Dokter Ingatkan Bahaya Diet Ekstrem, Berat Badan Berisiko Naik Lagi

Dokter Ingatkan Bahaya Diet Ekstrem, Berat Badan Berisiko Naik Lagi

detikHealth - detikJabar
Minggu, 19 Jul 2026 09:00 WIB
Ilustrasi diet
Ilustrasi diet. Foto: Getty Images/EyeEm Mobile GmbH
Jakarta -

Keinginan menurunkan berat badan dalam waktu singkat masih mendorong banyak orang menjalani pola diet ekstrem. Padahal, cara tersebut tidak selalu menghasilkan penurunan berat badan yang sehat. Pembatasan kalori secara berlebihan justru dapat memicu stres, memperlambat metabolisme, hingga menyebabkan efek yoyo atau rebound, yakni berat badan kembali naik bahkan melebihi kondisi sebelum diet.

Spesialis Gizi Klinik, dr Christopher Andrian, MGizi, SpGK, mengatakan kesalahan terbesar yang masih banyak terjadi adalah anggapan bahwa semakin sedikit makan dan semakin berat berolahraga, semakin cepat pula berat badan turun.

"Banyakan orang diet itu sekarang mau turun secepat-cepatnya. Cepat ekstrem. Jadi dia makan sedikit-dikitnya, olahraga seheboh-hebohnya dengan anggapan restriksi kalori terjadi di situ. Nah mungkin kondisi kayak gitu itu penurunan berat badan akan cepat turun. Tapi dominan yang turun itu mayoritas adalah air, otot yang hilang, lemak juga ada. Tapi itu biasanya sifatnya tidak permanen," papar dr Christopher saat ditemui di Dermaster Gizi Jakarta Selatan, Rabu (8/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, penurunan massa otot dan cairan tubuh secara drastis membuat metabolisme melambat. Kondisi tersebut sering memicu fase stuck atau berat badan sulit turun, yang kemudian membuat pelaku diet merasa frustrasi dan kembali ke pola makan sebelumnya.

ADVERTISEMENT

"Nah kondisi kayak gitulah yang makanya kadang-kadang orang sering stuck. Cepat turun, tiba-tiba stuck, abis itu dia stress, abis itu dia rebound, naik lagi. Kan banyak tuh kayak gitu. Ujung-ujungnya yang terjadi apa? Turunnya 3 kilo, naiknya 5 kilo. Turun lagi 3 kilo lagi, naik lagi 5 kilo. Makanya berat badannya terus seperti itu," lanjutnya.

Dr Christopher menjelaskan, pembatasan kalori memang dapat menjadi bagian dari program penurunan berat badan. Namun, penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kebutuhan nutrisi setiap orang. Defisit kalori yang terlalu besar tanpa perhitungan yang tepat tidak hanya mengurangi lemak, tetapi juga menghilangkan massa otot serta zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh.

"Diet 800 kalori pun secara medis itu ada, very low calorie diet kita bilangnya. Memang ditujukan buat orang-orang yang mau cepat penurunan berat badan. Tapi ya very low calorie diet itu tidak bisa kita terapkan buat jangka panjang. Kenapa? Karena kalorinya kecil," jelas dia.

Ia menambahkan bahwa pola makan dengan kalori sangat rendah tidak dianjurkan untuk jangka panjang karena berisiko menimbulkan kekurangan zat gizi.

"Dan kalau kita terapkan buat jangka panjang, efek untuk defisiensi mikronutrien, kekurangan nutrisi dari vitamin, mineral, itu pasti akan muncul karena restriksi kalori yang terlalu besar," tandasnya.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.

(kna/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads