Namanya Gina Rahmaniyyah, seorang mahasiswi penyandang disabilitas netra di Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran (Unpad).
Gina merupakan mahasiswa baru Unpad angkatan 2026. Perempuan asal Kabupaten Bandung ini memiliki tujuan mulia untuk memperjuangkan kesejahteraan penyandang disabilitas.
detikJabar berkesempatan berbincang dengan Gina, anak pertama dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Deni dan Siti itu mengisahkan, tidak mudah untuk dapat lolos ke perguruan tinggi sekelas Unpad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perjalanannya tidak mudah karena saya harus menghadapi ujian yang di mana website dari ujian tersebut tidak bisa diakses dengan pembaca layar (screen reader). Untuk itu saya harus meminta izin agar diperbolehkan didampingi untuk membacakan soal-soal ujian," kata alumni SLBN A Pajajaran Kota Bandung itu, belum lama ini.
Meski sempat menemukan kendala, warga Baleendah itu mengaku bahagia bisa masuk ke perguruan tinggi impiannya.
"Perasaannya senang sekali dan saya sangat bersyukur karena di sini saya bisa membangun jejaring dan juga membuka pintu-pintu kesempatan untuk mengembangkan potensi diri," ujarnya.
Gina mengungkapkan terkait persiapan mental, dia sudah mengetahui risikonya ketika bergabung dengan teman-teman yang sebagian mungkin masih awam mengenai disabilitas. Dia juga menyampaikan bahwa dirinya telah bersiap menghadapi segala konsekuensi yang ada serta sudah merencanakan langkah-langkah untuk beradaptasi.
"Tetapi yang paling berat adalah persiapan bagaimana saya harus berorientasi, menavigasi lingkungan dalam keadaan geografis Universitas Padjadjaran," ungkapnya.
Saat ini, Gina tinggal di Asrama Bale Wilasa milik Unpad yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Menurut Gina, di asrama itu dia juga tinggal dengan seorang penyandang disabilitas.
"Ada. Teman disabilitas dari pengguna kursi roda," ucapnya.
Ingin Sekolah Setinggi-tingginya
Menurutnya, bahwa cita-citanya saat ini masih belum terlalu jelas, tetapi ia memiliki idealisme tersendiri dalam menjalani hidup. Ia ingin bisa menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain, baik untuk sesama penyandang disabilitas maupun masyarakat pada umumnya.
"Dalam pengabdiannya seperti apa saja, saya juga jujur masih belum tahu karena masih pencarian. Tapi saya berminat untuk sekolah dulu aja setinggi-tingginya," tuturnya.
Namun sebagai penyandang disabilitas, Gina memiliki sudut pandang soal inklusivitas. Berdasarkan pengalaman langsung bahwa inklusivitas harus bersifat fleksibel dan konteksnya disesuaikan dengan ruang lingkup yang sedang dibicarakan, seperti memfokuskan pembahasan pada SLB saat berada di lingkungan SLB atau fokus pada sekolah umum saat membahas konteks sekolah tersebut.
"Jadi menurut saya inklusivitas itu harus fleksibel. Kita memang setara, tapi ada beberapa kondisi yang memang memerlukan penanganan khusus dan itu tuh tidak bisa istilahnya digabung-gabungkan gitu. Jadi menurut saya kalau melihat inklusivitas, itu tergantung kita memaknainya seperti apa," tuturnya.
Gina mengajak kepada para penyandang disabilitas agar giat belajar dan mengejar mimpi setinggi-tingginya.
"Untuk teman-teman, kalau ingin bersekolah, bersekolah saja, di mana saja. Silakan mencoba dan jangan takut gagal," ujarnya.
"Kita pasti akan ada jalan keluarnya. Dan kalau menurut pendapat pribadi saya, kalau ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas, lihat dulu tempatnya bagaimana rekam jejaknya, seperti itu," pungkasnya.
(wip/sud)
