Jembatan Merah Putih Presisi di Desa Grogol, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, kini membuka akses warga di empat dukuh yang sebelumnya kesulitan beraktivitas akibat jembatan lama rusak. Jembatan tersebut dibangun setelah akses lama hancur diterjang erosi.
Kepala Dusun (Kasun) Mingging, Desa Grogol, Miseni mengatakan, kerusakan jembatan lama bermula dari rusaknya bangunan pengaman jembatan yang kemudian tergerus erosi. Kondisi itu membuat jembatan ikut rusak dan mengganggu aktivitas warga.
"Dulu ada pengaman jembatan, kemudian hancur kena erosi. Akhirnya jembatan yang lama ikut hancur," kata Miseni, Kamis (13/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kerusakan jembatan membuat warga di empat dukuh merasa terisolasi. Warga pun berinisiatif membuat jembatan darurat dari bambu yang digunakan selama sekitar satu tahun.
"Dampaknya masyarakat di padukuhan ini sangat-sangat merasa lumpuh. Akhirnya warga berinisiatif membuat jembatan darurat menggunakan bambu selama satu tahun," ujarnya.
Kini, setelah Jembatan Merah Putih Presisi dibangun oleh TNI-Polri, akses warga kembali terbuka. Kendaraan roda empat juga sudah dapat melintas di jalur tersebut.
"Alhamdulillah, setelah dibangun Jembatan Merah Putih ini, empat dukuh sangat terbantu. Anak sekolah bisa lewat, petani membawa hasil panen, pedagang juga terbantu," jelas Miseni.
Sebelumnya, akses tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Warga harus menggunakan jalur yang lebih sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Miseni menyebut jalur tersebut tidak hanya menghubungkan wilayah di Desa Grogol. Jalan itu juga dapat menjadi akses menuju Desa Pangkal hingga ke wilayah Trenggalek.
"Ini satu desa. Di Desa Grogol ada delapan dukuh, yang terhubung melalui jembatan ini ada empat dukuh. Jalan ini juga bisa sampai Desa Pangkal dan tembus Trenggalek," katanya.
Meski demikian, ia menyebut akses menuju Trenggalek belum seluruhnya dapat dilalui kendaraan roda empat. Setelah melewati jembatan, masih terdapat sekitar 1,5 kilometer jalan yang kondisinya belum memadai.
"Setelah jembatan ini sekitar 2,5 kilometer sudah bisa roda empat. Setelah itu masih kecil jalannya, kurang lebih 1,5 kilometer," terang Miseni.
Kapolda Jawa Timur Irjen Nanang Avianto mengatakan, pembangunan jembatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat dengan baik.
"Dengan telah dilaksanakannya pembangunan jembatan ini, bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Yang tadinya tidak ada atau mungkin kurang bagus, sekarang menjadi lebih bagus lagi," kata Nanang.
Sementara itu, Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo mengatakan pembangunan jembatan presisi menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat mendapatkan akses yang lebih mudah.
Di Ponorogo, kata Andin, terdapat empat pembangunan jembatan presisi. Tiga di antaranya sudah selesai, sementara satu lainnya masih dalam proses pengerjaan.
"Empat jembatan presisi di Ponorogo. Yang tiga sudah jadi, yang satu masih dalam proses pembangunan," ujar Andin.
Ia menjelaskan jembatan tersebut berada di beberapa wilayah, termasuk dua jembatan di Grogol dan masing-masing satu di Ngebel serta Jambon.
"Satu di Ngebel, dua ada di Grogol, satunya lagi di Jambon. Yang di Jambon masih proses, progresnya sekitar 95 persen, tinggal pagar pelindung," jelasnya.
Andin berharap keberadaan jembatan presisi dapat memangkas jarak dan waktu tempuh warga, sekaligus memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat.
"Harapannya bisa membantu masyarakat, juga memangkas jarak tempuh yang sebelumnya jauh. Termasuk jarak dan waktunya bisa diperpendek," pungkasnya.
