Tubuh yang tampak sehat dan bugar tidak selalu terbebas dari risiko penyakit serius. Stroke dan penyakit jantung dapat menyerang secara tiba-tiba, bahkan pada orang yang rutin berolahraga, aktif bergerak, dan tidak memiliki keluhan kesehatan.
Kondisi tersebut dialami Alison Reidy, perempuan asal Darwin, Australia. Alison dikenal sebagai sosok yang aktif dan bugar. Ia bahkan baru saja mencatatkan waktu terbaik pribadinya dalam ajang lari Parkrun sebelum mengalami stroke pada Februari 2022.
Mengutip Stroke Foundation, Alison sempat mengalami sakit kepala berkepanjangan, kelelahan, dan pusing. Ia kemudian memutuskan memeriksakan diri ke dokter umum. Namun, saat menunggu giliran pemeriksaan, ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan penglihatan pada mata kiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim medis segera membawanya ke unit gawat darurat. Di sana, dokter memastikan Alison mengalami stroke.
"Itu adalah masa yang sangat sulit di rumah sakit. Saya mengalami masalah afasia, mobilitas, dan kognitif, serta insomnia. Saya juga merasa sangat kesepian. Karena pembatasan COVID-19, saya tidak mendapat kunjungan selama 10 hari," kata Alison.
Alison menjalani rehabilitasi di rumah sakit. Namun, dokter spesialis menilai program tersebut tidak lagi memberikan perkembangan yang signifikan.
Empat hari kemudian, Alison meminta izin untuk melanjutkan rehabilitasi secara mandiri di rumah. Hingga dua setengah tahun setelah stroke, ia masih menjalani latihan rehabilitasi setiap hari.
"Dukungan dan kasih sayang dari keluarga sangat berarti bagi saya. Ada hari-hari yang baik dan buruk, tetapi saya sangat beruntung masih berada di sini dan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan saya sendiri. Saya belajar menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda dan mengatasi dampak 'tak terlihat' akibat stroke," ujarnya.
Mengapa Orang yang Terlihat Sehat Bisa Mengalami Stroke?
Kasus Alison menunjukkan bahwa stroke tidak hanya menyerang orang lanjut usia atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Dr. Clare Walton dari Stroke Association mengatakan, siapa pun tetap memiliki risiko mengalami stroke, termasuk orang yang menjalani gaya hidup sehat.
"Menurut saya, merupakan kesalahpahaman umum bahwa stroke hanya merupakan kondisi yang dialami oleh orang lanjut usia. Seperempat kasus stroke terjadi pada orang usia produktif, sementara anak-anak dan bayi juga dapat mengalami stroke," ujarnya, dikutip dari BBC.
"Setiap orang perlu menyadari bahwa mereka memiliki risiko mengalami stroke, bukan hanya ketika memasuki usia lanjut."
Stroke terjadi ketika aliran darah menuju otak terganggu sehingga otak kekurangan oksigen. Kondisi tersebut dapat muncul akibat penyumbatan pembuluh darah oleh gumpalan darah atau pecahnya pembuluh darah di otak.
Faktor Risiko Stroke
Berbagai kebiasaan sehari-hari dapat meningkatkan risiko stroke dalam jangka panjang. Merokok, kelebihan berat badan terutama di area perut, serta konsumsi alkohol berlebihan tidak langsung menyebabkan stroke. Namun, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko secara bertahap seiring waktu.
Penyebab Stroke pada Orang Muda dan Bugar
Selain faktor gaya hidup, sejumlah kondisi medis juga dapat memicu stroke pada orang yang masih muda dan terlihat sehat.
Stroke hemoragik, misalnya, dapat terjadi akibat kelainan pembuluh darah bawaan yang selama bertahun-tahun tidak menimbulkan gejala. Salah satunya adalah arteriovenous malformation (AVM), yaitu kondisi ketika pembuluh arteri terhubung langsung dengan pembuluh vena. Kelainan tersebut dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah hingga akhirnya pecah dan menyebabkan perdarahan di otak.
Lonjakan tekanan darah secara tiba-tiba juga dapat memicu stroke, terutama pada penderita hipertensi. Selain itu, stres dapat meningkatkan tekanan darah dan diduga ikut berkontribusi terhadap risiko stroke. Sementara itu, bukti ilmiah mengenai konsumsi kopi dalam jumlah besar terhadap risiko stroke masih menunjukkan hasil yang beragam.
Gangguan irama jantung atau fibrilasi atrium juga dapat menyebabkan stroke iskemik. Pada kondisi tersebut, jantung berdetak sangat cepat dan tidak teratur sehingga darah tidak mengalir secara optimal. Darah yang menggenang dapat membentuk gumpalan, lalu terbawa ke otak dan memicu stroke.
Faktor genetik juga berperan. Sebagian orang memiliki risiko stroke yang lebih tinggi karena riwayat penyakit dalam keluarga.
Stroke merupakan kondisi darurat medis. Jika muncul dugaan stroke, segera cari pertolongan medis. Diagnosis dan penanganan yang cepat dapat membantu mengurangi risiko kerusakan otak yang lebih berat.
Penyakit Jantung Juga Bisa Menyerang Orang yang Tampak Sehat
Risiko penyakit jantung juga tidak selalu terlihat dari kondisi fisik seseorang. Orang yang tampak sehat dan aktif tetap dapat mengalami gangguan jantung secara mendadak.
Hal itu dialami Brandon Whitfield, pria asal Charlotte, North Carolina, Amerika Serikat. Sekitar setahun lalu, saat menikmati kue wortel sambil menonton pertandingan hoki di tempat tidur, kondisinya tiba-tiba memburuk.
"Di tengah percakapan, saya tiba-tiba mulai terkulai," kata Brandon kepada WSCOTV, dikutip dari Prevention.
Saat itu Brandon baru berusia 39 tahun. Pengalamannya menunjukkan bahwa usia muda dan tubuh yang bugar bukan jaminan seseorang terbebas dari penyakit jantung.
Istrinya, Angela Whitfield, yang bekerja sebagai physician assistant atau asisten dokter, awalnya mengira Brandon sedang bercanda. Namun, beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa suaminya mengalami kondisi darurat.
"Saya membutuhkan waktu sekitar 5-10 detik untuk menyadari bahwa ini adalah keadaan darurat. Entah bagaimana, jujur saja, berkat pertolongan Tuhan, saya langsung bertindak," ujar Angela.
Penyakit jantung sendiri mencakup berbagai gangguan yang menyerang jantung. Salah satu yang paling sering terjadi ialah penyakit arteri koroner atau coronary artery disease (CAD), yang dikenal sebagai penyakit jantung koroner.
Penyakit tersebut menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang memasok darah ke jantung sehingga meningkatkan risiko serangan jantung. Gangguan jantung juga dapat menyerang otot jantung, katup jantung, maupun sistem kelistrikan jantung.
Mengapa Orang Sehat Bisa Mengalami Penyakit Jantung?
Spesialis bedah toraks dan kardiovaskular, dr. Sugisman, SpBTKV, menjelaskan bahwa penyakit jantung mendadak umumnya berhubungan dengan gangguan jantung yang sudah ada sebelumnya, tetapi belum terdeteksi.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjalani medical check up (MCU) secara rutin untuk mengetahui kondisi kesehatan, termasuk kesehatan jantung.
"Jadi kita nggak pernah tahu apa yang menyebabkan dia meninggal selama kita tidak tahu historisnya ya. Apalagi di usia-usia muda saat ini. Makanya di situ perlunya kita melakukan medical check up terhadap tubuh kita," kata dr. Sugisman dalam tayangan detikSore, Selasa (28/10/2025).
"Karena kadang-kadang kita ini manusia mungkin punya ibaratnya denial terhadap penyakit. Tidak merasa sakit. Memang kadang-kadang penyakit itu dia bersifat silent ya," sambungnya.
Menurut dr. Sugisman, terdapat dua kondisi kardiovaskular yang paling sering memicu kematian mendadak, yaitu stroke perdarahan dan serangan jantung mendadak. Serangan jantung dapat dipicu oleh penyumbatan pembuluh darah koroner maupun gangguan irama jantung.
Meski demikian, pola makan sehat dan olahraga rutin tetap berperan penting dalam membantu menurunkan risiko penyakit jantung. Pemeriksaan kesehatan berkala juga dapat mendeteksi faktor risiko maupun gangguan kesehatan sebelum menimbulkan gejala.
"Dilakukan medical check up mungkin setiap tahun secara berkala. Meliputi mungkin pemeriksaan darah, pemeriksaan tekanan darah, dan pemeriksaan hal-hal lain yang dianggap perlu, yang bisa di follow up kalau memang ada tanda-tanda yang perlu perhatian khusus terhadap hasil medical check up tersebut," tandasnya.
Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.
