Penyakit jantung kerap datang tanpa gejala yang disadari penderitanya. Saat keluhan muncul, tak jarang, kondisinya sudah memerlukan penanganan serius agar kondisinya tidak memburuk.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, prevalensi penyakit jantung di Indonesia berada pada kisaran 1,5 persen. Angka ini bukan sekadar data, karena risiko tertinggi penyakit jantung bisa menimbulkan kematian bagi penderitanya.
Ikhtiar untuk menjaga kesehatan, terutama mencegah penyakit jantung datang menerjang pun mulai dilakukan dengan cara deteksi dini. Di bilangan Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, seratusan warga yang didominasi ibu-ibu satu per satu mengantre untuk mengecek langsung kondisi kesehatannya.
Setelah namanya dipanggil, warga masuk ke sebuah ruangan untuk melakukan pemeriksaan. Dengan metode kardiovaskular, tenaga kesehatan cukup memeriksa retina mata warga untuk mendeteksi kesehatan jantung mereka.
Dari pemeriksaan singkat itu, kondisi kesehatan jantung warga dapat dipetakan sebagai langkah awal untuk mendeteksi risiko yang datang. Ikeu (42), warga Cikutra, Kota Bandung misalnya, mengaku jadi teredukasi untuk menjaga kesehatannya.
"Kalau cek kesehatan kayak gini, ini baru buat saya. Alhamdulillah setelah cek tadi, kodisinya bagus," kata Ikeu saat berbincang dengan detikJabar, Jumat (31/7/2026).
Cek kesehatan itu pun bagi Ikeu jadi pengalaman baru. Meski kondisinya dipastikan masih ideal, Ikeu turut mendapat edukasi supaya bisa menjaga kebugaran tubuhnya.
Edukasi yang Ikeu dapatkan pun menurutnya jadi pemahaman baru dalam menjaga kesehatan. Edukasi rencananya akan ia sebarkan ke keluarganya agar lebih peduli kembali terhadap kondisi tubuhnya.
"Karena ternyata kesehatan jantung itu penting banget, a. Tadi dikasih ilmu minimal sehari harus seribu langkah biar bisa ngejaga kesehatan jantung. Nah, ilmu tadi yang mau saya biasain minimal di lingkungan keluarga saya," ucap Ikeu.
Pemeriksaan kesehatan ini merupakan insiasi anggota DPR RI, Fathi. Berbarengan dengan agenda reses, Fathi menyasar masyarakat yang masuk kategori usia rentan untuk menjaga kesahatan jantungnya.
Saat berbincang dengan wartawan, Fathi menyatakan bahwa pemeriksaan jantung membutuhkan biaya yang begitu besar. Untuk itu, ia berinisiatif menggagas kegiatan ini supaya warga punya kesempatan menjaga kesehatan jantungnya.
"Kalau skrining jantung dilakukan secara mandiri biayanya cukup besar, bisa sekitar Rp1 juta untuk satu kali pemeriksaan. Jadi kami membuka pemeriksaan ini secara gratis, dan kalau ada yang membutuhkan tindak lanjut setelah skrining, kami sudah siapkan enam ambulans, tim dokter, perawat, dan tenaga administrasi," katanya.
Sebanyak tujuh tenaga kesehatan dilibatkan dalam kegiatan tersebut, terdiri atas dokter, perawat, tenaga administrasi, dan petugas pendukung lainnya. Selain pemeriksaan kesehatan, Fathi mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan penyakit.
"Selain melakukan skrining, masyarakat juga harus mulai menjalankan gaya hidup sehat. Kalau masyarakat sehat, beban BPJS dan rumah sakit akan berkurang sehingga pengeluaran pemerintah untuk sektor kesehatan juga menjadi lebih efisien," tuturnya.
Dalam rangkaian reses tersebut, Fathi juga menyerap berbagai aspirasi masyarakat. Menurutnya, persoalan pendidikan dan kesehatan masih menjadi dua isu yang paling banyak dikeluhkan warga Kota Bandung dan Kota Cimahi.
"Masih banyak masyarakat yang sakit dan belum tahu harus ke mana untuk mendapatkan bantuan. Karena itu salah satu program prioritas Rumah Aspirasi adalah advokasi kesehatan masyarakat," ucapnya.
Fathi berharap peserta skrining tidak hanya menjaga kesehatannya sendiri, tetapi juga menyebarkan edukasi kepada keluarga dan lingkungan sekitar mengenai pentingnya menjaga kesehatan jantung. "Kalau jaraknya dekat, misalnya ke warung, tidak perlu naik motor. Jalan kaki saja. Kebiasaan kecil seperti itu bisa membantu menjaga kesehatan jantung," pungkasnya.
Simak Video "Video: Ortu Wajib Tahu! Ini Tanda Penyakit Jantung Bawaan yang Gampang Dikenali"
(ral/dir)