Pasar Baru Bandung atau sekarang dikenal dengan Pasar Baru Trade Center ini rupanya menjadi salah satu pasar tertua di Kota Bandung. Tidak hanya terkenal karena tekstil dan pakaiannya saja, tetapi juga menawarkan berbagai hal menarik lain seperti pusat oleh-oleh, wisata kuliner, hingga nilai sejarahnya yang panjang.
Salah satu alasan yang menjadikannya pasar tertua dan bersejarah adalah karena lahir dari perpindahan aktivitas perdagangan abad ke-19 dan menjadi pusat perniagaan multi-etnis sejak era kolonial.
Lebih jelasnya, detikers bisa simak penjelasan di bawah mengenai seperti apa sejarah dan perkembangannya dari masa ke masa hingga keberadaannya saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan yang Menjadikannya Pasar Tertua
Dibalik kokohnya Pasar Baru Trade Center sebagai pusat perniagaan tertua, Pasar Baru menjadi saksi bisu perjalanan sejarah lebih dari satu abad. Kehadiran pasar legendaris ini tidak dapat dipisahkan dari peristiwa tragis pada tahun 1842 silam.
Kala itu, Pasar Ciguriang yang merupakan pusat perdagangan utama Bandung tempo dulu, hangus terbakar akibat kerusuhan yang dipicu oleh seorang pria bernama Munada.
Demi memulihkan roda perekonomian yang lumpuh, pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai membuka lahan penampungan baru di dekat kawasan Pecinan pada tahun 1884 atau kalau sekarang mencangkup Jalan Banceuy, Jalan ABC, Jalan Suniaraja, dan sekitar Pasar Baru, sebelum akhirnya meresmikan lokasi permanen Pasar Baru di tempatnya yang sekarang pada tahun 1906 silam.
Sejak saat itulah kawasan tersebut bertransformasi menjadi magnet ekonomi utama yang mempertemukan berbagai etnis, mulai dari pribumi, Tionghoa, Arab, bahkan hingga Eropa. Seiring berjalannya waktu, arsitektur pasar mengalami transformasi besar, mulai dari bangunannya yang semula kayu sederhana kini menjadi pertokoan modern bertingkat.
Keadaan di Pasar Baru Bandung pada pertengahan September 2025 Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar |
Bentuk Kolaborasi Pemerintah dan Para Pedagang
Berdirinya Pasar Baru Bandung juga tidak dicetuskan oleh satu tokoh atau pendiri tunggal, melainkan lahir dari inisiatif bersama antara pemerintah kolonial Belanda dan para pedagang setelah sempat vakum puluhan tahun sejak tragedi di Pasar Ciguriang tersebut.
Sinergi tersebut terlihat jelas ketika pemerintah kolonial menyediakan regulasi zonasi dan tata ruang yang rapi, sementara para saudagar lokal maupun perantau menggerakkan suplai komoditas serta modal harian.
Pola kerja sama ini menciptakan tata kelola pasar yang teratur pada zamannya, bahkan Pasar Baru sempat dinobatkan sebagai pasar paling bersih dan tertata di Hindia Belanda sekitar dekade 1930-an berkat kedisiplinan para pedagang dalam merawat kios mereka.
Alasan Pasar Baru Selalu Menjadi Solusi Tekstil
Reputasi Pasar Baru sebagai surga tekstil tidak lepas dari posisinya yang terintegrasi langsung dengan kawasan industri tekstil besar di Jawa Barat, seperti Cigondewah, Karawang, dan Rancaekek.
Keterkaitan rantai pasok dari pabrik tangan pertama membuat para pedagang di tempat ini sanggup menawarkan keragaman jenis kain yang luar biasa lengkap, mulai dari katun, sutra, brokat, renda, hingga batik Nusantara dengan rentang harga yang sangat bersaing.
Selain kelengkapan stoknya, budaya tawar-menawar yang masih hidup memberikan kepuasan tersendiri bagi pembeli eceran maupun pelaku usaha pakaian jadi yang ingin kulakan dalam jumlah partai besar.
Letaknya yang terbilang sangat strategis karena hanya berjarak beberapa ratus meter dari pintu selatan Stasiun Hall Bandung, tentunya memberikan kemudahan bagi para pelancong dalam menjangkau lokasi Pasar Baru Bandung hanya dengan berjalan kaki, menaiki angkutan kota, maupun ojek online.
Sehingga daya pikat Pasar Baru sejauh ini sudah dapat dibuktikan dengan 80 persen pengunjungnya yang berasal dari luar Bandung, termasuk wisatawan mancanegara asal Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Ini juga berkaitan dengan reaktivasi layanan di Bandara Husein Sastranegara yang akan memberikan warna baru bagi para pedagang dalam menyiapkan stock dagangannya.

