atau setara 50 persen hingga 75 persen kebutuhan kopi dunia hanya dari tanah Jawa Barat.

Penderitaan yang Dirasakan Pribumi

Meskipun kesuksesan ekspor tersebut mendatangkan keuntungan yang luar biasa melimpah bagi kas VOC dan pemerintah kolonial Belanda, sejarah mencatat adanya luka mendalam bagi masyarakat tanah Sunda.

Di balik kenikmatan secangkir kopi yang dipuji-puji di daratan Eropa, para petani lokal dipaksa membanting tulang menanam kopi secara masif hingga lahan pangan utama mereka terbengkalai.

Penderitaan rakyat kian diperparah oleh harga beli kopi dari petani yang ditekan sangat rendah serta praktik korupsi oleh para perantara dan penguasa lokal.

Akibatnya, krisis pangan, kelaparan hebat, dan kemiskinan ekstrem melanda wilayah Priangan, meninggalkan jejak kepedihan panjang dari sistem tanam paksa yang eksploitatif tersebut.

Masa Kehancuran Kopi Priangan di Kancah Dunia

Masa keemasan kopi Arabika Priangan akhirnya mulai menemui titik kehancuran pada akhir abad ke-19, tepatnya pada periode 1870 hingga 1900.

Faktor pukulan telak datang dari serangan wabah karat daun atau Hemileia vastatrix, yakni hama jamur perusak yang meluluhlantakkan hampir seluruh perkebunan Arabika di dataran rendah hingga menengah di Pulau Jawa hingga membuat angka produksi jatuh bebas.

Situasi tersebut diperberat oleh sengitnya persaingan pasar global menyusul munculnya produsen raksasa baru seperti Brasil, ditambah menjamurnya perkebunan swasta di berbagai penjuru Hindia Belanda.

Menghadapi kehancuran varietas Arabika, pemerintah kolonial Belanda akhirnya mengganti tanaman yang rusak dengan jenis Robusta dan Liberika yang jauh lebih kebal penyakit, meski langkah ini secara perlahan mengikis pamor eksklusif kopi Java Preanger asli dari panggung utama dunia.

Babak Baru Kopi Priangan di Tanah Sunda

Kini, wilayah pegunungan Jawa Barat seperti Gunung Malabar, Patuha, dan Papandayan kembali bangkit mengusung pesona otentik Kopi Java Preanger ke panggung kopi modern.

Produk komersial yang beredar saat ini tetap mempertahankan profil rasa klasik yang sangat memikat, yakni perpaduan unik antara cokelat hitam (dark chocolate), sentuhan rasa buah (fruity/lime), manisnya karamel, hingga selintas aroma nangka yang eksotis.

Kualitas seduhannya kian disukai para penikmat kopi karena memiliki tingkat keasaman yang clean and bright, yaitu cenderung sedang, lembut, serta ramah dan nyaman di lidah.

Karakter tersebut disempurnakan oleh ketebalan rasa (body) yang berada di level ringan hingga sedang (light to medium), sehingga menghasilkan seduhan yang elegan tanpa meninggalkan rasa pahit pekat yang berlebihan.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads