Deretan bukit yang berjejer di sepanjang kawasan Lembang hingga Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menyiratkan keindahan. Namun di baliknya, tersimpan bahaya yang mengancam jiwa manusia penghuni tanah Bandung Utara.
Topografi bukit terjal yang tahun ke tahun mengalami perubahan signifikan, seperti rumah-rumah bertumpuk di lereng terjal berisiko mengalami kerusakan maksimal kala gempa mengguncang. Ya, kawasan perbukitan dari Batu Loceng, Kabupaten Bandung, hingga Padalarang, Bandung Barat, merupakan garis bersambung yang dikenal sebagai Sesar Lembang.
Banyak ahli dan penelitian yang menyebut jika potensi gempa yang ditimbulkan dari pergerakan Sesar Lembang bisa mencapai magnitudo 6,9. Berdasarkan sejarahnya, aktivitas gempa Sesar Lembang sempat menimbulkan kerusakan di Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, KBB pada tahun 2011 lalu. Saat itu, Sesar Lembang menggeliat menghasilkan gempa bermagnitudo 3,3.
Di balik potensi bahaya Sesar Lembang yang membentang sepanjang 29 kilometer, ada angka sosial yang bakal menyayat hati: KBB adalah rumah bagi 701.607 jiwa kelompok umur rentan-anak-anak balita dan para lansia-hidup di dalam bayang-bayang bahaya Sesar Lembang. Ini adalah angka populasi rentan terbesar di kawasan Bandung Raya.
Berdasarkan dokumen rencana kontingensi BPBD KBB tahun 2026, asumsi penduduk yang terdampak akibat aktivitas Sesar Lembang itu mencapai 1.768.353 jiwa, tersebar di seluruh kecamatan. Dari angka tersebut, kecamatan dengan potensi penduduk terdampak paling tinggi ada di Kecamatan Lembang dengan perkiraan 211.159 jiwa terdampak.
Kemudian dalam dokumen itu, diperkirakan sebanyak 8.843 orang tidak dapat dievakuasi setelah gempa terjadi. Dari jumlah itu, sekitar 36 jiwa diperkirakan meninggal akibat tidak bisa dievakuasi. Kemudian setelahnya, akan ada sebanyak 1.237.847 jiwa yang menjadi pengungsi.
Sementara bangunan rumah atau permukiman juga mengalami potensi dampak paling besar, yaitu sebanyak 661.207 unit bangunan rumah. Dampak utamanya adalah ribuan rumah roboh atau mengalami rusak berat, yang berisiko menimbulkan korban jiwa serta memicu terjadinya pengungsian massal.
Di Bandung Barat, mitigasi bencana bukan sekadar soal papan petunjuk evakuasi, melainkan tentang bagaimana menyelamatkan ratusan ribu nenek, kakek, dan anak-anak yang tinggal di rumah-rumah lereng terjal ketika Sesar Lembang terbangun dari tidur panjangnya.
"Memang kami baru selesai memperbaharui dokumen rencana kontingensi kebencanaan, termasuk di dalamnya potensi bencana Sesar Lembang yang mengancam setiap waktu," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Bandung Barat, Dedi Supriadi kepada detikJabar, Rabu (23/9/2026).
Dedi tak menampik jika kelompok usia rentan seperti anak-anak serta lansia berpotensi menjadi korban dalam bencana alam yang menimbulkan keresahan dan menghantui masyarakat hingga saat ini. Salah satu langkah yang terus mereka lakukan yakni mitigasi dan sosialisasi.
"Di dokumen renkon kita sudah skenariokan kemana warga harus evakuasi. Kemudian kalau melihat kejadian, terakhir kali itu di tahun 2011 yang paling berdampak. Tentunya kita antisipasi dan waspadai potensi pergerakannya dengan terus sosialisasi dan membentuk rencana kontingensi itu," kata Dedi.
Sosialisasi dilakukan terhadap beberapa orang yang didelegasikan oleh setiap desa. Nantinya mereka yang sudah menyerap pengetahuan soal bahaya dan semua skenario penyelamatan saat gempa terjadi, akan menjadi kepanjangan tangan BPBD menyampaikan sosialisasi secara langsung terhadap masyarakat.
"Kemudian kita juga kan membentuk Desa Tanggung Bencana (Destana), di dalamnya ada relawan, ibu-ibu PKK, pemerintah desa, TNI dan Polri, semua berperan untuk mengedukasi masyarakat terutama lansia dan anak-anak soal Sesar Lembang ini. Bagaimana dan kemana mereka harus menyelamatkan diri," kata Dedi.
Runtuhkan Denyut Nadi Kehidupan di Bandung Barat
Dampak dari Sesar Lembang, tak hanya sebatas pada orang-orang yang tinggal di atas uratnya. Lebih dari itu, asumsi kerusakan yang ditimbulkan apabila semua segmen Sesar Lembang bergerak bersamaan bakal mampu meruntuhkan denyut nadi ekonomi dan sosial di Bandung Barat.
Dalam dokumen rencana kontingensi BPBD Bandung Barat tersebut memuat data yang menunjukkan potensi kerugian ekonomi akibat Sesar Lembang. Kerugian maksimal yang bisa ditimbulkan Sesar Lembang ditaksir menembus angka 5.699.509 dalam juta rupiah. Kerugian itu akibat kerusakan fisik terhadap infrastruktur dan terhentinya aktivitas perekonomian masyarakat.
Gangguan ini terjadi tidak hanya pada pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan, tetapi juga pada sektor pertanian, pariwisata, serta layanan jasa yang menjadi penopang utama ekonomi daerah. Ekonomi bakal berhenti sementara karena kerusakan pasar, pertokoan, area industri kecil, dan fasilitas perdagangan.
Kerusakan juga bakal menerjang lahan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan darat (tambak) yang akan menyebabkan terhentinya kegiatan produksi dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, kerusakan pada fasilitas usaha seperti pertokoan, hotel, restoran, serta sektor pariwisata di kawasan wisata Lembang dan sekitarnya dapat menurunkan pendapatan masyarakat secara signifikan.
Roda ekonomi juga akan terganggu karena kerusakan infrastruktur transportasi-khususnya di kawasan padat penduduk seperti Padalarang, Ngamprah, dan Batujajar, serta di wilayah perbukitan Lembang-dapat memutus akses jalan utama dan jembatan. Hal ini akan melumpuhkan pergerakan logistik dan menghambat upaya evakuasi serta penjangkauan bantuan.
Kerusakan jaringan utilitas vital seperti listrik (PLN), telekomunikasi, dan jaringan air bersih (PDAM) kemudian bakal mengakibatkan krisis pasokan energi dan air bersih di wilayah terdampak.
Sementara dampak lainnya, diperkirakan sebanyak 1.178 unit sarana pendidikan berpotensi mengalami dampak dengan tingkat kerusakan mulai dari ringan hingga berat pada bangunan sekolah, yang berdampak langsung pada terganggunya kegiatan belajar mengajar.
Ada sebanyak 129 gedung perkantoran, baik milik pemerintah maupun swasta, yang berpotensi mengalami kerusakan struktural maupun non-struktural.
Lalu tercatat ada 137 fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas dan klinik, diperkirakan mengalami kerusakan. Hal ini dapat berisiko mengganggu kelancaran penanganan pelayanan kesehatan darurat bagi masyarakat.
Kemudian, tercatat ada sebanyak 1.089 unit tempat ibadah, seperti masjid dan gereja, berpotensi mengalami kerusakan akibat guncangan getaran yang kuat.
(iqk/iqk)