Di depan rumah yang sederhana, Kuntari duduk termangu. Beberapa galon dengan volume 15 liter sudah ia siapkan di sebelahnya. Ia duduk menghadap jalan, kepalanya sesekali menengok kanan-kiri seperti ada sesuatu yang sedang ia tunggu.
Selama lebih dari satu dekade, perempuan 50 tahun ini tinggal di Blok Kesambi, Desa Balongan, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, dengan permasalahan yang selalu datang saat kemarau, yakni kekurangan air bersih.
Tempat tinggalnya yang berada di dekat pantai membuat air dari sumur bor terasa payau saat musim kemarau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dulunya di Desa Sukareja, terus pindah ke sini (Kesambi). Kalau musim kemarau airnya keruh dan agak asin. Selain itu, airnya juga enggak banyak," ujar Kuntari, saat ditemui di kediamannya, Senin (10/8/2026).
Warga setempat yang menggunakan air sumur bor untuk kebutuhan sehari-hari pun turut merasakan nestapa seperti Kuntari.
Kala detikJabar menyusuri kawasan tersebut menggunakan sepeda motor, tampak beberapa ibu-ibu sudah menyiapkan galon dan jeriken di depan rumahnya, sebagian ada yang berkumpul sambil merumpi, sepertinya mereka tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas. Sementara itu, ibu-ibu lainnya hanya duduk di depan rumahnya masing-masing.
Menurut penuturan Rani (32), warga setempat, galon dan jeriken itu untuk mengambil bantuan air bersih yang dijadwalkan segera tiba, dari PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Balongan, yang didistribusikan dari mobil truk air ke lima buah toren yang tersebar di kawasan tersebut.
Ternyata, Kuntari, Rani, dan warga lainnya menunggu kedatangan mobil truk air. Sembari menunggu, Rani bercerita kepada detikJabar tentang nestapanya selama musim kemarau.
Ibu tiga anak ini setiap hari disibukkan dengan aktivitas rumah tangga seperti mencuci pakaian, mencuci piring, dan membersihkan rumah.
"Kalau lagi enggak ada air bersih, tuh, susah. Pakaian kotor menumpuk, piring kotor juga enggak dicuci-cuci," katanya.
Tidak hanya itu, Rani bersama suami dan tiga anaknya mengandalkan bantuan air bersih tersebut untuk mandi, buang air besar, dan lain sebagainya.
"Kami mandi tergantung sama air dari Pertamina, minimal mandi sekali sehari, itu kalau air sumur benar-benar enggak bisa dipakai untuk mandi," ungkapnya.
Setelah beberapa menit menunggu, satu unit mobil truk air terlihat dari kejauhan. "Akhirnya datang juga," celetuk seorang warga lainnya. Seketika para warga berbondong-bondong menghampiri toren terdekat dari lima toren bervolume 2.000 liter, yang disediakan oleh PT Pertamina Patra Niaga RU Balongan itu.
Penantian Kuntari terbayar lunas, selain membawa galon dari rumah, ternyata sudah ada galon miliknya yang diletakkan tepat di bawah keran pada toren tersebut. Ia pun mendapat giliran pertama mengambil air.
"Kalau galonnya enggak ditaruh di keran, nanti saya bisa dapat giliran terakhir, terus juga galonnya saya kasih nama biar enggak tertukar," ungkap Kuntari.
Berdasarkan pengalamannya, pernah terjadi saling berebut giliran mengambil air. Tetapi, di kemudian hari, setelah galon diletakkan di bawah keran sebelum kedatangan mobil truk air, galon-galon lainnya berjejer di belakang dan secara otomatis membentuk antrean.
Sementara itu, Nurhidayanto, Pjs. Area Manager Communication, Relation & CSR pada PT Pertamina Patra Niaga RU Balongan, mengatakan bahwa bantuan air bersih ini sudah berlangsung sejak 2016, dengan total 772 kepala keluarga yang menerima manfaatnya.
"Distribusi air bersih dilaksanakan tiga kali dalam seminggu dengan 9.200 liter per pengiriman," ujarnya kepada detikJabar, Senin (10/8/2026).
Bantuan ini memberikan secercah harapan bagi warga. Setidaknya, kata Nurhidayanto, air bersih dari Pertamina adalah penyambung hidup warga supaya aktivitas tidak terhenti akibat kekurangan air bersih.
Bagi Nurhidayanto, air adalah sumber kehidupan, dan kekurangan air bersih secara otomatis menjadi masalah utama dalam kehidupan.
"Program ini mengeluarkan biaya Rp100.000.000 (seratus juta rupiah) per tahun," ungkap Nurhidayanto.
Kini, tergambar raut semringah di wajah Kuntari setelah beberapa menit termangu. Dengan penuh semangat ia membawa galon-galon berisi air bersih itu ke rumahnya. Beberapa liter air bersih yang ia bawa itu diyakininya cukup untuk menopang kehidupan selama beberapa hari ke depan, setidaknya sampai mobil truk air dari Pertamina itu datang lagi.
(yum/yum)
