Menjaga Marwah Sel Banceuy di Antara Himpitan Beton Modern

Menjaga Marwah Sel Banceuy di Antara Himpitan Beton Modern

Nedzar Rabbany El Haq - detikJabar
Senin, 28 Sep 2026 08:30 WIB
Situs Penjara Banceuy
Situs Penjara Banceuy (Foto: Nedzar Rabbany El Haq/detikJabar)
Bandung -

Deru mesin kendaraan dan keriuhan pejalan kaki di jantung Kota Bandung seolah menjadi detak nadi yang tak pernah berhenti di kawasan Banceuy. Hanya sepelemparan batu dari hiruk-pikuk Alun-alun, terselip sebuah lorong waktu yang seakan memaksa siapa pun untuk sejenak menahan napas.

Di balik kepungan rumah toko dan bangunan komersial yang berdiri rapat, terdapat sebuah ruang sempit berjeruji besi. Di sinilah kesunyian bertahta, menjaga sisa-sisa memori tentang lahirnya gagasan besar sebuah bangsa. Situs Sel Penjara Banceuy, sebuah kurungan yang dahulu memang berhasil membelenggu raga Ir. Soekarno, namun gagal memenjarakan pemikirannya yang melintasi zaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terasing di Rumah Sendiri

Keberadaan situs bersejarah ini kian hari kian terhimpit oleh deretan beton modern. Bagi mereka yang melintas dengan terburu-buru, keberadaannya sering kali luput dari pandangan.

Seolah-olah, titik nol sejarah panjang kemerdekaan Republik Indonesia ini sedang terasing di rumahnya sendiri. Kondisi letaknya yang tersembunyi tak jarang membuat para pelancong, terutama yang datang dari luar kota, harus mengerutkan dahi karena kesulitan menemukan jejak Sang Proklamator.

ADVERTISEMENT

Realita ini dirasakan betul oleh Yudi (29), sosok yang mendedikasikan hari-harinya untuk menjaga Situs Sel Penjara Banceuy. Ia mengisahkan bagaimana bangunan bersejarah ini seolah 'tenggelam' oleh pembangunan di sekelilingnya.

"Kalau untuk bangunan ini memang terhimpit ya. Yang lebih terlihat itu menara pengawasnya yang di pinggir jalan. Kalau dalamnya mah, orang-orang atau pengunjung yang ke sini gak kelihatan," tutur Yudi belum lama ini.

Situs Penjara BanceuySitus Penjara Banceuy Foto: Nedzar Rabbany El Haq/detikJabar

Akibat posisi yang tertutup ruko dari jalan utama, banyak calon pengunjung yang ragu untuk melangkah masuk, mengira area tersebut tertutup bagi publik. Yudi bercerita, tak sedikit wisatawan yang harus berputar arah dan mencari celah lewat pintu belakang demi bisa menapakkan kaki di sel bersejarah tersebut.

Sebagai penjaga estafet sejarah, Yudi menyimpan harapan besar agar tata letak situs ini bisa kembali mendapatkan perhatian.

"Penginnya mah ini tuh lebih terbuka kembalilah, jadi jangan sampai terhimpit seperti ini. Biar pengunjung dari luar kota itu langsung masuk dan tahu, 'Oh iya, ini penjaranya bekas Pak Soekarno'," ucapnya.

Menyusutnya Jejak Sejarah

Jika ditarik ke belakang, Penjara Banceuy dulunya bukanlah sekadar ruang sempit. Yudi menjelaskan bahwa di era kolonial, kompleks penjara ini berdiri megah di atas lahan seluas satu hektare. Kala itu, area tahanan dipisahkan menjadi dua kategori yaitu tahanan kriminal umum atau patek, dan tahanan politik.

Kengerian masa lalu itu masih terasa saat melihat desain sel yang pernah ditempati Soekarno. "Nah, yang lebih ngerinya itu untuk tahanan politik pas Soekarno masuk, didesainnya seperti peti mayat tanpa ventilasi udara," tutur Yudi.

Wajah kawasan ini berubah total sejak awal 1983. Pemerintah kala itu memutuskan untuk memindahkan kompleks Penjara Banceuy ke Jalan Soekarno-Hatta di kawasan Mekarwangi. Lahan bekas penjara pun beralih fungsi menjadi pusat pertokoan yang mulai menjamur sejak 1986.

Pembangunan masif inilah yang perlahan menggerus area penjara, hingga kini hanya menyisakan satu sel asli milik Bung Karno dan sebuah menara pengawas yang berdiri kaku di tepi jalan, dibatasi rantai sebagai penanda cagar budaya.

Dedikasi di Balik Jeruji

Di balik keteguhan satu-satunya sel yang tersisa, ada kisah pengabdian yang mengharukan. Jauh sebelum negara memberikan perhatian penuh, situs ini dirawat dengan cinta dan biaya pribadi oleh seorang warga biasa. Yudi mengenang mendiang ayahnya, Ahmad, sebagai pahlawan yang menjaga nyala sejarah di tempat ini.

"Zaman waktu pemugaran, itu gak sampai ke depan, cuman di area situs saja dan tanpa diakui sama pemerintah. Kebetulan dulu yang merawat di sini tuh almarhum bapak saya, namanya Bapak Ahmad, dari tahun 1983 sampai 2014 tuh pakai dana pribadi," kenang Yudi.

Situs Penjara BanceuySitus Penjara Banceuy Foto: Nedzar Rabbany El Haq/detikJabar

Angin segar baru berembus pada 2015. Situs ini akhirnya mendapatkan pengakuan resmi dan kini berada di bawah naungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat. Kini, biaya operasional dan perawatan telah ditanggung negara, memungkinkan Yudi untuk sepenuhnya fokus mengedukasi setiap tamu yang datang.

Meski terjepit oleh modernisasi, sel Banceuy tetap memancarkan aura magis. Suasana di dalam area situs terasa begitu teduh berkat rimbunnya pepohonan, menciptakan kontras yang tajam dengan kebisingan jalanan Bandung.

Di sini, pengunjung disambut dengan keramahan tanpa dipungut biaya sepeser pun. Yudi dengan senang hati akan menemani setiap langkah pengunjung, menjelaskan setiap detail sejarah yang tersimpan di balik jeruji besi tersebut.

Menariknya, Yudi tetap teguh menjaga kesakralan tempat ini. Ia menolak ide untuk menjadikan area situs sebagai tempat komersial seperti kafe. Baginya, kebersihan dan kesucian situs adalah harga mati. Bahkan, ia menceritakan sisi mistis yang sering dirasakan warga sekitar.

"Di kala malam itu kalau orang-orang yang lewat, ya kayak bau bunga gitu khas dari sana, padahal di sana gak kita sediain apa-apa," ungkapnya.

Bagi para sesepuh yang mengagumi sosok Soekarno, mengunjungi sel ini sering kali menjadi perjalanan emosional yang menguras air mata. Namun, terselip pula keprihatinan melihat kondisi situs yang kian terdesak. Muncul harapan agar suatu saat Penjara Banceuy bisa direplikasi secara utuh, menjadi pusat memori kolektif yang megah layaknya penjara bersejarah di belahan dunia lain.

Menutup perbincangan, Yudi menitipkan pesan mendalam bagi generasi muda. Ia menyayangkan jika kunjungan ke tempat yang menjadi titik awal kemerdekaan ini hanya dianggap sebagai latar belakang foto demi konten media sosial.

"Yang paling terpenting, saya minta jangan hanya untuk berfoto atau berswafoto di sini. Cobalah tanya akan sejarahnya, biar pas keluar dari sel ini, tahu akan sejarahnya Pak Soekarno. Banyak pengunjung, terutama anak muda, masuk cuma jepret-jepret foto, udah," pungkas Yudi.

Halaman 2 dari 2
(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads