Jembatan dan Akhir Penantian Belasan Tahun Warga Cicalengka-Rancaekek

Yuga Hassani - detikJabar
Kamis, 13 Agu 2026 21:30 WIB
Kondisi Jembatan Merah Putih Presisi Nusantara yang menghubungkan Cicalengka dan Rancaekek (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Kabupaten Bandung -

Mentari pagi yang menyelinap di sela perbukitan Kabupaten Bandung selalu menjadi alarm alami bagi warga. Diiringi deru mesin dan langkah kaki yang bergegas, masyarakat di perbatasan Kecamatan Cicalengka dan Rancaekek memulai ritual harian mereka, menjemput rezeki dan merajut harapan bagi keluarga.

Namun, di balik geliat ekonomi yang terus tumbuh di kawasan padat penduduk ini, terselip kisah perjuangan fisik yang tak mudah. Selama bertahun-tahun, denyut kehidupan di Desa Panenjoan dan Desa Nanjung Mekar harus melewati ujian nyali. Jarak yang jauh dan medan yang berat menjadi santapan sehari-hari.

Salah satu titik paling krusial sekaligus membahayakan adalah sebuah jembatan bambu yang membelah sungai. Kondisinya jauh dari kata layak. Awalnya, titian ini hanya berupa tiga batang bambu yang diikat ala kadarnya. Sebilah bambu di sisi kanan-kiri menjadi satu-satunya pegangan bagi warga yang melintas di atas ketinggian. Setiap langkah harus dipijakkan dengan penuh kehati-hatian, apalagi saat beban di pundak terasa berat.

Padahal, jembatan ini adalah urat nadi. Anak-anak sekolah, warga yang sakit, hingga para buruh pabrik menggantungkan mobilitas mereka pada bilah-bilah bambu tersebut. Saat hujan turun, jembatan ini berubah menjadi jebakan licin yang mengancam keselamatan.

"Dulu kan jembatannya dari Bambu. Ketika ada anak-anak yang melintas, apalagi udah banjir, takut karena licin. Dan juga ibu-ibu yang mau ngaji merasa tidak nyaman. Jadi takut jatuh," ujar warga sekitar Aceng Kurniawan, saat ditemui di lokasi, Kamis (13/8/2026).

Penderitaan warga tak berhenti di situ. Aceng menceritakan betapa sulitnya saat ada warga yang meninggal dunia. Karena kondisi jembatan bambu yang sempit dan rapuh, keranda jenazah tidak bisa melintas. Warga terpaksa memutar hingga beberapa kilometer menuju pemakaman umum.

"Iya dulu mah kalau memakamkan itu harus pakai ambulance jauh muter lah. Kalau jalan kaki harus ke sana jauh. Ambulans enggak ada," katanya.

Kondisi Jembatan Merah Putih Presisi Nusantara yang menghubungkan Cicalengka dan Rancaekek Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Kini, pemandangan getir itu telah berganti. Sebuah struktur kokoh berbahan beton dan besi berdiri megah, menggantikan bambu-bambu lapuk yang dulu menghantui. Jembatan itu kini bersalin rupa menjadi lebih kuat dan aman.

"Alhamdulillah dengan dibangunnya jembatan seperti ini, jembatan yang kokoh oleh Bapak Presiden, Pak Polisi, alhamdulillah pendidikan anak-anak sekolah lancar dan akses juga mudah enggak jauh lagi," jelas Aceng dengan nada lega.

Bagi warga Cicalengka dan Rancaekek, jembatan yang kini dinamai Jembatan Merah Putih Presisi Nusantara ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan jembatan menuju kesejahteraan.

"Alhamdulillah saya mengucapkan terimakasih atas dibangunkannya jembatan ini. Akses warga di dua kecamatan jadi mudah, karyawan juga yang mau kerja lancar, ibu-ibu yang mau ngaji juga alhamdulillah," ucapnya.



Simak Video "Video: Wujud Pengabdian Polda Riau Bangun Jembatan Merah Putih di Pelosok Daerah"


(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork