Kota Bandung punya segudang taman tematik yang tersebar di sejumlah kawasan. Tak hanya menjadi ruang publik, keberadaan taman-taman itu juga menghadirkan ruang hijau di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Metropolitan.
Sejumlah taman yang namanya hingga kini masih tenar di antaranya Taman Film, Taman Lansia, Taman Super Hero, hingga Taman Jomblo. Diresmikan pada era Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, taman-taman tersebut sempat menjadi magnet bagi warga maupun wisatawan untuk menikmati suasana Kota Kembang.
Namun, di antara sekian banyak taman yang menghiasi Kota Bandung, ada satu fasilitas publik yang kini seolah mulai dilupakan. Taman itu bernama Taman Pers Malabar, yang diresmikan pada 2015 silam.
Berdasarkan penelusuran detikJabar, Taman Pers Malabar saat itu dibangun dengan anggaran hampir Rp 1 miliar, tepatnya Rp 981,7 juta. Kehadirannya sekaligus menata kembali kawasan di Jalan Malabar yang sebelumnya sempat terbengkalai.
Tak sekadar menjadi ruang terbuka hijau, taman tersebut sejak awal memang disiapkan untuk menunjang aktivitas para wartawan. Di tempat itu, para kuli tinta diharapkan memiliki ruang untuk bertukar gagasan, berdiskusi, hingga menyusun berita sembari menikmati suasana sejuk di bawah rindangnya pepohonan.
Namun, seiring berjalannya waktu, riwayat Taman Pers Malabar seolah perlahan ditinggalkan. Ruang yang dahulu disiapkan sebagai tempat berkumpul dan bertukar gagasan para wartawan itu kini menghadapi cerita yang berbeda.
Saat detikJabar menyambangi lokasi, Selasa (28/7/2026), Taman Pers Malabar memang masih ramai didatangi sejumlah orang. Tenda-tenda PKL berwarna biru dan merah berjejer rapi, dengan beragam makanan ditawarkan untuk mengisi perut warga yang datang saat jam istirahat.
Suasana ini membuat taman sejenak tampak hidup dengan keramaian Namun, ketika jam istirahat berakhir, kerumunan pun mulai surut. Satu per satu orang meninggalkan kawasan tersebut.
Taman Pers Malabar selanjutnya nampak kembali lengang. Hanya tersisa satu-dua orang yang datang untuk sekadar nongkrong dan berbincang. Di antara rindangnya pepohonan dan bangku-bangku taman, ruang yang dahulu digagas sebagai tempat para wartawan bertukar pikiran itu kini menjalani hari-harinya dengan suasana yang jauh lebih sunyi.
Kondisi ini pun turut dirasakan beberapa pedagang di Taman Pers Malabar. Keramaian sesaat itu tentu membawa kerugian karena pemasukan pedagang yang tak pasti setiap harinya.
"Kalau lagi ramai mah, ya ramai kayak gini, a. Cuma udah gitu balik lagi, sepi," kata Hendra, saat berbincang dengan detikJabar.
Baca juga: Bandung yang Diramaikan Proyek Pembangunan |
Bagi dia, Taman Pers Malabar sebetulnya jadi area yang strategis untuk mengundang pengunjung. Areanya teduh dengan pepohonan rindang, dan di lokasi ini relatif jarang terjadi kemacetan.
Namun entah mengapa, Taman Pers Malabar seakan ditinggalkan begitu saja. Apalagi, semenjak diresmikan, Taman Pers Malabar seakan jauh dari sentuhan perawatan.
"Kalau bisa sih perawatannya lebih ditingkatin lagi, yah, a. Soalnya sayang, fasilitas sebagus ini tapi enggak dirawat. Kalau dimanfaatin kan bisa lebih bagus lagi, pedagang yang jualan juga pasti kebantu," ucapnya.
Penelusuran detikJabar, Taman Pers Malabar sudah dua kali mendapat perawatan pada 2022 dan 2023. Setiap tahunnya, anggaran yang digelontorkan saat itu mencapai Rp 100 juta.
Namun setelah itu, tak ada perawatan kembali di Taman Pers Malabar. Sejumlah fasilitasnya bahkan berdebu dan dipenuhi dengan coretan vandalisme.
Di Taman Pers Malabar, ada 3 area tempat duduk yang bisa dinikmati publik. Lalu, ada area terbuka yang dimanfaatkan untuk berkumpul dan berdiskusi, plus area taman bermain untuk anak-anak.
Resti (24), salah seorang pengunjung pun ikut menyayangkan keadaan Taman Pers Malabar. Menurutnya, jika area itu bisa mendapat perawatan, orang-orang tentu akan lebih betah datang dan menikmati suasana di sana.
"Sayang banget atuh, kak. Kalau aja dibenahi, ramai pasti. Tinggal dibenahi aja sebetulnya, soalnya di sini yang saya rasain adem banget kalau jadi tempat nongkrong," harapnya.
Simak Video "Video: Akui Jakarta Kekurangan RPTRA, Ini Solusi dari Pramono"
(ral/dir)